Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Politik’ Category

Kehadapan Yang Terhormat BAPAK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO.

 

JAYA! Sebelumnya mohon maaf bila media ini terpaksa  kami  pergunakan mengingat banyak surat yang pernah kami layangkan hingga kini tidak pernah tahu apakah sampai di tangan Bapak atau tidak. Sehingga dengan ini kami berharap  semoga saja ada angin yang membawanya ke hadapan Bapak BEYE yang kami muliakan karena berpacu dengan waktu yang  amat mendesak.

 

Sebagai anak bangsa yang terpanggil untuk ikut memenuhi Kewajiban Asasi Manusia Nusantara (KAM) merasa ikut prihatin atas sikon berbangsa & bernegara yang banyak orang mengatakan telah terjadi “Sungsang Bawana Balik”, sehingga banyak kebijakan Bapak baik selaku pribadi dan atau sebagai Presiden, Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara yang baik dan benar namun berbuah lain.

 

Sebagai anak budaya, ijinkanlah kami menyampaikan kembali bahwa bisa jadi centang perenang dalam biduk perjalanan Negeri tercinta ini secara horoscopis khas Nusantara, karena Hari Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang jatuh pada hari “JUMAT LEGI“, 8 Ramadhan 1364 H atau 9 Pasa 1876 SJ yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945 itu zodiaknya  jatuh pada ‘SATRIA WIRANG”, sehingga eksesnya seluruh Pemimpin Nusantara sejak Bung Karno hingga Pak Beye sendiri serta bangsa ini senantiasa mendapat “MALU” atau senantiasa dipermalukannya oleh berbagai sebab yang sulit untuk diurainya secara nalar.

 

Seiring dirgahayu ulang tahun Bapak LXII, pada 9 September lalu begitu banyak hadiah apapun bentuknya dari berbagai pihak, termasuk rambut para aktivis sebagai bentuk kritik, oleh karnanya kami ingin berbuat yang sama namun dengan cara budaya yang semoga saja BAPAK berkenan menerimanya antara lain :

  • Dilihat dari hari wiyosan Bapak berdasarkan hproscopis Nusantara yakni : 9 September 1949 pada Jumat Kliwon, 16 Dzulkaidah (Sela) 1368 H/1880 SJ wuku Bala, dewanaya  Bethari Durga, pohonnya Cemara, burungnya ayam hutan. Nah Tumbug ageng (64 tahun) tersebut akan  bertepatan  dengan 14 Oktober 2011. Semoga momentum yang hanya datang sekali dalam hidup itu seyogyanya  tidaklah disia – siakannya guna  mengadakan ritual atau bila perlu mengadakan ruwatan bagi Bapak.
  • Guna kejayaan Nusantara semoga Bapak berkenan pula menyempurnakan nama “INDONESIA” yang telah tercemar menjadi ‘INDONESIA NUSANTARA JAYA” sekaligus merelokasi “IBU KOTA NEGARA“, ke tempat yang paling baik apakah ke PALANGKARAYA, sebagaimana keinginan Cilik Riwut dan Bung Karno atau ke wilayah  DULANGMAS, sebagai NUCLEUS NUSANTARA. Bila ini lalai maka 10 tahun lagi, bisa jadi petaka birokrasi dan ekonomi serta lainnya akan sulit dihindarkan.
  • Berkenan untuk mempertimbangkan bersama MPR agar segera kembali pada UUD 1945 Pra Amandemen & PANCASILA mengingat telah terjadi pengkhianatan atas amanat Foundings Father utamanya BAB XVI pasal 27 tentang ‘PERUBAHAN UUD 1945″, yang pada kenyataannya digantinya dengan yang baru dimana 174 ketentuan (87,5%) adalah baru sedangkan hanya 25 ketentuan (12,5%)  asli yang dipertahankannya. Dan pembodohan dengan memberinya label “1945″ sehingga menimbulkan kerancuan, bias dan ambiguitas.Perubahan UUD 1945 tetap diberinya peluang sebagaimana amanat UUD itu sendiri namun harus tetap dalam bingkai “perfection – perfected”, dengan landasan “benar – tepat dan bersih (suci)”, karena terikat oleh Sila I, PANCASILA.
  • Perusahaan transnasional yang telah menguras habis kekayaan alam Nusantara yang bertentangan dengan UUD 1945 sudah saatnya dinasionalisasi sebagaimana kepeloporan negara kecil Venezuela & Bolevia yang telah sukses melakukannya sebagai perwujudan idiologi PANCASILA.
  • Angsuran hutang ke IMF seyogyanya tidak dilakukannya dengan alasan IMF telah melakukan moral hazard dengan harapan runtuhnya perekonomian Indonesia sehingga selamanya akan tetap bergantung pada IMF sebagaimana pengakuan jujur consultan Pemerintah Bapak John Perkin sendiri.
  • Rencana hutang baru guna menutupi devisit RAPBN 2012 hendaknya tidak dilakukan termasuk divestasi BUMN karena masih banyak alternatif lain.

Dengan cara itulah bangsa ini akan memiliki kedaulatan dan dapat mewujudkan amanat Proklamasi – Amanat Penderitaan Rakyat mewujudkan Sila V. Apa lagi adanya ancaman resesi global yang telah memporak perandakan USA dan negara – negara MEE.

Ijinkanlah kami menyunting pula permintaan  Gede Prama  saat menyampaikan Dharma santi seiring Peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930 di GOR Achmad Yani, Mabes TNI Cilangkap pada Saptu 29 Maret 2008, dia berujar : “Saya minta satu hal, bukan jatah jabatan untuk orang Bali atau desa saya. Tetapi izinkan saya meminta agar Presiden memimpin negeri ini dengan etika dan tata susila. Hanya dengan etika & tata susilalah yang bisa membawa bangsa ini berevolusi dari gelap ke terang”.

 

Demikianlah surat terbuka ini sebagai jeritan rakyat yang galau atas nasib negaranya, keunggulan komparatif seperti Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Sosial, Sumber Daya Budaya dan Sumber Daya Spiritual akan mampu menjadikan bangsa ini bangsa yang besar bangsa yang bermartabat & berdaulat dan menjadi MERCUSUAR DUNIA bukanlah utopis.

Sebagai rakyat jelata nisanya hanya bisa berdoa semoga Bapak diberi kekuatan, hidayah – inayah dan taufik – NYA dalam mengemban tugas negara yang maha berat itu. Hogore op trakking dan perfection – perfected semoga selalu terjiwai dalam menunaikan tugas mulia di sisa waktu yang ada hingga purna pada 2014 dengan selamat sentausa.

SAMPURNA/

 

Sungkem Kawula

Sriwidada Putu Gedhe Wijaya

Note : bagi kadang pembaca yang kagungan akses ke Pak Beye semoga ada keberanian untuk meneruskannya.Thanks

Karmane fa dikaraste mapalesyu kadyatjana.

Read Full Post »

SALAM BUDAYA!

JAYA! RAHAYU – WIDADA – MULYA DUNIA – AKHERAT SEMOGA TERANUGERAHKAN KEPADA KITA SEKALIAN BESERTA KULAWANGSANYA.

SAHABAT – SAHABAT KITA YANG TERMULIAKANNYA, ijinkanlah kita sebelumnya menghaturkan ‘SELAMAT ATAS DIANGKATNYA 11 MENTERI BARU DAN 13 WAKIL MENTERI” JUGA BERBAHAGIALAH YANG DICOPOT & ATAU BATAL DIDAPUK SEBAGAI PUNGGAWA, KARENA TERBEBAS DARI BEBAN DAN TANGGUNG JAWAB TERHADAP PELAKSANAAN BERBANGSA & BERNEGARA”.

Lagi – lagi angka 11 dan 13 begitu mengakrabi Pak Beye, semoga tidak menjadikan sial atas jalannya KIB II, sekalipun anugerah monumental atas peringatan ‘TUMBUG AGENG” nya pada Jumat Kliwon, 14 Oktober 2011, nampaknya tak ada denyut adanya pahargyan wiyosan ndalem Pak Beye maupun ritual yang lazim dilakukan oleh raja – raja Jawa terdahulu.

Nah kita lanjutkan bahasan di atas, kita cuplikkan dalam :

BAGIAN VII

PENYEMPURNAAN INDONESIA MENJADI INDONESIA NUSANTARA JAYA & RELOKASI IBU KOTA NEGARA TAK BISA DITAWAR – TAWAR LAGI.

A.PENYEMPURNAAN NAMA INDONESIA

Andai saja kita mau berandai – andai, ada dua peristiwa spiritual yang perlu direnungkan yakni :

1. ————————————————–

Pada zaman kuat – kuatnya rezim Pak Harto, terdapat peristiwa menggemparkan yakni R. Sawito Kartowibwo tatkala pada 1976, dia yang didukung oleh proklamator Bung Hatta dan beberapa tokoh nasional dan tokoh agamawan/rohaniawan, dengan laku hidup Pancasila, telah meminta kepada Pak Harto agar berkenan menyerahkan kembali mandataris MPR kepada Proklamator Bung Hatta, karena berdasarkan apa yang dilihatnya (clairance voyage) dan sasmita yang diterima dari Beghawan Manumayasa yang didapatnya di Gunung Rahtawu, (Gunung Muria), Jawa Tengah saat sedang mengadakan penelitian nuclear mendapat sasmita yang kurang lebihnya berbunyi sebagai berikut : “Bila Pak Harto tetap menjadi pemimpin Nusantara maka Negara akan hancur”, dan “Sira bakal nguwasani pusaraning praja adil”.

Peradilan Sawito merupakan peradilan yang terpanjang dan terlama di dunia karena sejak 1976 hingga 2000 dengan diperolehnya abolisi penghargaan HAM terhadap dirinya dari Presiden Abdurrahman Wahid dengan Kepres No. 9 tahun 2000 tertanggal 16 Juli 2000, yang dimuat di dalam Lembaran Negara. Artinya perjuangan Sawito tersebut dibenarkan oleh Pemerintah sendiri sehingga analoginya rezim Pa Hartolah yang salah telah mnyimpang dengan konstitusi dan telah menyalah gunakan kekuasaan dengan Ber – KKN ria.

Andai saja tidak ada pembisik dan lingkaran dalam Pak Harto yang akan ikut menjadi korban yang memengaruhinya bisa jadi mandataris berada di tangan Bung Hatta yang akan segera mengadakan Pemilu. Tapi nasi telah menjadi bubur dan itulah kehendak alam sehingga apa yang dilihat oleh Sawito menjadi suatu kenyataan. Oleh sebab itu Pak Harto mendapatkan TAP MPR. No. 11/1999 tentang pemberantasan Korupsi. ————————————————-

2.————————————————————————————

Menjelang musibah maha dahsyat tsunami di NAD, ada seorang spiritualis yang bermukim di Semarang telah menyampaikan surat kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, dihimbau agar berkenan melakukan upacara ritual – ruwatan Nusantara guna mencegah berbagai bencana yang akan timbul dan masih diingatkannya bila tidak dilaksanakan maka akan terjadi berbagai bencana hingga 2007. Hal tersebut diketahui setelah selang beberpa waktu, Tuti Aditama dalam bedah editorial Metro TV, menyampaikan bahwa tindasan surat yang ditujukan ke Metro TV diterimanya pula. Nah nasi pun telah menjadi bubur, andai saja SBY dan atau jamaah dzikirnya peka dan dapat menerimanya tentu kadaan sungsang bawana balik tidak perlu terjadi. Tapi lagi – lagi itulah nasib bagi bangsa & Negara ini yang ibaratnya sak dang – sapenginangan harus dijalaninya.

Nah seiring peristiwa banjir bandang di Wasior, Wondema, Papua Barat di timur dan banjir bandang di lima kabipaten di NAD yang bersamaan waktunya pada 4 Oktober 2010, telah mengakibatkan setidaknya 145 orang tewas dan ratusan belum ditemukannya.

Pernyatan Presiden yang sejatinya benar yakni “Walaupun banjir bandang Wasior, tidak sebedar tsunami di Aceh, atau gempa bumi di Nias, Jogya – Klaten dan Sumatera Barat, tetap kita harus menentukan “TANGGAP DARURAT”, dan kami menunda kunjungan saya ke Wasior untuk memberikan kesempatan mentrinya yang sedang di Papua Barat untuk mengumpulkan data”. Dan Pak Beye yang membatalkan kunjungannya ke negeri Kincir Angin pada 5 Oktober 2010 baru terlaksana pada 14 Oktober 2010 ke lokasi Wassior.

Nah kalimat tersebut telah menimbulkan kritik tajam dan membuat kecewa banyak pihak utamanya para korban banjir di Wasior. Nampaknya ekses sapta wisesa “SATRIA WIRANG” tetap aja melekat padanya, apa lagi setiap mengomentari terjadinya bencana alam senantiaa dikaitkannya secara saintific.

Oleh sebab itu bagaimana agar ekses “satria yang dipermalukan” tersebut tidak terus berlanjut maka buku ini hadir. Sungupun demikian Penyaji sangat menyadari tidaklah mudah memberikan referensi kepada mereka yang wawasaan spiritualimenya berbeda. Tentu usulan ini akan mendapat tentangan bagi yang kontra dan sebaliknya mendapat dukungan bagi yang pro, karena keduanya adalah adi kodrati yang saling berpasang – pasangan. Namun bila kita berkenan melakukan perenungan untuk kemaslahatan bangsa & Negara tentu mengorbankan ego kebenaran dapat disumbangkannya. Karena yang kita punyai hanyalah baru “ego”! ———————————————-

Alasannya antara lain :

Dalam kasanah budaya kearifan local terdapat semboyan bahwa “Kodrat bisa diwiradat”, (Kuasa NYA dapat diubah atas usaha dan kegigihan umat – NYA), atau nasib itu di tangan kita sendiri kecauli takdir. Para pendahulu kita memiliki resep salah satunya dengan merubah nama seperti nama Koesno karena sakit – sakitan dirubah menjadi Soekarno, sebaliknya nama Soekarno yang bernasib samadirubah menjadi Muhammad Subuh (pendiri “SUBUD” yang mendunia itu) dan seterusnya. Yang ternyata kedua nama baru tersebut mengantarkan mereka sebagai tokoh dunia!. Termasuk kota – kota di dunia nama Bombay dirubah menjadi Mumbay, Munick menjadi Munchen dll. Juga relokasi tempat ibu kota Negara seperti dilakukan oleh negeri Jiran Malay dll. Serta para pendahulu kita di zaman kerajaan dahulu.

Melihat kenyataan yang serba dipermalukan tersebut tentu merupakan kewajiban kita berusaha degan salah satunya cara mengganti nama menjadi “NUSANTARA” dan atau menyempurnaan kata “INDONESIA” menjadi “INDONESIA NUSANTARA JAYA”, karena TEKS PROKLAMASI tak dapat dinafikannya.

Dalam kalangan terbatas, konon Nama Nusantara, telah diterima oleh PBB dengan disaksikan oleh Mahkamah Internasional dan sesepuh bangsa pada 5 Mei 1955.

Kata NUSANTARA akan memberi ruang untuk tidak mudah bagi siapapun untuk melecehkan dan atau memelesetkan nama tersebut.

Dengan upaya DPR menyarankan “bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bagi DPR se – ASEAN”, maka akan lebih berkesan elegan bila menggunakan nama : “BAHASA NUSANTARA”, karena secara historis – sosiologis anggota ASEAN banyak yang merupakan bagian dari Nusantara. Setidaknya Singapura (Temasek), Malaya, Pahang, Kelang, Kedah dan lain sebagainya telah menjadi Kerajaan Malaysia, Singapura, Brunai, dan Patani yang kini merupakan wilayah Thailand juga Philipina, semua telah menjadi negara yang berdaulat, di kawasan Asia Tenggara ini. Memang di jaman Bung Karno pernah digagas terbentuknya “MAPHILINDO”, (Malaya, Philipina & Indonesia) yang gagal sekalipun MOU telah ditanda tanganinya , akibat kuatnya pengaruh Nekolim yang tidak mau Bung Karno menjadi kuat dan melaksanakan amanat Proklamasi itu.

Penamaan “NUSANTARA”, seyogyanya hanya untuk mempopulerkan bahasa pergaulan dan peradaban “ASEAN”, karena bila ini ansih dipakai guna menggantikan nama INDONESIA, kita akan mendapatkan karmanya karena sudah tersurat dan tersirat serta sekaligus disaksikan oleh Bumi & Langit Nusantara!. Oleh sebab itu cara yang bijak, bajik dan arif serta win – win solution adalah menambahkannya sehingga menjadi ‘NEGARA PROKLAMASI KESATUAN REPUBLIK INDONESIA NUSANTARA JAYA”.

Kita diingatkan dengan diberlakukannya UUD baru 2002 adanya sistem liberalistic telah banyak memakan korban setidaknya tragedy meninggalnya Sang Ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Azis Angkat saat berlangsung sidang pleno DPRD Sumatera Utara. Gara – gara tidak mengagendakan tuntutan sebagian masyarakat atas usulan pemekaran wilayah, yang berbuah tragedy pada 3 Februari 2009.

Dan menyusul 21 anak bangsa di Kabupaten Puncak Jaya meregang nyawa pada 31 Juli 2011 saat penolakan oleh KPUD terhadap salah satu pasangan balon bupati Puncak yang ironisnya dilakukan sesama warga Partai Gerinda karena sudah ada balon yang telah lebih dahulu mendaftarkan dirinya dari Partai Gerindra. Juga gedung DPRD dan kantor Bupati serta fasilitas kendaraan Pemda Buton Utara menjadi abu gara – gara warga kesal karena elit Pemda masih tidak mau segera pindah juga ke ibu kota yang baru. Isteri – isteri mantan bupati menggantikan kedudukannya, oligarki kekuasaan tak dapat dielakkannya dan persaingannya semakin seru.

Disamping ancaman raibnya Selat Malaka yang telah diadukan oleh Kerajaan Diraja Malaysia ke Mahkamah Internasional di Denhaag, menyusul nasib Sipadan & Ligitan kini Papua Barat dalam kondisi menyedihkan sekali, disamping masyarakatnya yang termarginalkan di tengah pengurasan tambang tembaga, emas bahkan uranium yang justru dinikmati oleh negeri kapitalistik Amerika Serikat kini mereka berjuang dengan menggandeng LSM di USA, Inggris, Belanda dll. Untuk memberi dukungan dalam rangka memperoleh kemerdekaannya. Disintegrasi bangsa kembali menantinya.

Sementara Pemerintah Pusat nampaknya masih saja tertidur tidak ada upaya preventif sama sekali. Sugguh ironis, inilah buah dari liberalisasi partai politik dan otonomi khusus itu. Di hari yang sama 4 orang ditembak mati termasuk seorang anggota TNI di Abepura. Dan pembunuhan anggota TNI masih saja berlanjut di sana. Quovadis bangsaku. Bahkan ribuan karyawaan Freeport yang menuntut haknya atas teka home pay agar disamakan dengan karyawan Freeport di belahan dunia lain pun begitu alotnya bahkan seorang nyawa karyawan telah tewas menjadi martir.

Nah dengan menyumbangkan ego kita dengan menerima penyempurnaan nama tersebut menjadi “INDONESIA NUSANTARA JAYA”, semoga saja kita telah dianggap mencicil atau mengangsur hutang – hutang kita kepada Persada BUNDA PERTIWI dan para pendahulu kita yang telah mewasiatkan dan mewariskan serta mengamanatkan dan mengamanahkan kepada generasi saat ini. Karena kitalah generasi penerus jangan sampai dicap sebagai ‘GENERASI DURHAKA”. Semoga!

Sebagai tambahan mengapa perlu ditegaskan dengan nama tambahan “Proklamasi”, karena dengan itu menjadi jelas dan pembeda bahwa dasar Negara “PANCASILA” merupakan satu kesatuan yang utuh karena pada kenyataannya dengan istilah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu menimbulkan bias dasarnya apa ? satu sisi syaraeat agama secara sporadic dipaksakan agar suatu ketika dapat menggantikan PANCASILA. Di sisi yang lain ada kesepakatan antar lembaga Negara, untuk tetap mempertahankan empat pilar dalam berbangsa & bernegara yakni :

(1). NKRI

(2). Pancasila

(3). UUD 1945 dan

(4). Bhinneka tunggal ika.

Nah telah disinggung di atas ke empat pilar inipun secara substantif penuh dengan ambiguitas setidaknya UUD 1945 yang mana yang pra amandemen ataukah UUD 2002 yang baru ?. Kemudian kata “KESATUAN” , sebagai wujud paham Negara Persatuan yang termuat didalam BeritaR.I. Thaun II No. 7 bahwa bangsa Indonesia mendirikan Negara Indonesia digunakan aliran pengertian “Negara Persatuan” yaitu Negara yang mengatasi segala paham golongan & paham perseorangan. Jadi Negara Kesatuan bukanlah Negara yang berdasarkan individualime seagaimana Negara – Negara Barat yang liberalistic. Negara hanya merupakan ikatan individu saja. Oleh karnanya persatuan dan kesatuan adalah mutlak bagi bangsa yang majemuk yang plural yang berbihinneka , e pluribus unum atau unitas in plurifate sebagai multi kulturalisme sebagai adi kodrati bangsa Nusantara ini.

BERSAMBUNG//SAMPURNA

Read Full Post »

Tulisan di bawah ini dimuat dalam KORAN SIAR pada edisi xxv tanggal 20 April s/d 12 Mei 2010. Disajikan bagi para  pembaca budiman / budiwati  yang ingin mengkajinya.

Program 100 hari Presiden SBY dengan KIB Jilid II yang berakhir bertepatan pada 28 Januari 2010 ternyata justru menuai berbagai anomaly dan silang sengkaruk dimana “kerbau Si Bu Ya” sempat menjadi bintang parlemen jalanan. Semua ini nampaknya berpotensi melahirkan apatisme warga bangsa dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap Pemerintahan SBY, manakala tidak disikapi dan disiasatinya segera.

 

Bangsa ini kini seolah menjadi vatigo karena energinya dihabiskan atas berbagai kasus yang mengharu buru nurani ini sejak kasus Prita Mulyasari yang membuahkan rasa kolektivisme seluruh unsur bangsa dengan sumbangan “coin”nya, kemudian Mpok Minah yang mengambil beberapa buah cokelat untuk benih yang harus dimeja hijaukan, dua warga Kediri yang mengambil sebijii buah semangka, mengalami nasib yang sama kemudian diikuti adanya kriminalisasi pentolan KPK dari Antasari Ahzar yang dituduh membunuh Nasruddin, direktur PT. Rajawali Banjaran, hingga menjalar pada Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah versus Annggodo Wijoyo yang melibatkan berbagai aparat penegak hukum sehingga muncul slogan “Cicak versus Buaya (dan Godzella)”,setelah mafia kasus hukum dan keadilantersebut disusul adanya “mafia istana penjara” yang menempatkan Neng Ayin dan Ratu Narkoba sebagai “quen” yang didayang – dayangi oleh abdi Negara, PNS di lembaga pemasyarakatan Pondok Bambu tersebut. Juga kasus fenomenal yang menguras adrenalin yakni “Century Gate” yang menghadirkan efek domino, satu sisi terjadinya perpecahan koalisastor pendukung Partai Demokrat, di sisi yang lain Fraksi Partai Demokrat dan koalisator setyanya ingin menciptakan formula baru yakni  opsi “oplosan antara madu dengan racun atau yang haq dengan yang batil” untuk dijadikan alternative solusi menjelang penutupan sidang umum DPR, juga merebaknya  kubu yang berseberangan yakni antara Pansus Century Gate DPR RI versus Presiden SBY. Kasus itu belum reda telah terjadi penembakan terhadap rakyat yang menuntut hak atas tanah di Banyuasin, Palembang dan terbunuh serta tertangkapnya beberapa gembong teroris. Tiba – tiba menyeruak pula adanya “mafia pajak” yang dihembuskan oleh bintang dan ikon tahun 2010 yakni Komjen Susno Duaji, dimana pelakunya (yang sedang sial) yakni Gayus Halomoan Perjuangan Tambunan yang tidak bekerja sendiri yang lagi – lagi juga melibatkan aparat penegak hukum. Kasus yang menghebohkan itu masih ditambah lagi oleh Hakim PTUN Jakarta, yang tertangkap tangan oleh KPK sedang menerima upeti dari salah seorang pengacara.Juga tak kalah mengharukan adanya dua janda nenek renta Ibu Sutarti Soekarno dan Ibu Husaini dimana almarhum suaminya sebagai pensiunan pegawai Perum Pegadaian yangh sebelumnya sebagai pejuang dan penerima Bintang Satya Lencana Aksi Militer I dan Aksi Militer II, harus menjadi pesakitan pula. Dan mungkin berbagai episode berikutnya makin seru karena ibarat gunung es telah mulai terkena pemanasan global, yang satu – satu pelakunya akan bersolek dan bernyanyi sebagai tumbal – tumbal baru berikutnya.

 

Belum lagi deraan bencana alam seperti tanah longsor di Tenjalaya, Jawa Barat dan pada  minggu III & IV Maret ini saja telah terjadi banjir bandang baik di Bandung Selatan dan Rancaengkek Bandung , Krawang, Purwakarta, Sumatera Barat, Aceh Barat, Luwu Barat, Mandailing Natal, Sumatera Utara bahkan Wonogiri. Waduk Jati Luhur dan Gajah Mungkur tak lagi mampu menampung debit air sehingga memuntahkannya kembali ke berbagai daratan yang lebih rendah. Disamping itu instensitas kebakaran pun tahun ini luar biasa serta yang mendirikan bulu kuduk tiada hari tanpa adanya “anarkisme” yang terjadi di seluruh pelosok Nusantara di tengah kesulitan ekonomi warga dan juga pelaku usaha akibat telah diberlakukannya “Perdagangan Bebas dengan China” mulai 1 Januari 2010, dan lain sebagainya. Centang perenang ini bila tiada upaya revolutif berpotensi mengubur Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia.

 

DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA

 

Adanya mafoioso peradilan, mafia kasus hukum dan keadilan, mafia pajak, mafia istana penjara, mafia surat tanah, mafia SIM, mafia KTP, mafia penerimaan secaba – secapa dan CPNS serta jabatan,  mafia perizinan dan seribu satu mafia lainnya, menjadikan hidup ini tak lagi apa adanya karena semua harus mengikuti scenario para actor. Maka wasiat PM. Gajah Mada yang menyatakan : Katakanlah benar yang sebenarnya.Katakanlah salah yang sebenarnya.Sabda Pandita – Ratu.Karena Manusia adalah sempurna”, sama sekali tidaklah berlaku. Bahkan dikuatkan pula dalam QS : An – Kabut (2) ayat 64 : “Kehidupan di dunia itu tidak lebih dari permainan dan senda gurau, hanya di kampong akheratlah kehidupan yang sempurna”.

Oleh penyanyi rocker Ian Antono diterjemahkannya ke dalam lagu bergenre rock dengan judul “Dunia ini panggung sandiwara” yang dipopulerkan oleh  penyanyi krebo Ahmad Akbar.

 

Oleh sebab itu akan menjadi bijak & bajik bila  kita mulai saat ini dapat menjadikan diri kita sebagai actor dan aktris dalam Panggung Alam Semesta Raya” ini menjadi pelaku yang baik, benar, tepat dan bersih (suci)” sehingga kelaknya kita dapat karcis masuk untuk memasuki kawasan idola manusia, yakni Kampung Akherat syukur – syukur diperbolehkan indecost kalau belum berhak memiliki kaplingnya sendiri di sana. Semoga!.

 

SENJAKALANING NEGARA PROKLAMASI

 

Ultra krisis dimensional ini semakin menggurita dan begitu sulitnya bangsa ini melepaskan diri dari belitan krisis. Krisis nurani telah melahirkan multi krisis dimensional. Masyarakat disuguhi acara debat bukan acara bagaimana bermusyawarah yang dijiwai oleh “hikmah kebijaksanaan” sebagai pimpinannya, sesuai ajaran Islam. Bung Karno telah mengaplikasikan “demokrasi terpimpin” atau “guided democracy”  sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Dan seharusnya kita sangat bersyukur keharibaan – NYA karena melalui founding fathers, telah dianugerahi “enlightening – pencerahan”, bila Bung Hatta ingin mewujudkan kerajaan Allah di Bumi Pertiwi ini dan Bung Karno ingin mewujudkan dunia baru yang bebas dari segala bentuk penghisapan dan penindasan antar bangsa dan antar manusia, sehingga bersama – sama para pendiri bangsa telah mengadopsi ajaran Islam dan agama –agama yang diakui di Indonesia sesuai “kultur – budaya asli Nusantara” bukan kultur bangsa asing, sehingga disaripatikan ke dalam PANCASILA yang dijadikan dasar Negara, pandangan hidup bangsa, filosofi bangsa, alat perekat bangsa, alat pemersatu bangsa, sumber tertib hukum dalam berbangsa dan bernegara yang sekaligus justru merupakan “measurement tool, measurement quality atau alat ukur dalam berbangsa dan bernegara” (Ref. Sila II). Pancasila yang intinya adalah ajaran “Memanusiakan – manusia” itu telah dijadikan azas idiologis – moral – spiritual bangsa dimana juklaknya telah  diamanatkan dalam UUD 1945 sebagai azas konstitusional dalam menata laksanakan pemerintahan.

 

Maka dalam pasal 29 ayat 1 dinyatakan bahwa : “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jadi amatlah naïf bila ada anak bangsa yang menyatakan bahwa NKRI ini adalah sekulerisme. Untuk mewujudkan adanya kesetaraan – keadilan – demokrasi maka ditetapkan bahwa : “Negara berdasarkan hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan. Dan sebagai sujud syukur dan kebaktian terhadap Sang Khaliq yang telah menganugerahi bumi dan langit serta laut Nusantara yang amat subur makmur ini, maka telah diamanatkan dalam pasal 33. Founding Fathers adalah orang – orang yang bijak, bajik dan arif yang senantiasa tercerahi oleh Kemaha Hadiran –NYA sehingga mereka merasa masih banyak kekurangan karena UUD hanya diselesaikan kurang dari 3 bulan dan dalam situasi menjelang berakhirnya Perang Dunia II sehingga dalam BAB XVI pasal 37 memberikan amanat adanya “PERUBAHAN”.

 

Kemerdekaan bangsa dan Negara ditebus dengan segala pengorbanan. Segalanya dipersembahkannya jangankan waktu, kesenangan, harta bahkan darah dan nyawanya pun mereka korbankan demi tercapai & tegaknya “kemerdekaan”.

Ibarat Nusantara ini telah dibasuh dan disucikan dengan darah para pejuang, para pahalawan dan para syuhada sehingga TUHAN telah menganugerahinya dengan berkat dan rahmat – NYA berdirinya ”Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia”.

Maka bangsa ini seharusnya pandai mensyukuri anugerah Tuhan Seru Sekalian Alam tersebut karena hanya Indonesialah  satu – satunya Negara di kolong langit itu yang memenangkan pergumulan atas The right of self determination” memerdekakan dirinya, karena sehebat – hebatnya Liew Kwan Yew yang menjadikannya PM. Singapura adalah Inggris, sehebat – hebatnya Jawaharlal Nehru yang menjadikannya ia PM. India adalah Inggris namun sejelek – jeleknya Bangsa Indonesia yang mengangkat Bung Karno – Bung Hatta  menjadi Presiden dan Wakil Presiden R. I adalah bangsanya sendiri bukan oleh siapapun juga.

 

Dan Indonesia – Nusantara ini menurut penelitian para ahli merupakan reinkarnasi dari Benua Atlantic yang hilang yang terkenal dengan peradaban yang tetinggi di dunia itu adalah merupakan gudangnya budaya.. Oleh sebab itu tidaklah elok dalam berbangsa & bernegara kita menjiplak budaya asing! Dan menafikan budaya sendiri. Kita harus ingat tuntutan kodratinya bahwa bangsa & Negara yang tertaburi jamrut di Katulistiwa ini hanya bisa ditata –kelola dengan tiga landasan yakni “Filosofi, Religi  dan Iptek (watenschap) ”.

 

Maka bisa jadi mengapa Bung Karno dengan lantangnya menyatakan bahwa “INDONESIA AKAN MENJADI MERCUSUAR DUNIA !”.

Bukankah di negeri ini berlimpah ruah seperti sumber  daya alam, sumber daya social, sumber daya hayati, sumber daya budaya, sumber daya spiritual dan sumber daya manusia ?.

Disebut Swarnabhumi karena kita memberikan emas kepada bangsa lain, pun juga disebut sebagai Djawa Dwipa karena kita memberikan gandum kepada bangsa –bangsa lain.

       

Maka Bung Karno mengingatkan kepada bangsa ini : ”Karena itu saudara – saudara, buat sekali dan seterusnya, berpeganglah teguh kepada dasar Nasional itu, seperti dulu kamu berpegang teguh kepadanya di saat Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945! (Pidato Kenegaraan 17 Agustus 1953, DBR jilid II hal.176).

 

Bahkan dalam  pidatonya 6 Desember 1965 di hadapan Pembukaan sidang X Gabungan Pimpinan MPRS di Istana Negara. Judul pidatonya saja ”Bangsa Indonesia Jangan Sampai Merobek – Robek Dirinya Sendiri”. Beliau memperingatkan bahwa : A nation devided against itself”. Yakni kalau satu bangsa gontok – gontakan, seperti merobek robek dadanya sendiri, bangsa yang demikian itu tidak bisa berdiri. Bila hanya sekedar ”Nation devided” …. wah bukan main semangat nasionalismenya, makin meningkat & naik.”. Kita bisa berkaca pada Vietnam, Korea baik yang Utara maupun yang Selatan, rakyatnya tidak devided itself, against themselves,tidak! Oleh sebab itu mengapa Bung Karno sangat gandrung terhadap ”persatuan & kesatuan” bangsanya. Dharma eva hota – hanti!. Kuat karena bersatu – Bersatu karena kuat!  Dan masih diwasiatkannya : “Ku titipkan Bangsa dan Negara ini kepadamu” dan “Jangan sekali – kali meninggalkan sejarah” (Jasmerah) serta Trisakti”.

 

Oleh para Proklamatoris (pewaris Negara Proklamasi) dapat disimpulkan  setidaknya bangsa dan negara ini telah melakukan tiga pengkhianatan yakni antara  lain  :

 

1.   Mengkhianati anugerah Tuhan Seru Sekalian Alam yang telah memberkati dan merahmati berdirinya Negara Proklamasi yang berdasarkan Pancasila yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 (9 Pasa 1876 SJ/8 Ramadhan 14 1364 H).

 

2.     Mengkhianati wasiat, warisan, amanat (rasa tanggung jawab akan akibat dari segala sesuatu yang diserahkan kepadanya, lawannya khianat yakni penyekewengan) dan amanah (sesuatu yang dipercayakan) para founding fathers, para pendiri bangsa yang telah memberikan dasar idiologis, spiritual dan religius dengan PANCASILA dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional..

 

3.  Mengkhianati wasiat, warisan, amanat dan amanah Sang Proklamator, Bapak Bangsa, Presiden R. I. I PJM. Dr. Ir. Soekarno, yang menyatakan ”Kutitipkan bangsa & negara ini kepadamu”, Trisakti : Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Dan Jasmerah, ”Jangan sekali – kali meninggalkan sejarah”!

 

Nampaknya ke tiga pengkhianatan tersebut merupakan keberhasilan adanya ”Perang Modern”, atau perang spetakuler, karena tanpa pertumpahan darah sebagaimana perang konvensional. Dan ini hanya dapat dilakukan oleh negara yang memiliki nalar tinggi. Jeffrey T. Richson dalam bukunya “The US Intelegence Cummunity), 1999 (hal. 350 – 358) menyatakan bahwa : “Kalau dahulu menaklukkan suatu bangsa dengan perang konvensional, namun sekarang berubah bentuk, ke bidang politik, ekonomi dan idiologi yang dikenal dengan perang modern. Perang modern ini telah dua kali dilakukan oleh Amerika terhadap Indonsia, pertama perang idiologi Komunis dengan peran C.I.A sehingga memaksa Soekarno turun tahta, kedua perang ekonomi dengan peran I.M.F. yang mengakibatkan Soeharto juga turun tahta. Hal yang sama juga terjadi terhadap Uni Soviet”.

 

Oleh sebab itu dengan berbagai pengkhianatan tersebut bangsa dan negara ini sejatinya telah memasuki ”Senjakala bagi Negara Proklamasi Kesatyan Republik Indonesia”. Maka bisa jadi  bangsa dan negara ini telah menuai karmanya seperti firman – NYA dalam QS : Al – Araaf (7) ayat 96 :  “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri (Indonesia)  itu beriman dan bertaqwa kepada Allah, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi”. Tetapi karena mereka mendostakan(nya), (maka) Kami ambil tindakan terhadap mereka disebabkan salah perbuatan mereka sendiri.”

Mari kita berkenan melakukan introspeksi, ektrospeksi, retrospeksi dan sircumspeksi atas perjalanan dan peri kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa jadi karena kesalahan bangsa tercinta ini maka berkat dari langit yakni mega yang berarak – arak yang membentuk musaik dan lukisan alam yang berkanvaskan langit biru nan indah dengan pawana yang sepoi – poi basah tak lagi menjadi hujan yang menumbuhkan berbagai tanaman melainkan telah berubah menjadi angin putting beliung dan air bah yang telah melanda di seluruh penjuru Nusantara yang membunuh berbagai tanaman. Sebaliknya bumi yang subur makmur, tanahnya berguguran menjadi tanah longsor yang siap mengubur anak – anak yang disusuhinya sendiri, juga meluapnya semburan lumpur panas dan gempa bumi yang tak tahu kapan berakhir. Sebaliknya gunung –gunung yang anggun membiru yang disaput oleh asap putih menambah keindahannya pun kini siap melontarkan isi perutnya. Laut yang membiru dengan ombak yang bergulung – gulung yang teamat ramah kini berubah menjadi tsunami dan nampaknya enggan untuk mengikat CO2 sehingga menjadikan pemanasan global dan perubahan iklim tak terelakannya. Masihkah berbagai prahara alam ini belum mampu menyadarkan atas dosa kolektif bangsa dan kesalahan – kesalahan kita semua ?.

 

Akibat pengingkaran terhadap diri Bung Karno sebagai utusan – NYA yang membebaskan bangsa ini seyogyanya ref. QS : Adukhaan (44)  ayat 28  menyatakan : “Ya begitulah Kami  lakukan terhadap orang yang mendustakan rasul. Lalu Kami wariskan negara itu kepada bangsa lain.  Nah bukankah Timor – Timur, Bumi Lorosae dan Pulau Sipadan serta Ligitan telah raib, diwariskan kepada bangsa lain  ?

 

Bung Karno Sang Proklamator, Presiden RI I saja yang tak tertandingi jasanya memerdekakan bangsa ini, yang seluruh hidupnya sejak muda hingga akhir hayat dihabiskannya di dalam penjara, kita perlakukan demikian apa lagi terhadap para pejuang, pahlawan, syuhada dan para pendahulu serta moyang kita dan para veteran ?. Sungguh miris dibuatnya hati ini.

 

Lalu dengan alasan apa kita yang tidak pernah (dan ikut serta mau) berjuang memanggul senjata, yang tinggal menikmati hasil perjuangan mereka saja kita rame – rame menjadikannya sebagai Negara agama dan atau teokrasi dengan penuh ego dan merasa tidak terikat oleh wasiat, amanat, warisan dan amanah dari mereka ?. Benarkah (iming – iming/harapan) bahwa mendirikan Negara agama itu surga jaminannya dengan memperjuangakan egonya itu ? Lalu bagaimana halnya, kalau nyatanya kita oleh mereka disebutnya sebagai “Generasi yang durhaka ? ”. Bukankah ridhonya orang tua adalah ridhonya Tuhan Seru Sekalian Alam. Ridhonya bangsa ini adalah ridhonya Bapak Bangsa ?.

 

Oleh sebab itu nampaknya Bung Karno paham betul atas tabiat anak – anak bangsanya yang telah melakukan berbagai macam pemberontakan namun atas kebesaran jiwanya mereka para pemberontak itu diberinya pengampunan – amnesty nasional toh keturunannya bisa jadi bakal menciderainya sehingga beliau di kesempatan lain menyatakan : “Barang kali kita makin lama makin klejar – klejer makin lama – makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi ke lumpurnya muara ‘exploitation de l’homme par l’homme” en “exploitation de l’homme par nation”. Dan sejarah akan menulis : “Di sana, antara Benua Asia dan Benua Australia, antara lautan Teduh dan Lautan Indonesia adalah hidup satu bangsa yang mula – mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi “een natie van koelies, en een kolies onder de naties“.( Pidato Bung Karno “Gesuri”, 17 Agustus 63

 

JASMERAH (JANGAN SEKALI – KALI MENINGGALKAN SEJARAH)

 

Presiden SBY telah berusaha semaksimal mungkin untuk membenahi bangsa & Negara ini, dengan meletakkan tiga pilar yakni “Pro poor, pro job & pro grow”.  Namun semua usaha tersebut nampaknya menjadi sia – sia adanya karena tidak didukung oleh seluruh aparatur Negara. Pemberantasan KKN justru dikhianati oleh para penegak hukum itu sendiri.

 

Sejarawan Inggris John E.E. Delberg (Lord Acton 1834 – 1902) menyatakan Historic responsibility has to make up for the want of legal responsibility. Power tends to corrupt, & absolutely power corrupts absolutely” (Tanggung jawab sejarah niscaya diabdikan demi tanggung jawab hukum. Kekuasaan cenderung korup & kekuasaan yang mutlak pasti korup adanya).

Pendapat tersebut  yang dijadikan barometer oleh MPR 1999 – 2004, tidaklah seluruhnya benar adanya karena tergantung manusianya dan seberapa dalam  seseorang itu menghayati dasar Negara PANCASILA. Yang ketaqwakaannya terhadap TUHAN tak disangsikannya. Contohnya : Sultan Hamengku Buwono IX ,  Juga bagaimana sosok Sang Proklamator, beliau berdua sampai akhir hayat mereka tidak memiliki harta kekayaan pribadi yang layak sebagai orang penting di Republik ini, bila Bung Karno  untuk sekedar membeli buah rambutan rabiah kesukaannya saja tak mampu dan harus dibelikan oleh ajudannya seorang polwan Ni Sugiarti, dan tak kalah mengharukan sosok Bung Hatta sekedar keinginannya untuk membeli sepatu berklas dunia buatan Italy merk “Bally” pun tidak kesampaian sampai akhir hayatnya. Juga bagaimana mantan Kapolri Hugeng Iman Santosa dll. Karena mereka menghayati benar PANCASILA itu, sekalipun sepanjang hayat menjadi pejabat public tak tergiur oleh harta.

 

Nah seiring carut marut di atas, seyogyanya Bp Presiden SBY berkenan tidak melupakan sejarah bangsa, bagaimana Bung Karno dengan adanya kekuatan raksasa (pendongkelan dirinya) telah menjadikan kekuatan rakyat yang tidak lagi mempercayai kepemimpinannya sehingga harus dilengserkan oleh MPRS bentukan Pak Harto, sebaliknya Pak Harto pun pada tahun 1998 tak lagi dipercayai oleh rakyat akibatnya beliau pun harus lengser keprabon sebagaimana tuntutan reformasi pari purna.

 

Bapak Presiden SBY masih banyak waktu untuk segera membuktikan janji – janjinya kepada rakyat setidaknya bagi 63% pemilihnya bahwa tidak akan pernah menyia – nyiakan kepercayaan mereka. Beliau seyogyanya jeli dan mengetrapkan managemen strategic bahwa untuk menebus berbagai anomaly tersebut diatas harus ada “gebrakan revolusioner” karena tidak cukup dengan cara – cara konvensional semata. Maka tindakan brelian SBY sangat diharapkan oleh kawula alit ini antara lain seperti :

(1).   Pemerintah dan MPR seyogyanya segera melakukan tobatan nasuha

nasional sebagaimana pernah digagas oleh Menag Maftub Basyuni   pada 2 Maret 2007.

(2).   Mengambil sikap tegas bagi para pembantunya yang tidak

dapat/sanggup memberantas KKN harus segera mundur.

(3).   Dan secara revolusioner menegakkan pasal 33 dimana perusahaan

trans nasional yang telah menggerogoti kekayaan alam Nusantara yang bertentangan dengan pasal tersebut harus selekasnya dinasionalisasi demi kesejahteraan rakyatnya. Bila Negeri Bolevia dan Venezuela sukses besar menasionalisasikan berbagai perusahaan trans nasional mengapa kita yang punya UUD 1945 dan motto “Indonesia Bisa”, tak ada nyali untuk menegakkan kebenaran dan memenuhi Sila V? Bila Bung Karno gara – gara PBB sebagai kepanjangan tangan Negara adi daya dan tidak menggubris protes Indonesia bahkan Malaysia justru dijadikan anggota tidak tetap DK PBB sehingga Bung Karno menyatakan keluar dari PBB pada 5 Januari 1965, sehingga membuat Sekjen PBB U Thanh menangis bersedu sedan, mestinya yang menyangkut nasib hajat hidup orang banyak bangsa ini, kita harus lebih berani dibandingkan tindakan Bung Karno tersebut. Masih ada nyalikah ?.

(4).   Untuk segera memupus KKN tidak perlu menunggu adanya UU

Birokrasi, karena sebagus apapun undang – undang  selama mental pejabat tidak berubah maka sama saja. Tindakan revolusioner yang diperlukan adalah cukup dengan menambah “Sumpah Jabatan”, yakni “Demi Langit dan Bumi serta demi isteri dan anak – anak saya serta demi TUHAN YANG MAHA PENCIPTA, kami bersumpah ………”.

(5).   Seluruh aparatur penyelenggara Negara dari seluruh eselon

diharuskan mengisi daftar kekayaan dan mengangkat sumpah barunya. Sebagai pengambil sumpah bukan oleh Ketua MA atau ulama melainkan cukup oleh orang – orang yang tak pernah berbohong seperti Suku Badui Dalam, atau suku Anak Dalam atau suku Dayak dsb.nya. Bagi yang keberatan & merasa berkkn ria, cukup memberikan pernyataan bahwa 6O% harta yang didapat dari hasil KKN segera dikembalikan ke Negara.

(6).   Yang tak kalah penting dengan menyadari adanya berbagai

pengkhianatan tersebut diatas dan adanya penghambur – hamburan uang politik demi memenuhi berbagai pemilihan yang serba langsung tersebut, sudah saatnya kemudlaratan dan kekufuran itu disudahi dengan mengeluarkan Dekrit Presiden untuk kembali kepada PANCASILA dan UUD 1945 pra amandemen.

(7).   Dengan diundangkannya Dekrit tersebut maka secara efektif

dapat diberlakukan mulai tahun 2014 dan Rezim SBY tetap harus memenuhi asas-asas umum penyelenggaraan negara dimana asas Kepastian Hukum, Asas Tertib Penyelenggaraan Negara, Asas Kepentingan Umum, Asas Keterbukaan, Asas Proporsionalitas, Asas Profesionalitas, dan Asas Akuntabilitas harus tetap dilaksanakannya dengan  mengedepankan asas Kepentingan Umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif sebagaimana amanat Pancasila & UUD 1945.

 

Hanya dengan cara – cara itulah mungkin dapat memperbaiki kinerja Pemerintah dan dapat memenuhi amanat penderitaan rakyat. Sebaliknya bila Bp SBY terlalu percaya diri bahwa tak akan terjadi pemakzulan terhadap dirinya, karena tidak memenuhi salah satu syarat pemakzulan dan prosesnya pun amat panjang maka yang sangat dikawatirkan adalah terjadinya parlemen jalanan dimana  sejarah akan berkata lain. Apa lagi menurut horoscope Suro 1943 SJ, bahwa pemakzulan dirinya itu telah tertulis dalam suatu primbon walau ini tidak perlu diyakininya, setidaknya bisa jadi rem.

Akhirnya kepada DPR, khususnya penggagas Panitya Hak Angket seharusnya menghentikan pencarian dukungan untuk menggunakan “Hak Menentukan Pendapat”, karena sama sekali tidak akan pernah mampu mengatasi persoalan bangsa karena mereka pun merupakan produk persekongkolan politis hasil perumusan UUD baru 2002. Karena mereka bukanlah ansih mewakili kepentingan rakyat melainkan hanyalah mewakili elit partai politik semata. Bukankah unsur bangsa itu ada perwakilan parpol, perwakilan utusan daerah dan perwakilan utusan golongan ? Sehingga claim mereka mengatas namakan (daulat) rakyat adalah sebuah kekeliruan.  Sebagai kawula alit mampunya hanyalah memanjatkan permohonan dan doa keharibaan Sang Khaliq, semoga rezim presiden SBY mampu mewujudkan amanat penderitaan rakyat dan marilah kita galang “Dharma eva hota hanta”, kuat karena bersatu – bersatu karena kuat”. Semoga.

Jakarta, 4 April 2010

Sungkem dan permohonan maaf kami

Jebeng Ariasukma Pancanagara

 

 

Read Full Post »

SALAM BUDAYA!

Jaya – Rahayu – Widada – Mulya dunia & akherat semoga dianugerahkan kepada kita sekalian termasuk kula wangsa besarnya dan bangsa ini.

 

Sahabat – sahabatku yang kami mulyakan, maaf tangan ini terasa kaku untuk mengomentari segala kejadian di bulan Selo ini, agar tidak menambah kegalauan kita. Sebagai wayang  kami tentu tidaklah tahu apakah  hari ini kita diberinya peran sebagai Resi Durna, Patih Hariya Sengkuni, Bimo,  Yomodipati, Sang Bimo  dan atau Sri Kresna ?. Sekalipun pun bila peran kami hanyalah  seorang BILUNG, kami pun cukup bahagia karena  budaya kearifan local tetap saja tidak akan disia – siakan lantas dibuang dari kotak  wayang! Mengapa ? Inilah esensi budaya yang para pembaca lebih paham tentunya.

 

Kembali  bila kta berkenan membalik dan membaca kembali khususnya ikon seorang Bayangkara bernama NORMAN KAMARU dan RUNTUHNYA IDIOLOGIE DUNIA nampaknya menjadi suatu kenyataan. Ini sama sekali bukan karena kami bisa, karena kami lebih tahu – bukan sama sekali, kami selalu mengakui bodohnya 27 , dan sajian itu mungkin  hanya dijadikan kepanjangan tangan pendahulu kita saja untuk mengingatkan betapa pentingnya PANCASILA sebagai “DASAR INDONESIA MERDEKA” itu. Bung Karno yang gandrung pada “HIDUP BARU” dengan melenyapkan adanya “EXPLOITATION DE L’HOMME PAR L’HOMME & EXPOLITATION DE NATION PAR NATION” sebagai RUH PANCASILA yang dideklarasikan pada hari Jumat Wage, 1 Juni 1945 dan pada hari yang sama, 30 September 1960 ditawarkan sebagai pengganti dasar PBB “Declaration of human right” yang oleh Tahta Suci Vatikan telah diakui kebenarannya, yang merupakan maha karya bangsa Indonesia bagi dunia di bidang spiritual sementara bangsa Barat dengan tehnolpginya.

 

Roh PANCASILA tersebut telah menjalari ke jiwa sosok PM. Malaysia Mahatir Muhammad sehingga diberi stigma sebagai “THE LITTLE SOEKARNO”, kemudian menyebar ke Amerika latin, sosok Presiden Hugo Chavez (Venezuela) juga kepada Saddam Husin (Irak) dan pada Presiden Evo Morales (Bolovia)  yang sukses besar menasionalisasi perusahaan2 – transnasional tanpa terjadi gejolak dan claim dari Negeri Adidaya & negara barat lainnya. Sementara FREEPORT justru kini sedang berdarah – darah bahkan korban demi korban nyawa berjatuhan yang hanya sekedar menuntut hak atas “take home pay” – nya yang amat timpang bila dibandingkan dengan karyawan Free Port di belahan dunia  lainnya. Polri yang menggantikan TNI sebagai  konsekwensi  berpisahnya dengan TNI sesuai dengan UU Kepolisian sejak zaman Ega, ketiban sampur menjaga Free Port terkesan represif.

 

Nah Kini sejak medio September  2011  Amerika Serikat Sang pelopor dan beghawan Kapitalisme justru sedang digugat oleh masyarakat Amrik sendiri di berbagai kota Negara bagian seiring kerapuhan pondasi ekonomi kapitalistik yang tak lagi sesuai dengan tuntutan nurani di sana hebatnya telah  merambah ke MEE ini. Malaise – stagflasi  di tahun 2012 bila tak ada upaya sinergisme – gotong royong antar Negara di dunia dan kaum milyader sulit untuk dihindarkan.  Sehingga dsitulah kebenaran PANCASILA tak dapat dinafikannya oleh siapapun. Dan KIAMAT PEREKONIMIAN akan semakin membuktikan KIAMATnya Suku Maya (secara parsial tidak ansih luluh lantaknya alam semesta raya ini).

 

Bahasan PANCASILA kian hari kian banyak yang dibahas dari berbagai cabang ilmu, dan kami merasa terharu karena kadang kami HANS dengan motto perjuangannya : “SAYA TIDAK AKAN MENGGUNAKAN HAK SAYA KECUALI HANYA INGIN MENUNAIKAN KEWAJIBANNYA SAYA”, sungguh sosok PROKLAMATORIS YG SUDAH BARANG TENTU SEORANG PANCASILAIS SEJATI! Bila itu juga dijiwai oleh para penyelenggara Negara NPKRI ini sudah menjadi surga. Dia mengupas PANCASILA dari Segi  “CAHAYA yang dipadu dengan budaya kearifan local & sejarah”, sebagai  karya sufistik Nusantara, yang merupakan  anugerah dari SANG MAHA CAHAYA atau CAHAYA DIATAS CAHAYA sehingga diharapkan sebagai buku wajib bagi anak bangsa. Upaya menvideo visualkan dengan gambar 3 deminsi dan gita – gita nada nurani semoga cepat terwujud agar energy yang tak terbatas mampu membakar debu – limbah – residu jiwa sehingga yang tersisa hegomonitas atas dharma, kesucian, holy dan turunannya sebagaimana Karsa Sang Khaliq itu sendiri sehingga rezim limbah tak lagi berkuasa.

Dan adanya upaya penyaji menghadirkan buku “KIDUNG PANCASILA; PANCASILA WAHYU TUHAN; PANCASILA DALAM TUBUH KITA; DLL. Semoga dapat pula memperkaya kajian PANCASILA itu sendiri sbagai bentuk penghayatan “KAM” (KEWAJIBAN ASASI  MANUSIA INDONESIA) di tengah bangsa ini terbelit oleh ultra krisis dimensional yang merebak sejak 1978 hingga kini yang  justru semakin menggurita, akut dan menakutkan.

 

Sahabat kami yang dimulyakannya izinkanlah kami melanjutkan bahasan sbagaimana judul di atas dengan sub bahasan tentang sosok Pak Beye, seberapa besar imbas Satria Wirang pada dirinya.

 

6.      PRESIDEN BP SISILO BAMBANG YUDOYONO, 2004 HINGGA SEKARANG

 

Presiden yang santun & piawai mencipta lagu yang satu ini secara mitologis ditasbihkan sebagai “Satria Boyong Pambukaning Gapura”. Dia benar – benar diboyong oleh konstituennya yang memenangkan  laga pemilihan presiden secara langsung seiring diberlakukannya UUD 2002 yang liberalistic itu. Ia mengungguli Megawati dan  Yusuf Kalla. Dia diberinya sampur membuka gerbang – gapura untuk memasuki kemerdekaan yang hakiki sebagaimana yang dimaksudkan oleh Bung Karno dalam pidato lahirnya PANCASILA  dengan istilah “JEMBATAN EMAS”, diseberang jembatan itulah baru leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat sehat, kekal dan abadi!. Esensi pambukaning gapura, bisa jadi dialah satu – satunya Presiden R. I. yang tidak lagi  melaksanakan GBHN karena program kerja jangka pendek & jangka panjang atas amanat UUD yang baru ada di tangannya. 

 

Dan Pak Beye pun sebenarnya telah banyak meletakkan dasar guna mewujudkan terciptanya masyarakat yang madani. Program 100 harinya dalam KIB II, berisi 15 program kemudian terdapat semboyan “pro poor, pro job & pro grow “, sebagai upaya implementasi kesepakatan internasional yang telah dicanangkan sejak tahun 2000 yakni adanya Millennium Development Goals (MDGs) oleh PBB yang disetujui oleh 189 negara dan telah diratifikasi oleh 146 negara termasuk Indonesia.  Hebatnya MDGs adalah sejiwa dengan Preambule IID 1945 yang intinya pada 2015 semua anggota PBB harus dapat mengurangi penduduk miskin dan menyelenggarakan kesediaan pangan hingga mencapai 50%.

Nilai dasar MDGs 2000 adalah antara lain :

  • Nilai dasar 1 – 2 menyatakan : “Menanggulangi kemiskinan & kelaparan & mencapai pendidikan dasar bagi semua. Bukankah ini identik dengan Preambule UUD 1945 : “Mewujudkan kesejahteraan umum & upaya mencerdaskan kehidupan bangsa”.
  • Nilai dasar 3 – 6 berisi : “Mendorong kesetaraan gender; Menurunkan angka kematian bayu & meningkatakan kesehatan ibu, memerangi penyakit HIV/AIDS & penyakit menular lainnya. Bukankan ini sesuai dengan esensi  Preambule UUD 1945 : “Melindungi segenap bangsa Indonesia”.
  • Nilai dasaar 7 – 8 berisi : “Melestarikan lingkungan, mengembangkan kemitraan global”. Bukankah ini sesuai dengan esnsi Preambule UUD 1945 yang berbunyi : “Menjaga & melaksanakan  ketertiban dunia”.

Disamping itu Rezim Pak Beye telah mecanangkan pula program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang diharapkan bisa mengundang investasi senilai Rp 4.000 triliun.

 

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan peluncuran MP3EI ditandai dengan dimulainya proyek-proyek groundbreaking yang pencanangannya akan dipusatkan pada empat lokasi, yaitu  :

Sei Mangke Sumut, Cilegon Jawa Barat, Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), dan Timika Papua dengan pembangunan 17 proyek besar.

“Yang penting bukan seberapa bagus dokumen dibuat, tapi seberapa besar kemampuan kita untuk mengimplementasikan di 6 koridor di seluruh tanah air. Akan dilakukan juga peresmian, 4 lokasi, Timika, Cilegon, Simangke, Lombok, dengan jumlah proyek yang akan diresmikan 17 proyek, mewakili proyek berikutnya,” ujarnya dalam Acara Peluncurun MP3EI di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (27/5/2011).

 

Adapun Ke tujuh belas (17) berbagai proyek MP3EI tersebut adalah:

 

1. Sei Mangke (Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara)

Di lokasi direncanakan akan dibangun proyek pembangunan Kawasan Industri Kelapa Sawit Sei Mangke yang akan dilaksanakan oleh PT Perkebunan Negara III (PTPN III). Dengan nilai investasi Rp 2,5 triliun dimulai tahun ini dan diperkirakan selesai pada 2014.  Proyek Pembangunan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan 1 dan 2 (2×44 MW) di provinsi Nagroe Aceh Darusalam yang terletak di Takengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah di dataran tinggi Gayo. Proyek ini rencananya akan dibiayai oleh JICA dengan estimasi biaya Rp1,53 triliun. Dibangun proyek Broadband Access dan Through Broadband Access Plan oleh PT. Telkom yang merupakan pemerataan Access Broadband untuk seluruh wilayah Indonesia. Dimulai tahun ini hingga 2015.

 

2.  Cilegon Provinsi Banten.  Proyek Pembangunan Pabrik Baja Modern yang merupakan join operation antara PT Krakatau Steel dan POSCO Korea Selatan. Investasinya berjumlah Rp 60 triliun untuk 2 tahap. Pencanangan Proyek FSRU (Floating Storage and Regasification Unit) Jawa Barat. Nilai proyek Rp 59 triliun.

Proyek perluasan pabrik stamping, engine, casting, dan assembling kendaraan bermotor oleh PT Astra Daihatsu Motor berlokasi di Kawasan Industri Surya Cipta Karawang, Nilai investasi Rp 2,4 triliun produksi pertama mulai beroperasi pada 2014.

Proyek jalan bebas hambatan Tanjung Priok seksi E2 dan NS yang berlokasi di Jakarta. Proyek ini dibiayai oleh JBIC, Pemerintah Pusat, Pemda, PT Angkasa Pura dan Jasa marga dengan nilai investasi senilai Rp 1,6 triliun.  Proyek Chemical Grad Alumunium (CGA) berlokasi di Tayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat sebagai rangkaian terakhir. Pelaksana proyek ini adalah PT Antam Tbk yang diperkirakan selesai 2013 dengan nilai investasi Rp 4,3 triliun.

 

3. Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) Proyek Waduk Pandan Duri berlokasi di Kabupaten Lombok Timur, NTB. Investornya melibatkan pemerintah pusat, dan pemda dengan nilai investasi Rp 728 miliar. Proyek Bendungan Titab yang akan dibangun di desa Ularan, Buleleng, Bali. Dilaksanakan oleh pemerintah pusat yang didanai dari APBN dengan nilai investasi sebesar Rp 481 miliar.

- Proyek perluasan pembangunan bandara internasional Ngurah Rai dengan sumber dana oleh BUMN dengan nilai proyek Rp 1.944 miliar.

 

4. Timika (Papua) Pencanangan dibangunnya proyek jalan raya Timika-Enarotali sepanjang 135 kilometer. Nilai investasi sebesar Rp600 miliar yang akan dilaksanakan oleh pemerintah provinsi papua dan pemerintah Kabupaten Merauke.

Pembangunan proyek jalan raya dari merauke-Waropko sepanjang 600 kilometer dengan nilai investasi Rp 1,2 triliun. Proyek Pertambahan dan Pengolahan Nikel dan Kobal dengan tenaga hidrometalurgi di Kabupaten Halmahera Tengah dan halmahera Timur, di provinsi Maluku Utara. Proyek ini didanai oleh PT Weda Bay Nickel senilai Rp 50 triliun. Diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 2500-3000 orang saat operasi. Proyek PLTS Miangas (150 kwp) dan proyek PLTS Sebatik (200 kwp) di Kalimantan Timur yang akan dimulai pada 2011 oleh PLTN. Kedua proyek ini sebagai bagian dari pembangunan proyek PLTS 100 pulau. Dengan ini diharapkan dapat meningktakan elektrifikasi di wilayah Indonesia Timur dari 53,08% menjadi 53,12%.

 

Total proyek tersebut, lanjut Hatta, yaitu Rp 190 triliun yang akan dibiayai melalui BUMN, swasta, Foreign Direct Investment (FDI), dan APBN. Diharapkan, ke-17 proyek tersebut dapat menelan investasi sebesar Rp 4.000 triliun. “Sebanyak 17 proyek itu bagian dari serangkaian proyek diahun 2014, yg akan menelan investasi Rp 4.000 triliun,” pungkasnya. Peluncuran program MP3EI ini akan dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi seluruh pejabat negara dan daerah di seluruh Indonesia. Pada acara ini dilakukan teleconference dengan para gubernur di keempat wilayah pembangunan proyek MP3EI.

 

Nah apakah itu sesuai dengan amanat pasal 33 atau bertentangan karena aroma neoliberalistik, hak sidang pembaca untuk mengkajinya.

Sungguhpun demikian   oleh kalangan spiritualis dinilai justru nampaknya Pak Beye yang paling banyak dipermalukan oleh alam lewat berbagai kebijakannya yang sejatinya bagus namun hasilnya kok  bertolak belakang, kontra produktif  sebagaimana mereka menengarai setidaknya tidak kurang dari 50 kebijakan dan kejadian yang terjadi seperti  berbagi kasus  yang telah dimuat di berbagai media. Sekalipun demikian dalam kajian ini hanya ditampilkan sebagian kecil saja karena kami menjaga & menghindari agar tidak digunakan oleh pihak – pihak tertentu untuk tujuan adharma. Karena hikmah dibalik itulah yang harus kita petik dan dijadikan solusi (bia tahu, mau dan mampu) . Nah adapun kejadian tersebut antara  lain :

  • Program 100 harinya ternyata belum selesai alam telah murka dengan tsunami di NAD 26 Desember 2004, yang jauh sebelumnya telah diingatkan oleh seorang spiritualis dari Semarang agar menyelenggarakan ritual dan bila diabaikan maka prahara alam akan terus saja terjadi dan kenyatannya hingga kini prahara alam justru semakin nggegirisi dengan seribu satu manifestasinya. (Metro TV, Tuti Aditama).
  • Program penggalakan investor dengan roadshownya ke berbagai negara, justru beliau dibuatnya masygul karena masyarakat Singapura menilai bahwa ”Indonesia tidak ada perubahan sama sekali” dan celakanya listrik PLN selang beberapa lama pun byar pet.
  • Kenaikan BBM terbesar & terbanyak selama NKRI berdiri adalah di bawah pemerintahannya. Pada Maret 2005, naik sebesar 30% dan pada bulan Oktober 2005 naik lagi sebesar 114% serta pada 24 Mei 2008 naik pula sebesar 28,7%, yang mengantarkan pabrik – pabrik berjatuhan dan kemiskinan structural semakin menjadi – jadi. Klaim jumlahnya menurun perlu didata ulang, bagaimana mungkin dengan penghasilan yang tetap namun harga – harga melambung tinggi dan begitu banyak perusahaan yang gulung tikar justru mampu menciptakan pengurangan kemiskinan structural  itu ?. Bagaimana mirisnya setiap melihat antrian zakat & dan atau pembagian sembako gratis yang diserbu oleh ribuan masyarakat di seluruh pelosok penjuru Nusantara.

Sayangnya seiring adanya krisis BBM dengan program blue energy justru terprovokasi oleh penemuan Joko Suprapto, yang kesohor dengan nama “Joko Banyu Geni” dengan menggandeng Universitas Muhammadiyah Jogyakarta (UMJ) untuk melaksanakan  proyek “PLM Jodhipati”. Tak kurang Dr. Khoiruddhin mantan rector & Priyono Puji Praseto MSc mantan Purek II UMJ, sebagai penjamin mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan tersangka Joko Suprapto, yang menjadi polemik dan akhirnya mereka terpaksa mengundurkan diri dari UMJ. UMJ sendiri tetap mengadukan Joko atas tindakan penipuannya (KR, 31 Juli 2008, hal.1).

  • Tak ketinggalan di bidang pangan/beras direcoki oleh Super Toy – HL 2, penemu varietas Super Toy adalah Supriyadi alias Toyong (Toy) dan fasilitatornya adalah Heru Lelono (HL) Komisaris PT. Sarana Harapan Indogroup, yang memiliki beberapa anak perusahaan yakni PT. Sarana Harapan Indopangan, yang mempelopori Super Toy HL 2, PT. Sarana Harapan Indohydro yang membuat kontrovesrsi dengan bahan bakar blue energy dan Sarana Harapan Indopower yang sedang menggagas rencana pembangunan pembangkit listrik berbiaya murah. Dalam organisasi Gerakan Indonesia Bersatu, SBY bertindak selaku ketua dewan penasehat sementara Heru Lelono adalah sekretaris umum dan Wahyudi adalah wakilnya. Heru adalah staf khusus presiden SBY bidang pembangunan & otonomi daerah, demikian pula Joko Banyu Geni.(Kompas,9 September 2008, hal 1 & 13.). Petani Grobokan, Purwarejo, Jawa Tengah menjadi korban. Mereka beramai – ramai membakar panen padinya &menuntut ganti rugi kepada PT.SHI.
  • Politik luar negeri yang bebas & aktif secara heroic mulanya mendukung program nuklir Iran namun endingnya mengikuti resolusi DK PBB. Bertekuk lutut terhadap tekanan internasional.
  • Dan motto kabinetnya yang banyak pihak menilai sloganistis bergeming dengan “Bersama kita bisa”. Bahkan dalam penutup pidatonya, 15 Agustus 2008 menyatakan dengan : “Harus bisa” ! Apapun masalahnya, kapanpun masanya, seberapapun keterbatasannya, kalau kita bermental bisa, kita semua bisa & Indonesia pasti bisa!

Ironisnya belum genap sebulan pada 11 September 2008, pemerintah mengeluarkan pernyataan mengejutkan : “Tidak bisa menutup Lumpur Lapindo“, sebagaimana telah disinggung di muka.

Sementara beberapa kaum spiritualis ingin berperan dengan caranya sendiri, kurang mendapat perhatian. Sedangkan orang yang ahli di bidang tersebut seperti Dr. Rubiandini, pakar dari ITB, yang menghadirkan “buku putih”, guna menutup semburan lumpur Lapindo itu diperlukan anggaran US$ 50 juta, menurut Salahuddin Wahid, konon untuk sekedar betemu SBY pun demikian sulit. Bahkan sekedar sebagai saksi ahli dalam penyelidikan kepolisian kasus Lapindo tidak dilibatkannya, sehingga mengundang tanda tanya. Seiring dengan berjalannya waktu pada awal Oktobr 2010, Pemerintah tidak begitu kehilangan muka karena ilmuwan Rusia menyatakan bahwa Lapindo merupakan gunung endut yang tak bisa ditanggulangi lagi.

  • Pada 19 Oktober 2005, Presiden SBY dalam acara seremonial di Istana Negara menyerahkan NPWP ke 10 juta orang. Namun setelah ditelusuri kembali oleh Dirjen Pajak Darmin Nasution hanya tercatat 3.6 juta orang. (Kompas, 7/9/6).
  • Dengan dibentuknya “Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi” (UKP3R) via Kepres No. 17/2006 justru menuai konflik yang ironisnya dilansir oleh jajaran GOLKAR sendiri yang nota bene MJK sebagai Wakil Presiden.
  • Keluarnya PP yang kontroversial No. 37/2006 mengenai “Tunjangan Insentif & Dana Operasional bagi anggota DPRD seluruh Indonesia”.  Disatu pihak rakyat meminta dibatalkan dilain pihak yang dirugikan minta agar PP tersebut tetap berlaku. Tak ayal setelah direvisi masih saja menimbulkan problematic.
  • Tentang kontroversi interpelasi BLBI, dimana SBY tidak mau mengahadiri undangan DPR dan hanya mengutus para pembantunya.   Ironisnya apa yang dipaparkan adalah data – data lama yang tidak akurat. Akibatnya Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad yang diberinya stigma termasuk pengemplang, protes keras ketika berjabat tangan dengan SBY saat pembukaan munas  kepala daerah se Indonesia, karena ia merasa telah menyelesaiakan kewajibannya tepat waktu dengan baik.  Dan seribu satu masalah lainnya.
  • Sungguh Presiden SBY dilecehkan dengan pengibaran Bendera RMS yang dikamuflase dengan tarian Cakalele di Ambon saat merayakan “Hari Keluarga XIV” di Ambon, Maluku pada  29 Juni 2007 silam. Presiden RMS, Frans L. I. Tutuhatunewa. Sementara Presiden Transisionalnya adalah Siman Saiya.

Setelah deplomasi dengan Malay mengalami kegagalan dan surat resmi SBY sama sakali tidak dibalas oleh PM. Malay. Seiring terjadinya kasus penangkapan petugas DKP di wilayah kedaulatan kita  sendiri oleh polisi Di Raja Malaysia yang justru kemudian diseret ke Malay dengan perlakuan yang tidak sepantasnya. SBY dinilai begitu lamban dan pernyataannya dinilainya amat normatif sehingga kejadian serupa masih sering timbul lagi seperti pada 5 Oktober lalu 4 nelayan dari Kepri yang menangkap ikan diwilayahnya sendiri justru ditangkap oleh Polisi Maritim Diraja dan dibawanya ke Johor Baru. Bahkan kemudian pada 2010 Malay telah mengadukan ke Mahkamah Internasional sebaliknya Pemerintah tenang – tenang saja atas gugatannya tersebut. Apakah akan menyusul nasib Sipadan & Ligitan ?.

Bisa jadi untuk mengeliminir ekses Satria Wirang bagia Pak Beye berikutnya apa lagi seiring hajat ‘MERESHUFFLE KABINET”, besuk malam JUMAT KLIWON, tanggal 20/21 Oktober 2011 adalah ‘TUMBUG AGENG” genap berusia “64 TAHUN” hitungan Kalender Saka Jawa yang seluruh karakteristik terulang kembali. Semoga Presiden yang esensinya sebagai Maharaja (YANG TELAH MENYANDANG GELAR KEBESARAN BERBAGAI KERAJAAN)  dengan pisowanan perwakilan 114 kerajaan se Nusantara 2 tahun lalu mestinya berkenan mereaktualisasi momentum tsb. yang hanya sekali dalam hidupnya yang selalu saja dilakukan oleh Raja – Raja khususnya Jawa. Ijinkanlah keluarga besar Gerakan Moral “YLBN” menghaturkan ‘MAHARGYA WIYOSAN NDALEM BAPAK ESBEYE LXIV (KE 64) SEBAGAI “TUMBUG AGENG” SEMOGA DIANUGERAHI KESEHATAN LAHIR BATIN DAN KEBERANIAN GUNA MENSEJAHTERAKAN KAWULA ALIT SE NUSANTARA DENGAN PIJAKAN PANCASILA & UUD 1945 PRAAMANDEMEN. Disertai panyuwunan semoga program pencabutan subsidi BBM yang akan diberlakukan pada tahun 2012 dapat dipending atau dibatalkan mengingat kejatuhan Bp. Soeharto didahului dengan kenaikan tarif PLN & BBM. Memang pada 2012 mendatang fenomena terjadinya ‘STAGFLASI -MALAISE EKONOMI” sulit diatasi tapi masih tersedia 1001 jalan untuk mengatasinya. Tentu Pak Beye tidak menghendaki semakin bertumpuk – undungnya masalah bangsa”.Apa lagi tahun depan secara mitologis dalam pengaruh tahun (Jawa) ” WAWU” yang dimulai hari Minggu Wage dengan sebutan ‘TAHUN DITE KANABA” YAKNI TAHUN KLABANG YANG MEMEILIKI ANGSAR BANYAKNYA DARAH YANG TERTUMPAH & MUSIM KERIN YANG BERKEPANJANGAN! Doa kami menyertainya dan mohon maaf bila telah kumawani mewakili hati rakyat yang sedang menikmati derita yang tdk terperikan lagi dan mungkin dianggap tidak Islami ini. Lebih kurangnya nyumanggaaken ngarsa paduka//

 

Nah itulah sekedar penyegaran ingatan semoga dapat diambil hikmahnya. JAYALAH NEGERIKU SEJAHTERALAH BANGSAKU!

BERSAMBUNG//SAMPURNA

Read Full Post »

SALAM BUDAYA!

Jaya – Rahayu – Widada – Mulya dunia wal akherat semoga dianugerahkan kepada kita sekalian beserta kulawangsa besarnya serta bangsa ini.

 

Ujinkanlah Penyaji meneruskan bahasan dengan judul di atas ? Karena tanpa sadar bahwa bangsa ini telah kehilangan ‘RASA NASIONALISME” nya sehingga diluar negeri bangsa ikita dihinakan oleh bangsa lain dimana mereka sebagai bos, tuan, meneir, juragan, mister sementara kita yang di dalam negeri banyak yang tanpa adab, memuja anarkisme serta menuhankan egonya (kebenaran, ilmu, keyakinan, kekuasaan dan seribu satu manifestasinya). Yang jauh hari telah diingatkan oleh BUNG KARNO : ” ………………….. menjadi bangsa kuli, kulinya bangsa – bangsa”! Karena makin menipisnya “rasa harkat nasional”, makin menipisnya rasa “National Dignity”. Maka menipisnya rasa bangga & rasa hormat terhadap kemampuan & kepribadian bangsa sendiri & rakyatnya sendiri”!

 

Oleh sebab itulah sebagai kewajiban asasi manusia Indonesia mari kita persembahkan apa yang kita bisa. Nah dalam kasanah budaya, bisa kita lakukan dengan adat dan budaya bangsa.

 

C.EKSES NEGATIF “SATRIA WIRANG”

 

Dalam kajian ini penyaji tidak ada sedikitpun – ibarat segelugut pinara sasra untuk mengungkap aib bagi masing – masing diri pribadi Presiden Republik Indonesia, karena mereka semua orang besar yang telah dikehendaki alam untuk memimpin negeri tercinta ini sekalipun faktor positip dan negative tidaklah lepas dari diri mereka sebagai adi kodrati umat mansusia. Dalam mitologi Jawa mereka adalah para satria yang telah dinubuatkan dan tertulis dalam ramalan yang ada.

Hanya saja masyarakat Nusantara ini masih menganut paternalistis, terhadap sosok pimpinan Nusantara sebagai patron – panutan maka alam pun memakainya sebagai simbul ekes negative dari yang berzodiak ”Satria Wirang” itu bagi bangsa & Negara. Oleh sebab itulah masyarakat Nusantara yang terkenal relegius dan tak bisa lepas dari cara pandang yang holistic ini, maka  sebagai refleksi kecintaan kita pada negeri nan elok dan kaya raya ini, kita wajib untuk berupaya bagaimana bangsa & Negara ini yang selalu bergejolak & terpuruk yang jatuh ke titik nadir itu segera mampu bangkit dan bangkit untuk menjadikan dirinya “Mercu suar dunia” sebagaimana dinyatakan oleh Bung Karno. Karena terdapat sesanti bahwa “kodrat itu bisa diwiradat”. Mari kita cermati dan mengambil hikmah di balik keadaan itu semua yakni :

 

1.      Presiden I. R. I. Ir. Soekarno, 1945 – 1967

 

Presiden Soekarno, yang secara mitologis ditasbihkan sebagai “Satria Kinunjara Murwa Kuncara”, sebagai penggali PANCASILA, Proklamator, Bapak Bangsa, Putra Sang Fajar yang menyandang sebutan sebagai : orator ulung, filsuf, futurolog, seniman, budayawan, pelukis, arsitek, pengarang, spiritualis, penari, pemersatu, pendobrak statesquo dan pendiri gerakan Non Blok serta entah sebutan apa lagi.

Pemilik 26 gelar Doktor ini, oleh banyak pihak dinilai bahwa Bung Karno telah mempu mencapai tingkat spiritualitas tertinggi yakni “Asmarasanta” atau mahabah atau kasih suci.  Hal tersebut antara lain dapat dilihat hanya sekedar untuk membunuh seekor nyamukpun beliau tak sampai hati. Sebagai kesadaran tertinggi spiritualnya maka betapa cintanya terhadap rakyat sehingga berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan “Persatuan & Kesatuan Bangsa”.

 

Menginat  dirinya belum dapat menyelesaikan tugas revolusi dengan pari purna maka beliau berpendapat perlunya empowerment – pendaya – gunaan adanya ke tiga unsure  bangsa yakni : nasional, agama dan komunis dalam suatu ikatan perjuangan dengan nama “NASAKOM” dan atau “NASASOS” (Sosialis). Hal tersebut dideklarasikan oleh Bung Karno setelah sebelumnya PKI menerima Pempres No. 57 yang menyatakan “Partai tidak boleh mempuyai orang asing sebagai pelindung, harus seorang nasionalis”, maka PKI segera merubah dasarnya dari “Leninisme/Marxime” menjadi PANCASILA. Kontan Kruschov & Mao Tse Tung, marah – marah, komunisme mana yang menerima nasionalisme & agama di dalam idiologinya?. Sehingga claim PKI adalah partai “atheis” oleh banyak pihak adalah ahistoris.

 

Nah dalam pusaran perang – dingin, adanya arus tarik menarik antara Blok Barat versus Blok Timur, sekalipun tegas pendiriannya “Non Blok” toh akhirnya isu komunisnya dijadikan senjata untuk melemahkan hegomoni Bung Karno dan akhirnya mampu ditumbangkan  dari singgasananya setelah belasan pembunuhan terhadap dirinya senantiasa gagal berkat lindungan Tuhan Seru Sekalian Alam, dengan prolog Gestapu (Gerakan September Tigapuluh) atau G30S  yang oleh Bung Karno disebutnya  dengan Gestok (Gerakan Satu Oktober).

 

Disamping itu dengan pengangkatan dirinya sebagai Presiden seumur hidup oleh MPRS, Bung Karno dicap gila jabatan, gila sanjungan dengan sebutan “Paduka Yang Mulia” dan pendiskreditan lainnya. Sedangkan dalam pengangkatan sebagai Presiden seumur hidup, Bung Karno sendiri sejatinya menolak namun karena itu telah diputuskan oleh MPRS, maka  beliau meminta agar  MPR kelak memikirkan statusnya kembali. Sementara sistem “demokrasi terpimpin” (guided democracy) oleh “hikmah kebijaksanaan” yang mengikuti sunah nabi Muhamad saw justru dianggapnya “dictator”. Bahkan di Amerika Serikat  nun jauh disana saat Bung Karno berkunjung ke sana, beredar harian dan majalah yang bergambar dirinya ditemani dengan seorang wanita yang berbugil ria menghiasi cover – cover majalah dan head line harian di AS. Bung Karno pun dinobatkan sebagai sosok “donjuan” sekalipun istri – istrinya semua dinikahi secara sah sesuai hukum Islam, bukan sebagai isteri simpanan, gundik atau harem sebagaimana kebiasaan para pejabat.

 

Namun itulah yang tertanam di mayarakat dan jasanya seolah tak ada, bahkan atas nama kekuasaan oleh Orde Baru dengan massif ada upaya “Desoekarnoisasi”. Sungguh isu PKI amat sangat sensitive dan Bung Karno dianggap melindungi PKI   sehingga TAP MPRS No. XXXIII/1967  pun keluar yang naifnya hingga kini dibiarkannya abadi. Bung Karno yang masih resmi menjabat Presiden, gerak geriknya selalu diawsi bahkan pidato pun dilarang dan berita tentang dirinya harus disensor. Desoekarnoisasi” secara masif berhasil diciptakannya oleh Pak Harto.

Sungguh Ironis Bung Karno yang seluruh hayatnya dibdikan bagi rakyat justru dipermalukan sendiri oleh rakyatnya  yang beliau merdekakan, gambar – fotonya pernah diharamkan untuk dipasang dan buku – bukunya dibakar bahkan sebagai mantan Presiden R.I.  I,  penggali Pancasila dan Proklamator pun dipenjarakan di Wisma Yaso dengan sakit ginjalnya  yang sama sekali tidak mendapatkan pelayanan medis. Dan bagaimana perasaan Bung Karno yang tersayat – sayat hanya sekedar ingin menyaksikan pernikahan salah satu putrinya pun, beliau dihalang – halangi & didorong – dorong dijauhkan dari mereka. Dalam keadaan tergolek, mengerang karena sakit ginjalnya, obat pun tiada terlebih anak isteri dan teman serta rakyat pun dilarang berkunjung sehingga sempurnalah penderitan Bung Karno.

 

Bahkan  rumor pun merebak bahwa wafatnya  SIBUNG pada hari Minggu Kliwon bertepatan 21 Juni 1970 akibat suntikan over dosis sebagaimana diyakini oleh isterinya Dewi Soekarno. Sungguh betapa tragis hidup &  kehidupan seorang Soekarno yang seluruh hidupnya akrab dengan penjara hingga akhir hayatnya. Seorang yang dibenci sekaligus dicinta, seorang yang dihinakan sekaligus dipujanya, seorang yang dikecilkan sekaligus diagungkannya, seorang Bapak bangsa yang sebagai seorang pembela rakyat sejati justru dikhianatinya dan rasa terimakasih pun tak jua keluar dari lubuk hati anak – anak bangsanya yang beliau perjuangkannya itu. Ekses “Satria Wirang”, sulit dinafikannya. Quovadis bangsaku.

 

2.Presiden II, Jenderal Soeharto, 1967 – 1998

 

Pak Harto, yang secara mitologis ditasbihkan sebagai “Satria Wibawa Kesampar Kesandung”, yang naik singgasana dengan SIM “Supersemar” sekalipun banyak pihak menilainya dengan berlumuran darah. Dalam kepemimpinannya  memperoleh pujian internasional yang dinilainya sukses menciptakan swa sembada beras, dan pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan sehingga NPKRI ini pernah menyandang stigma sebagai “macan Asia”, dan tak dapat dimungkiri bahwa rezim Pak Harto selama lebih 30 tahun mampu mencipatakan stabilitas keamanan bahkan perannya di dunia internasional sangat menonjol. Dialah satu – satunya presiden di dunia yang berani masuk ke jantung perang saudara di Bosnia. Beliau adalah orang besar!.

 

Namun pada akhir kedigdayaan Pak Harto, toh ia pun terpaksa mengundurkan diri dari singgasananya. Tragisnya  harus diadili termasuk kroni – kroni Soeharto atas  kasus KKN yang mereka lakukan sebagaimana amanat TAP MPR NO. 11/1998 walaupun akhirnya Presiden SBY memutusnya selesai/deponering.

James T Siegel, professor senior di jurusan Antropologi dan Studi Asia dari Cornell University, dalam bukunya yang berjudul “A New Criminal Type in Jakarta : Counter Revolutionary Today” (1998), mengajukan tesis bahwa : “Negara Indonesia khususnya di masa Orde Baru, sengaja menampilkan diri sebagai sebuah kekuatan maut yang setiap saat membunuh/ menghilangkan segala bentuk ancaman yang diangankan akan terjadi. Kekuatan mengancam itu diperoleh melalui control imaginasi. Pada hal angan – angan itu tidak pernah menjadi suatu kenyataan. Contohnya rumor tentang balas dendam PKI yang menjadi latar pembantaian mulai dari 1966 – 1969″.

 

Tragis menjelang keruntuhan singgasananya  beliau diberinya  stigma “Si Raja Tega” bahkan beliau dipermalukan oleh Majalah Time yang memuat laporan utama “Soeharto Inc. How Indonesia’s long time boss built a family fortune”. Dan Pak Harto menggugat dengan ganti rugi in materiil sebesar satu triliun rupiah yang oleh MA dimenangkan  oleh  dirinya. Namun oleh Transparancy International Stolen Assets Recovery (STAR) Initiative Program yang bekerjasama dengan PBB dan Bank Dunia ditetapkan bahwa Pak Harto sebagai pencuri kekayaan Negara terbesar di dunia. Setidaknya Pak Harto menduduki nomer teratas, diatas Marcos, yang kekayaannya diperkirakan US$ 15 miliar hingga 35 milliar.

Bahkan isu tersebut terjadi saat beliau tergolek menungu ajal dan Tabloid POSMO justru menjadikan cover berjudul “Manusia Bionic Man”. Serta saat pemakamannya menjadi bahan pembicaraan seluruh kontingen se dunia yang sedang menggelar hajat Pembukaan konferensi “UN Convention Against Corruption.  

 

Sungguh ironis, sebagai Bapak Pembangunan sekalipun dianggapnya tiran, yang dibenci toh banyak pula yang mencintainya bahkan banyak yang merindukan kehadirannya kembali di tengah rakyat yang telah kehilangan asa seiring penderitaan yang tak terperikannya lagi. Kewibawaan Pak Harto tak ada yang bisa menyangkalnya namun toh akhirnya paska pengunduran dirinya ibarat kesampar – kesandung, nyaris tak ada lagi yang mau menghormatinya dimana ekses “Satria Wirang” justru lebih menghunjam padanya  ketimbang pada diri  Bung Karno.

 

3.Presiden III, Prof. Dr. B.J. Habibie, 1998 – 1999

 

Pak Habibie yang secara mitologis ditasbihkan sebagai “Satria Jinumput Sumela Atur”. Atas keberhasilan tuntutan gerakan reformasi pari purna telah mengantarkan Wapres                         B.J. Habibie yang dalam Jangka Jayabaya disebutnya dari Negri Atas Angin (Angin Mamiri = Ujung Pandang) dan atau Nusasrenggi (Jerman ? = dwi kewarganegaraan) sebagai anak mas Pak Harto itu dicomotnya – dijumputnya dijadikan Presiden menggantikan Pak Harto. Secara spiritual pernyataan tokoh UI yang dijadikan staf ahli, Dr. Yusril Isa Mahendra terdapat kekeliruan tata cara penyerahan jabatan presiden padanya. Seharusnya Pak Harto sebagai pengemban mandataris MPR, seharusnya mandate tersebut dikembalikan terlebih dahulu pada Sidang Istimewa MPR, baru MPR mengangkat Wakil Presiden menjadi  presiden R. I. menggantikan Pak Harto. Seorang tehnokrat kaliber dunia, ternyata Pak Habibie tak luput dari kewirangan  pula. Seperti pernyataannya bahwa marhenisme itu  identik dengan komunisme sehingga merebaklah kontroversi di masyarakat. Kemudian dia dipecundangi oleh PM Australia, John Hovard. Konon B. J. Habibie adalah orang yang tidak bisa direndahkan, sehingga serta merta beliau menggelar referendum atas Provinsi XXVII Timor – Timur yang diperjuangkan mati – matian oleh rezim Pak Harto.  Namun karena kecrobohannya tersebut ,  Bumi Lorosae lepas dari pangkuan Bunda Pertiwi. Habibie dinilai tidak paham terhadap sejarah bangsa, bahwa Timor – Timur itu sebenarnya termasuk dalam wilayah territorial NPKRI yang telah dirumuskan sebelum kemerdekaan yakni pada rapat BPUPKI pada 10 Juli 1945, dimana daerah Negara Republik Indonesia meliputi : “Bekas Hindia Belanda;  Malaya; Borneo Utara, Portugis Timur & Papua seluruhnya”, yang dilaporkan dengan No. D.K.I/17-9 ke  Gunseikan Kakka di Jakarta, pada 18 Juli 1945.

 

Akan tetapi dalam acara milad X “Habibie Center”, ia menandaskan bahwa : “ Timor – Timur tidak pernah masuk dalam territorial NKRI”. (Kompas, Senin 16 November 2009). Soebadio Sastrosatomo (Alm) menambahkan bahwa :  “B. J. Habibie tentu jadi orang yang paling tidak mau mengais – ngais sejarah, sebab sudah kita tahu andil sejarahnya dalam ikut memorat – maritkan ekonomi rakyat dengan ‘teori – teori Habibienomicsnya’ yang bebas mengobral anggaran belanja negara untuk mewujudkan mimpi – mimpi megalomanianya”.

Proyek kapal perang rongsoknya yang diborongnya dari Jerman Timur dengan harga selangit sehingga menyisakan silang sengketa dengan Menkeu yang jujur dan bersahaja yakni Ma’ari Muhammad telah mencoreng namanya apa lagi dengan  hilangnya Timor – Timur. Setali tiga uang bahwa Presiden III, iapun dipermalukan oleh alam. Sosok yang dicomot untuk menjadi R.I. I ini hanya berlangsung sangat singkat kurang dari dua tahun. Ekses “Satria Wirang” masih menggelayuti dirinya.

 

1.      Presiden IV, Abdurraham Wahid, 1999 – 2001

Bangsa ini dipermalukan dengan ulah MPR yang menafikan mandat rakyat (>33% dari 48 parpol) untuk Megawati sebagai presiden yang justu memilih Gus Dur yang secara ragawi untuk sekedar menjadi satpam pun tak memungkinkan. Memang secara kemampuan tak diragukan bahkan secara mitologis beliau ditasbihkan sebaai “Satria tapa ngrame wuta ngideri jagad”. Secara HAM & demokrasi dengan menjadi Presiden tentu sah – sah saja hanya segi “kepatutan” yang mengusiknya dan hebatnya fenomena Gus Dur pun diikuti pula oleh Amerika Serikat  dimana seorang tuna netra bernama Mr. David Paterson dilantik menjadi Gubernur Bagian New York yang dilantik pada 17 Maret 2008.

 

Akibatnya berbagai parpol pendukung  Gus Dur yang kemudian tidak lagi seiring – sejalan itu, maka otomatis timbullah friksi, apa lagi pada 18 November 2000 di hadapan sidang pleno DPR Gus Dur seiring akan diadakannya interpelasi tentang kasus Buloggate & Bruneigate, Gus Dur menyatakan bahwa “DPR bagai Taman Kanak – Kanak“, yang membuat gerah mereka. Anehnya sungguhpun Gus Dur mendapat “Memorandum I dan II” dari DPR masih saja begitu pede. Ia selalu menyatakan tidak akan turun dari kursi kepresidenan, kalaupun diimpeachment dia pun tidak takut sama sekali tantangnya. Begitu bergemingnya Gus Dur bagai batu karang menghadapi tekanan demi tekanan itu. Oleh sebab itu DPR dan elit parpol semakin insten menggalang opini untuk segera diadakan sidang istimewa MPR.  Kejagung, Marzuki Usman, 2 hari menjelang sidang pari purna DPR mengumumkan bahwa : “Gus Dur tidak terbukti terlibat dalam kasus Buloggate (35 miliar) dan Brunaigate (US$ 2 juta) “. Tapi apa boleh buat MPR jauh lebih perkasa sehingga Gus Dur berhasil dilengserkannya, dimakzulkannya atau impeachment. Dan saat meninggalkan Istana Negara, para cameramen  TV secara vulgar mengabadikannya sekalipun hanya menggunakan celana kolor saja dan tanpa diedit disiarkannya secara langsung. Ironis sebuah karya jurnalistik yang kebablasan. Lagi – lagi ekses “Satria Wirang” juga meyelimuti sosok kyai yang humoris yang konon memiliki ilmu Laduni ini.

  1. Presiden V, Megawati Soekarnoputri, 2001 – 2004

Bu Megawati yang secara mitologis ditasbihkan sebagai “Satria Piningit Hamung Tuwuh”. Benar – benar piningit, tak ada yang tahu karena sosoknya  yang kalem dan biasa – biasa saja bahkan Pangdam Diponegoro, Majen Soejono pun merendahkannya dengan menyatakan bahwa Mega tak lebih hanyalah  seorang ibu rumah tangga.

Ternyata Mega adalah  hamung tuwuh, hanya bertumbuh sebagai pewaris Bung Karno, oleh karnanya sekalipun dihalang – halangi untuk menjadi ketua partai  PDI oleh rezim Pak Harto atas kemauan alam justru dia melaju tak ada yang mampu membendungnya sekalipun reka yasa itu telah dilakukan secara masif oleh jajaran ABRI di bawah Jenderal Faisal Tanjung dan oleh Depdagri di bawah Yogi S. Memet. Bahkan simpati massa termasuk anak balita telah mampu mengantarkannya menjadi Wapres yang kemudian sebagai Presiden R. I. ke lima.

 

Dalam kepemimpinannya yang mengklaim  sebagai partainya wong cilik, justru suara mereka tidaklah didengarkannya. Bahkan beberapa wong cilik di DKI  digusur oleh gubernur Sutyoso, uang ia restui ketimbang kadaernya sendiri  toh  Mega tak dapat bernuat apa-apa. Kebutuhan pokok naik harganya sekalipun masih sangat wajar bila dibandingkan dengan saat ini. Memang stabilitas keamanan lebih kondusif dan kurs rupiah stabil, hanya sulit ditepis bahwa Mega tak kuasa untuk tidak menjual Indosat dll. Juga oleh Jacob Nuawea sebagai Menakertrans diperkenalkanlah sistem “out sourching” dalam memenuhi recruitmen staf di berbagai perusahaan bahkan kini berlaku pula bagi BUMN dll. Sungguh hubungan industrial PANCASILA dinafikannya apapun alasan yang ada kala itu, sebenarnya tidak boleh terjadi.

 

Hal yang ambigius ia mengecam program BLT Rezim SBY namun saat gencar – gencarnya kampanye Pilpres 2009, justru seolah mendukungnya kalau tidak terkesan bahkan sebagai inisiatornya. Sebagai mantan Presiden R. I., nampaknya kurang menunjukkan sikap pesatuan dengan selalu saja absen saat HUT Kemerdekaan digelar di Istana. Apapun alasannya sangat merugikan dirinya. Dengan hilangnya ke dua pulau Sipadan & Ligitan pada 17 Desember 2002 oleh Mahkamah Internasional (ICJ) menjadi hak wilayah territorial Malayasia, walau hal ini merupakan sengketa lama di kala Pak Harto masih berkuasa, telah mempermalukan dirinya. Bahkan oleh para pendukung setyanya sendiri  PDIP digembosinya dengan membentuk Partai tandingan yakni Partai Demokrasi Perjuangan (PDP) yang dimotori oleh BB Yanis dan Laksamana Sukardi, walaupun bernasib hanya sebagai partai penggembira saja yang tidak mengakar. Atas berbagai kekurangan dan kejadian tersebut nampaknya ekses “Satria Wirang” juga menghinggapi dirinya.

 

BERSAMBUNG//SAMPURNA

 

Read Full Post »

SALAM BUDAYA!

Jaya! Rahayu – Widada – Mulya.

 

Sebagai anak – anak bangsa sekalipun bangsa & negara ini sudah ada yang mengurus, kita tidak boleh hanya sekedar menonton dan atau bahkan menghujatnya saja karena bagi Proklamatoris yang tak mungkin lepas dengan PANCASILA memiliki tanggung jawab sosiala sebagai perwujudan KAM (Kewajiban Asasi manusia Indonesia Nusantara Jaya) apa lagi bagi muslim – muslimah terdapat semboyan “HUBBUL WATHAN MINAL IMAN”, Cinta Negara adalah sebagian dari iman! Karena dengan doapun lebih dari cukup sehingga kita semua pasti bisa melakukannya. Semoga.

 

A.JANGKA RNG. RANGGA WARSITO III TENTANG JAMAN KEMAKMURAN.

 

Dalam sajian ini peyaji lebih suka menggunakan kata “jangka” bukan ramalan, karena untuk memberi penghargaan dan rasa syukur karena tidak saja dekat akan tetapi mengerti dengan GUSTI – nya sehingga sang pujangga dianugerahi informasi dini oleh Tuhan Seru Sekalian Alam atau melalui bahasa Birokrat – NYA sehingga akurasi dari bocoran itu tepat. Sementara sebuah ramalan adalah banyak dipengaruhi oleh unsure subjectivitas sekalipun banyak didukung oleh berbagai factor sehingga akurasinya masih diragukannya. Satu fakta bahwa RNg. Ronggo Warsito sekedar menyampaikan apa yang dianugerahkan TUHAN, dia tidak pernah korup atas apapun yang TUHAN berikan, sejelek apapun yang akan menimpa dirinya dan atau keturunan dan atau generasinya nanti seperti dalam dua kitabnya  yakni “Rajanata piningit & Rajawedha piningit” yang merupakan karya kolaborasi atas hasil kontemplasi, samadi, meditasi atau tawakur – tahanut bersama – sama dengan Susushunan Paku Buwana IX dan Sri Mangkunegara IV.

 

Oleh karnanya sangat disayangkan informasi dini yang telah dianugerahkan pula kepada Jayabaya dan atau Sabdo Palon juga kepada RNg. Ronggo Warsito yang banyak terbukti akurasinya sama sekali tidak dimanfaatkan oleh bangsa ini misalnya bila jangka itu berakibat buruk, kewajiban kita melakukan upaya agar hal tersebut tidak terjadi atau setidaknya ekses negatifnya seminim mungkin. Bukankah terdapat semboyan :“KODRAT BISA DIWIRADAT” ?.

 

Adalah hak MUI  guna mendeklarasikan hasil Munas  VII yang ditutup pada 29 Juli 2005 di Istana Wakil Presiden yang telah menetapkan 11 fatwa haram termasuk “Perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) serta doa bersama dalam bentuk muslim & non muslim berdoa secara serentak hukumnya haram”. Esensi pluralisme, e pluribus unum, kepelangian, kemajemukan, kekitaan sebagai multi kulturalisme telah dinafikannya. Sungguh tidak bisa dibayangkan manakala itu mengikat maka betapa kacaunya saat bangsa ini merayakan dirgahayu Proklamasi, hanya sekedar guna menyampaikan rasa syukur dan berdoa keharibaan – NYA pun begitu repotnya karena yang non muslim harus menyingkir terlebih dahulu dan sebaliknya. Quovadis bangsaku. Sedangkan TUHAN adalah Maha Tahu – Maha Menerima dengan Maha Rahman & Maha Rakhimnya.

 

Oleh karnanya fatwa tersebut secara spontan menimbulkan polemic di masyarakat  dan tak ketinggalan Gus Dur selaku Ketua Umum Dewan Syuro PKB, menolak keras ke 11 fatwa MUI tersebut. Menurutnya Indonesia bukan suatu Negara yang didasari satu agama tertentu. Selain itu, MUI dinilai bukan institusi yang berhak menentukan apakah sesuatu hal benar dan atau salah”. (Kompas Saptu, 30 Juli 2005).

Bukankah nabi Muhammad pernah bersabda bahwa : “Pada akhir zaman nanti umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan yakni :

1.      Umat Yahudi akan terpecah belah menjadi 71 golongan, satu  golongan masuk syurga lainnya masuk neraka.

2.      Umat Kristiani akan terpecah – belah menjadi 72 golongan, satu golongan masuk syurga, lainnya masuk neraka.

3.      Umat Islam akan terpecah – belah menjadi 73 golongan,  semuanya masuk neraka, hanya satu yang benar yaitu yang tetap berpegang teguh kepada Allah dan rasul – NYA, (Alqur’an dan Hadist).

 

Esensinya sesuatu yang saat disabdakan oleh rasulullah belumlah terjadi dan merupakan suatu peringatan bagi umat Muhammad saw. Lalu apakah itu merupakan jangka atau ramalan para sidang pembacalah yang dapat memaknainya.

 

Proklamasi dan atau Jaman Kemakmuran itu jauh hari telah disampaikan oleh pujangga agung RNg. Rangga Warsito (III), dalam kitab ‘Sabdo Jati’ dengan candra sengkala (tahun Jawa yang dipuitiskan dengan jiwa isoteri) yang berbunyi “ WIKU MEMUJI NGESTI SAWIJI” , maknanya : Sang Pujangga bepuja dan berpuji dengan doa mohon kesatuan – kemanunggalan. Sebagai lambang dari angka = wiku (7), memuji (7), ngesti (8) dan sawiji (1). Terdapat angka = 7781 dan harus dibalik sebagai tahun yang berjalan yakni = 1877 yang bertepatan dengan tahun Masehi 1945.

Kemudian masih diulanginya dalam kitab ‘Joko Lodang’ dengan candra sengkala : “WIKU SAPTO NGESTI RATU”, maknanya sama bahwa wiku (7) Sapto (7), ngesti (8) dan ratu (1) = 7781 = 1877.

Perlu dicatat bahwa tahun Masehi 1945 itu terdapat dua tahun Saka Jawa yakni 1876 dan 1877, Nah Rangga Warsito dalam karya futuristic nampaknya lebih suka menggunakan angka tahun 1877 sekalipun itu setelah bulan Agustus (1945). Atau bisa jadi karena alasan lain.

  1. HOROSCOPE NUSANTARA

Pada tanggal 8 Ramadan 1364 H dan atau 9 Pasa 1876 SJ yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945, harinya Jumat dan pasarannya Legi, yang jumlah naptunya = 11; dan secara horoscopis khas Nusantara ditinjau dari sudut Sapta wisesanya/zodiaknya  jatuh pada “SATRIA WIRANG”. Dapat ditambahkan bahwa rasi zodiac khas Nusantara ini dibagi dengan kata “wuku” (uku) yakni dalam 1 wuku = 7 hari yang dimulai dengan hari Minggu (Nga’ad) dengan jumlah rasi setahunnya = 30 wuku = 210 hari. 30 wuku itu dimulai dengan nama “Shinta” dan diakhiri dengan “Watu Gunung”, sebagai suami Shinta. Anehnya nama – nama wuku itu menggunakan nama – nama keluarga besarnya sekalipun  merupakan hasil  hubungan insex, karena tidak saja sang ibu yang dikawininya akan tetapi bibi – bibinya juga. Dalam perbintangan khas Nusantara ini memuat nama dewa, paringkelan (saat naas) dan berbagai unsure lainnya.  Disamping itu masih ada yang disebut dengan “Pranata Mangsa”, 12 masa yang umurnya sama dengan tahun Masehi hanya durasi masa satu dengan yang lain tidaklah sama. Yang merupakan rangkuman sunatullah atas tanda – tanda alam & kejadian  yang utamanya memberi panduan untuk kaum tani sebagai negri agraris dalam memberdayakan potensi tanah dan benih serta air dan lain sebagainya.

 

Ada sisi lain yang dipercaya sangat berpengaruh pula dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa & bernegara yakni Sapta Wisesa(pancasuda), 7 karakter yakni :

1.       Wasesa sagara (kuasa samudera), baik.

2.       Tunggak semi  (tunas yang bersemi), baik.

3.       Satria wibawa (satria yang berwibawa), baik.

4.       Sumur sinaba (sumur yang senantiasa dikunjungi orang), bail.

5.       Satria wirang (satria yang selalu dipermalukanya), buruk.

6.       Bumi kapetak (bumi yang dikapling – kapling), buruk.

7.       Lebu katiup angin (debu tertiup angin), buruk.

 

Perbedaan dengan horoscope lainnya adalah tentang durasi bila zodiac Nusantara berlaku saban hari sebaliknya zodiac lain berlaku secara mingguan. 7 karakter tersebut akan selalu berbeda dari minggu ke minggu yang masih dilengkapi dengan :”Pawukon (30 wuku/uku dalam setahun = 210 hari) serta Pranata Mangsa (12 bulan)”. Sehingga bahasa TUHAN &  atau ALAM yang diterjemahkan dengan hati dan akal yang dilengkapi dengan ilmu titen (pencermatan segala fenomena dan fakta) akan saling melengkapi dan analisanya semakin cermat, apa lagi perbedaan waktu baik detik, jam saja akan menyebabkan perbedaan kharakteristik bagi orang yang satu dengan yang lainnya. Sayang bisa jadi karena dianggapnya rumit dan detail serta complicated justru telah ditinggalkan oleh anak – anak bangsanya sendiri.

Watak dari Satria Wirang ini adalah “selalu saja dipermalukan”, baik oleh orang lain atau oleh diri sendiri atas perbuatan kita sendiri dan atau oleh alam tu sendiri.

 

Secara lengkap horoscope tesebut sebagai berikut :

Secara horoscopis tradisional Jawa, sebagaimana Kalender Sultan Agungan atau kalender Mataram sebagai berikut :

1. Hari                                :  Jumat

2. Pasaran                         :  Legi

      3. Tanggal                 :  9 Pasa 1476 SJ/8 Ramadhan 1364 H

4. Bulan                             :  Pasa (Ramadhan/Saum)

5. Tahun                            :  Ehe, 1876 SJ

6. Windu                            :  Kuntoro

7. Wuku                             :  Manail

8. Sapto wisesa             :  Satria Wirang

9. Pal Dwadacaaksara       :  Bathara Iswara

10. Pal Kenabian                :  Nabi Idris

 

Dalam horoscop tersebut di atas terdapat dua tengara alam yang sangat mempengaruhi perjalanan berbangsa & bernegara yakni :

(1). Pengaruh Sapta Wisesa yakni : “SATRIA WIRANG”.

(2). Penobatan Bung Karno dalam windu “KUNTARA” yang oleh sang pujangga   diwartakan sebagai      berikut : “Sasmita Windu Kuntara adalah : “Kalau ada Raja (Presiden) yang  berkuasa pada windu ini, akan panjang umurnya akan tetapi ditengah – tengah kekuasaannya, orang kecil/kawula alit banyak yang berani melawan penguasa dan bakal ada perang besar“.

 

Bukankah hal tersebut telah pula menjadi suatu kenyataan ? Dalam perjalanan Republik tercinta ini terjadi perang melawan Belanda baik perang kemerdekaan – kless Belanda I maupun kles II serta bebagai pemberotakan oleh anak – anak bangsanya termasuk Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau G30S PKI yang oleh Bung Karno disebutnya Gestok (Gerakan Sati Oktober) yang memicu Bung Karno, didemo secara besar – besaran oleh mahasiswa yang tergabung dalam KAMI – KAPPI sebagaimana scenario “invisible hands” dengan “Tritura” bahkan kemudian diikuti oleh  pembantaian oleh rezim Soeharto terhadap anggota PKI dan yang disangkakannya bahkan banyak Soekarnois yang menjadi korban. Lihat bagaimana Waperdam III dan sekaligus Ketua MPRS Chairul Saleh setibanya dari RRT langsung dijebloskan di RTM hingga akhir hayatnya tanpa suatu proses peradilan ?. Dan Ketua Mahmilub  Kol. CKH.AD M. Sidik Kardi, SH (Nrp. 15823) karena menolak memahmilubkan Bung Karno yang tidak ada bukti dan tuduhan sangat naïf, irasional dikatakan Bung Karno telah merebut kekasaannya dari tangannya sendiri. Akibat penolakan tersebut maka ia dijeblokan dalam penjara dengan penyisaan di luar batas perikemanuiaan selama 12 tahun 4 bulan (7 Agustus 1967 – 8 Desember 1979) dengan dakwaan dirinya terlibat G30 S PKI, tuduhan bohong & rekayasa dan tanpa proses pengadilan. Keluarganya diusir dari rumah milik pribadinya di Jl. Taman Tanah Abang III No. 21 yang diokupasi oleh AD. Dan tentu masih begitu banyak dialektika dan korban yang tak terhitung jumlahnya itu. Alasan “mendem jero mikul dhuwur terhadap diri Bung Karno” adalah sandiwara  belaka.

 

Nah Nampaknya pengangkatan   Yudhoyono sebagai Presiden R.I untuk masa bakti kedua kalinya pada 20 Oktober 2010, jatuh pada Windu Kuntoro pula. Akankah beliau mengikuti nasib Bung Karno dan atau Gus Dur yang mendapat impeachment atau pemakzulan ?. Walahu ‘alam bishawab.

Namun sayang banyak para spiritualis yang telah mengirim surat ke Presiden jauh sebelum saat “Tumbug Ageng“, toh tidak ada denyut ritualitas apapun bentuknya. Bisa jadi karena surat tidak diterima Presiden SBY karena mungkin petugas sensor dari Sekneg menganggap tidak layak untuk diteruskan dan atau diteruskan namun Presiden menganggap hal tersebut tahyul dan menyimpang dari ajaran agama Islam. Wallaahu a’lamu bishswab.

 

Dalam pananggalan Jawa bahwa siklus waktu yang seluruhnya karakteristik – horoscopicnya sama persis adalah saat terjadi  siklus “tumbug ageng” (bertemu keseluruhannya). Nah pada 9 Ramadhan 1940 SJ adalah “Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia LXIV (ke 64).Yang betepatan dengan tanggal Masehi 21 September 2007. Seharusnya Pemerintah berkenan menggelar acara ritual khusus dengan menggelar “Raja Suyo”. Apa lagi sudah banyak surat dari warga masyarakat yang menggeluti horoscope Nusantara termasuk para spiritualis yang telah mengirim surat ke Presiden jauh sebelum saat “Tumbug Ageng“, namun toh tidak ada denyut ritualitas apapun bentuknya. Bisa jadi karena surat tidak diterima Presiden SBY karena mungkin petugas sensor dari Sekneg menganggap tidak layak untuk diteruskan dan atau diteruskan namun Presiden menganggap hal tersebut tahyul dan menyimpang dari ajaran agama Islam.  Wallaahu a’lamu bishswab.

 

Sebagai bangsa yang didzolimi oleh Nekolim telah menjadikan bangsa & Negara ini kuat dan besar bahkan  mampu menjadi inspirator  (trigger off) bahkan akselerator kemerdekaan bagi puluhan Negara – Negara di dunia dan sempat menjadi pemimpin dunia, setidaknya dalam Konferensi Asia – Afrika (KAA) yang telah mampu menelorkan PIAGAM “DASA SILA BANDUNG”. Indonesia juga besar jasanya terhadap RRC karena Bung Karno tak segan – segan mendesak PBB agar RRC sebagai pemilik budaya terbesar dan berpenduduk terbesar dunia,  harus dan mutlak menjadi “Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB”.

Kekuatan armada tempur negeri ini seiring  perang “TRIKORA” dalam menyatukan bumi Cendrawasih dari cengkeraman Belanda, sungguh sangat membanggakan dengan pesawat pembom tercanggih T 16, dan belasan kapal selam dan puluhan armada perang & penyapu ranjau yang membuat kagum bagi Negara – Negara sahabat dan ciut nyalinya bagi Negara – Negara nekolim termasuk Malay yang dianggap oleh Bung Karno sebagi Negara boneka Nekolim. Apa yang dinyatakan oeh Bung Karno kini baru menjadi suatu kenyataan bagaimana polah tingkah negara dan warga Malay terhadap bangsa & Negara tercinta ini.

Ekses watak “Satria yang dipermalukan”,  justru tidak saja terhadap sosok masing – masing presiden R.I. yang kita hormati akan tetapi seluruh bangsa ini ikut pula dipermalukannya. Bagaimana bloggers Malay dengan bangga melecehkan dengan memelesetkan kata – kata dalam lagu “Kebangsaan Indonesia Raya” yang tidak senonoh, bagaimana mereka menyebut kita sebagai “Bangsa Indon”, kemudian menyebutnya sebagai “Bangsa Indonesialan” dan yang terakhir “Bangsa Babindon”. Juga bagaimana masyarakat Arab Saudi yang memperlakukan TKW saudara kita tak ubahnya sebagai budak belian sebagai tradisi – adat istiadat masyarakat di Tanah Suci itu. Ribuan anak – anak Merah Putih menggelandang di bawah jembatan dan berapa ribu anak – anak tanpa bapak dan dipancungnya seorang TKW yang tanpa diketuai oleh kedutaan besar Indonesia di Arab Saudi. Eloknya raja Arab Saudi, Abullah oleh Universitas Indonesia sebagai universitas terbeken di Republik ini dihadiahkanlah anugerah “DOKTOR HONORIS CAUSA”, yang dianggapnya memiliki maha karya di bidang kemansiaan! Yang tak pelak menimbulkan kontroversi di tubuh UI sendiri dan masyarakat luas. Integritas sebuah Universitas yang mandiri  & netral seolah telah bertekuk lutut hanya oleh uang gara – gara sang raja pernah menyumbang universitas tersebut. Sungguh suatu pelecehan yang sangat menyinggung harga diri bangsa di tengah derita – luka lara para TKW dan mantan TKW di Arab tsb.

 

BERSAMBUNG//SAMPURNA

Read Full Post »


SALAM BUDAYA!

JAYA – RAHAYU – WIDADA – MULYA DUNIA AKHERAT DOA & PUJI KAMI UNTUK SEMUANYA.

 

Nama – nama elit Partai Demokrat nampaknya dipakainya oleh alam untuk menyindir peri laku adharma yang jauh dari sikap seorang negarawan yang dapat dianggap merefleksikan demoralisasi bagi seluruh bangsa Indonesia ini. Maka ada satire bagi PD seiring kepulangan Nazar yg menggunakan alegoris yakni:

 

1.      Aduh – aduh Anas – Anas2!

2.      Tolong  Diibas – ibas!

3.      Karena dalam bulan “Pembakaran – Ramadhan” dengan semangat beribadah & mendekatkan dirinya keharibaan Sang Khaliq, akhirnya hasilnya hanya mak “POH”. ANcur berantakan.

Sedangkan Pak Beye selalu mengingatkan agar para anggota Partai Demokrat senantiasa  berpolitik dengan  santun dan cerdas.

 

4.      Amat sayang gerbong Partai Demokrat kebanyakan diisi oleh orang – orang yang disebutnya  Situmpul, maaf banyak pihak menilainya IQ – nya jongkok baik dalam matra kecerdasan emosi, kecerdasaan intelegensia dan kecerdasan spiritualnya.

 

5.      Sampai – sampai Ketua DPR terus – terusan dicaci maki  masyarakat : “Juki – juki – juki mai ! Dasar Ali tidak henti – hentinya senantiasa memberi pernyataan yang bertolok belakang dengan kebijakan Sang Ketua Pembinanya pada 23 Juli  lalu. Mereka berkomentar , cerdas apanya kalau  punya ide untuk pembubaran KPK & pembebasan para koruptor setelah mengembalikan uang korupsinya ? Maka tak ayal petinggi PD yang menjabat Ketua DPR inipun sudah empat kali diadukan ke Dewan Kehormatan DPR.

 

6.      Sungguh ironiss semua kebijkan  partai dan arahan Ketua Dewan Pembina & Ketua Dewan  Kehormatan PD serta software PD menjadi sia – sia, menjadi “Muba(sir)” adanya.

 

7.      Karena “Ro(c)k”, kaya Batu – Ngana semua! Kerasnya hati para elit PD yang justru diantara  mereka saling serang dan menyudutkan serta merendahkannya. Satu sisi sikap menjilat, ABS begitu kental yang tidak mau berkaca pada pengalaman kejatuhan rezim Bung Karno, Pak Harto maupun Gus Dur seiring adanya para pembisik.

 

8.      Sungguh ironis “Mala” atau penyakit tersebut justru demikian suburnya yang tertuju pada maaf meminjam kaidah bahasa Jawa ada kata jadian dari dua suku kata yakni seperti sura (berani) ing laga (perang)….; menjadi “sureng – laga”. Maka mala (memala – penyakit) marang – ing (mranging) “kejujuran – kebenaran – keadilan’ sehingga kebohongan yang mewabah jadinya.

 

9.      Akibatnya burung Nazar pun nyaring kicauannya yang mampu menohok siapapun yang menjadi  bidikannya, pimpinan KPK, elit PD dan para menteri dan lain sebagainya.

 

10.    Sayang bendera putih telah dinaikkan karena “Nurnya” telah menemui “Pati” ajal, sehingga nur keadilan – nur kebenaran – nur kejujuran – nur bela Negara – nur patriotisme semuanya telah raib karena godaan tiga T yakni “tahta – harta dan wanita” yang sengaja ditebar oleh para  zionisme itu.

 

11.   Tapi enlightening – kesadaran untuk introspeksi – ektrospeksi – retrospeksi dan sircumspeksi dalam berbangsa & bernegara tidak pula kunjung sadar bahkan dibiarkannya. Ben – ben, Nih  Kang; Haer – haer (bahasa Arab), baik – baik biarkan saja MAN! EGP ?

 

12.   Maka bila sudah begitu jadinya sungguh – sungguh benar – benar “Angel”, sukar sekali apa lagi  justru cipika – cipiki tidak ada rasa  keprihatinan, rasa krisis, rasa SOS dalam berbangsa &  bernegara. Sungguhpun demikian sejatinya bila tahu kuncinya masih ada dewa penolong yakni  “Angel – INA”, Bidadari – Bidadara Indonesia Nusantara Jaya.

 

13.  Kini banyak diperlukan anak – anak idiologis Muhammad, Son Mustapa yang harus hijryah menjad insane – insane Demokrat yang terpuji yang benar – benar tidak hanya slogan memberantas KKN, benar – benar patai yang solid. Dzikir Ya Mustapa – ya Muhammad dan seterusnya perlu  digalakkannya. Agar suara bela Negara “Hubbul wathan minal iman”, cinta Negara adalah sebagian dari iman!

 

14.  Bila itu dapat dihayati secara frontal, menyeluruh maka esensi nilai “samsu” ( 3 & 4 = 7) dari  Adien, sinar kemulyaan – sinar kebenaran – sinar keadilan akan dapat tercapai. Tujuan hijryah  berhasil.

 

Namun bila tetap enjoy dengan kondisi yang ada Bergelimang dengan adharma maka nampaknya sulit untuk menafikan adanya kehancuran Partai Demokrat. Sehingga bila ada Pemilu 2014 maka rakyat akan meninggalkannya karena mereka tidak mau kejebur untuk yang kedua kalinya, melakukan blunder.

 

Itulah yang bisa diambil hikmahnya dari nama – nama yang dipinjamnya demi kebaikan Bunda Pertiwi. Semoga yang memiliki nama ihklas memberinya pelajaran dan tulada bagi bangsa tercinta ini. Dan mohon dimaafkan bila tidak berkenan. JAYALAH INDONESIA NUSANTARA KU!

SAMPURNA

Read Full Post »

SALAM BUDAYA!

Jaya! rahayu – widada – mulya dunia wal akherat semoga teranugerahkan kepada kita sekalian beserta keluarga besar dan bangsa ini.

Saudaraku setanah air, yang tua & muda, wanita maupun pria, dimanapun adanya &  apapun profesinya yang telah diikat oleh rasa persaudaraan yang bermanifestokan ‘BHINNEKA TUNGGAL IKA” yang selalu dalam kepakan sayap SANG BURUNG ELANG RAJAWALI “GARUDA PANCASILA”.

Nyaris penyaji kehilangan kata – kata setelah saban hari Bunda Pertiwi tersucikan oleh derai air mata dari saudara – saudara kita yang sedang berduka kehilangan sanak saudaranya. Derai airmatanya belum kering telah terjadi musibah kebakaran di Surabaya, FERI “KIRANA IX” pada Rabo 28 September yang menewaskan 9 orang yakni 8 orang umumnya nenek – nenek yang terinjak – injak serta seorang laki – laki yang tercebur ke laut yang hingga kini jasadnya belum diketemukan menyusil jasad – jasad terdahulu korban KM. WINDU KARSA (27 = 9); KM. SRI MURAH REZEKI (13) ; KM. PERMISI, di Leotobi, Flores Timur dan KM. PUTRI TUNGGAL di Pulau Raas, Madura dimana 13 orang yang semuanya raib!

Yang disusul jatuhnya pesawat Cassa 212 yang berpenumpang 18 (9) dari Polonia menuju Kuta Cane, Aceh Tenggara pagi tadi 29 September jatuh yang belum tahu nasibnya. Yang eloknya sang pemilik bernma ‘NUSANTARA BENUA”.Sayang hingga tulisan ini muncul masih belum tahu nasib crew dan penumpangnya, semoga mereka diketemukan dalam keadaan selamat sekalipun ada di atas pohon dan atau pun di tepi jurang.

Gita alam apa lagi dari semua iti?. KIRANA mengingatkan kita pada kisah PANJI yakni  Galuh Candra Kirana dengan Ibnu Kertopati di jaman kerajaan KEDIRI. Nampaknya memiliki pesan moral ‘AGAR BANGSA INI KEMBALI PADA DIRINYA (NURANI & JATU DIRI) kemanakah sikap – kepribadian patriotisme  – pahalawan yang telah ditorehkan oleh arek – arek Surabaya yang  peristiwa heroik 10 November 1945 diberinya stigma ‘HARI PAHLAWAN”! KIRANA = naptunya KA (5); RA (4) dan NA (2). kara = 9 (Sinbolisme angka Pak Beye) dan 11 (simul angka nabi Muhammad).

Yang perlu dicermati soal angka selalu saja didominasi oleh alegoris 9 = Pak BEYE dan 13 = Angka Sial Partai Demokrat.

Tentu bangsa ini berharap & berdoa semoga Pak Beye benar – benar mampu mewujudkan janji – janjinya agar lulus sampai 2014 namun bila tidak banyak pengamat berpendapat bahwa nampaknya tahun 2012 merupakan ujian akhir bagi beliau mengingat akumulasi persoalan bangsa & negara  yang semakin mengendap dan menggunung yang  amat sulit terbenahi secara cepat dan akurat serta selamat. Resuffle Kabinetbila ada bisa jadi tetap akan kalah cepat dengan gerak alam yang tak lagi bisa disalahkannya.

F. JANJI ALAM

Bumi adalah ”ibu mami”. Kata ibu adalah kerata basanya ”ingat – bumi”, karena dialah yang menghidupi umat – NYA, sementara ibu kandung adalah yang ”ngurip – urip” atau ngreksa uripe bagi anak – anaknya dengan penuh kasih sayang. Bila sakit dirawat di obatinya dan lain sebagainya. Sementara Langit disebut Bapa Kuasa karena dia yang memberi hidup dengan Oksigen bagi semua mahkluk –NYA. Adapun GUSTI, Pangeran, Alloh SWT,  Allah, Sang Hyang Widi Wasa, Sang Hyang Adi Budha, Thien adalah Sang Khaliq, SANG MAHA PENCIPTA. Oleh karnanya dalam budaya kearifan lokal terdapat sebutan ”IBU BUMI – BAPA KUASA (ANGKASA)”.

Bahkan dalam literatur Hindu dinyatakan bahwa pengucapan trisandhya, kata pertamanya adalah berbunyi ”OM BRUR” yang maknanya adalah ”TUHAN DIKAU ADALAH BHUMI”, ibaratnya tak ada TUHAN tak ada BHUMI. Bukankah TUHAN memberikan kehidupan & kasih sayang – NYA kepada umat – NYA itu melalui bhumi juga ?. Sungguhpun demikian makna di atas seyogyanya tidaklah dimaknai secara harfiah karena tidak identik bahwa BUMI ADALAH ANSIH SEBAGAI TUHAN, Karena unsur bumi adalah merupakan salah satu unsur kejadian manusia.

Langit & Bumi yang pernah menerima amanat TUHAN namun karena ketawadlukannya, dikemanlikan pada NYA, dan betapa besar kekayaannya, betapa besar kasih sayangnya, betapa besar ketenangannya demi anak – anak yang beliau lahirkan dan susuhi maka dia begitu bangga & bersyukur serta sekaligus menjadi saksinya ketika anaknya sang Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 (8 Ramadhan 1364 H/9 Pasa 1876 SJ) juga keseokan harinya membentuk NEGARA PROKLAMASI KESATUAN REPUBLIK INDONESIA yang berdasarkan ”PANCASILA” dengan juklaknya ”UUD 1945”, SEBAGAI DASAR IDIOLOGI – MORAL – SPIRITUAL DALAM BERNEGARA DENGAN MEWUJUDKAN

Janji ALAM nampaknya diwujudkan dengan terjadinya gempa bhumi ”TARUTUNG”  beberapa bulan lalu. Lho bagaimana mungkin ?. Bisa jadi itu suara Alam menggunakan alegoris nama daerah itu. TARUTUNG yang artinya : Percayalah bila anak – anak bangsa ini komit – konsiSten – konsekwen dan berkesinambungan senantiasa menghayati Amanat Proklamasi tersebut di atas maka ”PASTI NANTI – (TAR)  SANGAT BERUNTUNG” !

Tapi bagaimana akan menjadi bangsa yang beruntung melaksanakan dan menghayatinya saja tidak mampu & tidak mau tapi justru amanat tersebut dikhianati dengan menggantinya dasar negara, bentuk negara dan konstitusi negara serta budaya bangsa? Ironisnya sekalipun ada yang menyadari kesalahannya pun tidak mau dengan kesatria mengakui kesalahannya dan memperbaiki serta kembali kepada wasiat, warisan, amanat & amanah The Foundings Father, para pejuang, para pahalawan, para syuhada dan para pendahulu kita. Quovadis!

G. LAKUKANLAH SEGERA SEBELUM SEGALA SESUATUNYA TERJADI KARENA SESAL KEMUDIAN TAK ADA GUNANYA – TOBATAN NASUHA NASIONAL.

Resesi dunia nampaknya tak dapat dihindarkan sebagai akibat idiologi “KOMUNISME & KAPITALISME SERTA AGAMA” yang akhirnya jatuh ke titik nadir sebagaimana dinyatakan oleh Bung Karno dan hanya idiolgi PANCASILA – lah sebagai penyelamat dunia. Resesi di masyarakat MEE dan AS yang sekalipun telah menaikkan pagu hutang hingga US$ 14,3 Triliun dengan hutang barunya US$ 2,4 triliun, toh Obama masih harus menaikkan pajak pendapatan bagi masyarakat yang berpenghasilan minimum US$ 1 juta/tahun guna mengurangi devisit anggaran. Juga hal yang sama dilakukan di Spanyol dll. Nah dengan kondisi seperti itu para pelaku pasar tentu goyah sehingga ekses negatifnya akan merambah ke Negeri ini  sehingga bila tidak disiasati segera mungkin negeri ini pun praktis akan ikut terpuruk dengan sendirinya pada tahun 2012 seiring deraan alam yang mungkin lebih hebat seiring ramalan kiamat oleh Suku Maya pada 12 Desember 2012.

Setidaknya “KIAMAT PEREKONOMIAN” naga – naganya akan terjadi pula. Goro – Goro Sindhung Riwut kapan saja bisa terjadi bila solusi berbagai alternative tersebut tidak dilakukannya.

Nah bukankah GUNUNG MERAPI DI DIJ YANG BELUM LAMA MELETUS DAN HARI INI MERAPI DI SUMBAR MULAI BATUK – BATUK (20/09/11) meberinya isyarat bila tetap saja tidak ada kemauan hijryah secara revolutif di segala bidang bisa jadi kelak hanyalah akan “MERA(TA)PI NASIB BURUK BANGSA & NEGARA INI.

Maka seyogyanya Pak Beye beserta, para penyelenggara Negara &  seluruh perwakilan unsure bangsa berkenan menyadari bahwa NKRI INI SUDAH DALAM KONDISI GAWAT DARURAT SUDAH MENYUARAKAN “SOS”, SAVE OF OUR SOUL! Sebelum tobat kita tertutup, sungguh sangat menakutkan bila TUHAN SERU SEKALIAN ALAM MENOLAK TOBATAN NASUHA BANGSA INI karena ALAM telah menyerukan seiring adanya “GUNUNG LOKON”, di Minahasa yang meletus pada 4 Juli lalu, bukankah nama tersebut memberinya isyarat – alegoris sebagai “LOCKED ON”, pintu taubat sudah terkunci – sudah tertutup bagi pengikut “MAJELIS SYAETONI” siapapun mereka – siapapun kita adanya apakah yang mengaku sebagai ulama – santri – rohaniawan – pendeta dll yang mengingkari PANCASILA itu. Yang sekaligus sebagai LAKON ADI KODRATI BAGI NUSANTARA INI YANG KELAKNYA AKAN MENJADI MERCUSUAR DUNIA, tidak saja sebagai reaktualisasi hegomini ‘SRIMAJATARAM” (SRIWIJAYA – MAJAPAHIT – PAJAJARAN & MATARAM) akan tetapi sebagai rahim kebudayaan dunia serta kebesaran ATLANTIS itu!

G. DIPERLUKAN BANGKITNYA KAUM PROKLAMATORIS

Guna penyelenggaraan berbangsa & bernegara sesusai Karsa & Kuasa – NYA yang telah diwasiatkan – diwariskan – diamanatkan dan diamanahkan oleh Foundings Fathers dan para pendahulu kita sesuai PANCASILA & UUD 1945, sebagai komitmen moral – spiritual dan konstitusional bangsa & Negara.

Maka bencana banjir bandang ”WASIOR”, Wondama, Papua Barat pada 3 Oktober 2010 telah menindikasikan bahwa bangsa & Negara ini mutlak memerlukan adanya para “WARRIOR”, para hero, para patriotik, para Proklamatoris (pewaris dan penyelamat dan pemberdaya NPKRI) di tengah kehancuran bangsa & Negara ini. Kesadaran berbangsa & bernegara dengan menjaga persatuan & kesatuan bangsa yang dirajut dengan Bhinneka tunggal ika mutlak diperlukannya. Para Warrior itu amat sangat diperlukan untuk menjadikan WONDAMA!

Maka kata “WONDAMA” bisa memiliki makna dari WON (WIN) = MENANG & DAMA = IDAMAN ? artinya ‘KEMENANGAN & KEJAYAAN BANGSA & NEGARA SERTA (KE)DAMA(IAN) INI MERUPAKAN IDAMAN BAGI PARA FOUNDINGS FATHER, PARA PEJUANG, PARA PAHALAWAN, PARA SYUHADA DAN PARA PENDAHULU KITA SERTA SELURUH RAKYAT INDONESIA INI.

Sayang teramat sayang dan amat ironis bahwa patung – patung bermotifkan tokoh – tokoh wayang yang  merupakan simbul rakyat, abdi, pembantu, penasehat, pamomong para kesatria yang merupakan pengejawantahan dari Sang Hyang Ismoyo yakni KI LURAH SEMAR, juga BIMO tokoh kesatria yang jujur – lurus – bersih  dengan laku sufistik sehingga mampu menemukan jati dirinya – paham tentang dirinya sehingga kenal dan paham akan GUSTI – nya juga sosok GATHOTKOCO seorang kesatria utama pembela kebenaran & keadilan pemelihara kedaulatan wilayah! Patung – patung itu yang memperindah – estetika kota Purwakarta, yang member kesan bagi siapapun yang memasuki kota ini namun justru dihancurkan oleh para santri, para massa Islam sehabis melaksanakan istigotsah bersama, dengan teriakan ALLOHU AKBAR beramai – ramai secara histeris – kesetanan menghancurkan patung – patung tersebut.

Bahkan  BOM BUNUH DIRI di Solo pun terjadi. Mereka lupa bahwa Islam itu maknanya tunduk dan patuh berserah diri hanya keharibaan TUHAN SERU SEKALIAN ALAM. Mereka lupa bahwa makna esensi Islam itu telah termanifestasikan pada gerakan shalat saat ta’biratul ikhrom dengan mengangkat ke dua belah tangan yakni hand –up! Menyerah (kan dirinya secara total)! Maka menegakkan syareat Islam secara kafah – benar – tepat dan bersih adalah sebuah keharusan sebagai konsekwensi logis dasar Negara adalah “KETUHANAN YANG MAHA ESA”, yang bukan berdasarkan atas agama! Syareat Islam disini tentu bukanlah identik dengan  potong  tangan, hukum cambuk, hukum rajam, bunuh bagi pelaku kejahatan! Karena itu masih sebatas syareat muslimin saja bukan islam, lagi pula itu berlaku di zaman jahiliah agar memberinya ekses jera!. Toh di zamannya  rasulullah hal semacam itu pun tidak pernah dicontohkannya. Bahkan di dalam Piagam Medinah tak satu pasal pun mengamanatkan pendirian Negara agama! Syareat Islam dalam artian luas apapun agamanya adalah segala pikiran, ucapan dan perbuatannya selalu tercahayai – terhadiri Oleh Kemaha – Hadiran TUHAN SERI SEKALIAN ALAM. Jadi tidaklah  mudah mengatakan islam!@ Apa lagi syareatnya!.

Lalu bagaimana mungkin kita  akan mampu melaksanakan terciptanya umat yang rahmatan lil alamin bila sekedar satu gerakan dalam shalat pun tidak dijiwainya?. Kita teringat di tahun 1980 an stupa Borobudur yang indah dan tiada salah sebagai warisan dunia dan sebuah keajaiban atas nama ego kebenaran DIBOMnya yang hingga kini pelakunya masih misterius ?.

Bukankah berkat adanya Ka’bah  yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim menjadikan Arab Saudi makmur karena menjadi pusat peribadatan – ritual dunia ?. Bukankah Ka’bah juga represntasi dari patung – batu hitam yang bernama Hajar Aswad ? yang menyerupai organ V Wanita sebagai lambang “Sangkan paraning Dumadi” dimana semua jemaah haji sangat merindukan bisa menciumnya ?. Bahkan disimbolikkan sebagai RUMAH ALLAH? Yang sejatinya merupakan kiasan belaka ? RUMAH ALLAH yang dimaksud tak lain adalah HATI KITA yang otomatis sebagai KEBLAT! Mengapa ? Bukankah bila RUSAK HATI KITA maka rusak pulalah hidup & kehidupan kita” Dan sebaliknya bila HATI KITA BAIK maka akan baik pulalah hidup dan kehidupan kita. Bukankah ka’bah yang berbentuk kubus itu bila digambarkan secfara bagan akan menjadi gambar “PALANG”  atau + sebagai lambang kewajiban berhablum minalah dan berhablum minanas serta berhablum minal – ‘alamin ?.

Kekeliruan dalam memaknai Firman TUHAN dan atau sabda Nabi – hadist  Nabi, manusia sebagi Khalifah – NYA bisa jadi sontak diri kita berubah menjadi MONSTER! Dalam Hadist nabi : Qoola Rosulullah SAW : “Laa tadkhulul malaa ikatu baitan fihi kalbun” (Tidak mau masuk malaikat di salah satu rumah yang di dalamnya rumah itu ada anjingnya).

Sungguh kasihan nasib SI ANJING yang diciptakan – NYA dengan kasih sayang NYA yang pasti bukan untuk dibunuh – diracun – digebukin! Namun ironis, gara – gara agar rumahnya mendapat kunjungan sang malaikat, justru itulah yang kita lakukannya! Celakanya dengan mebunuh sebanyak – banyaknya anjing kita meyakini kita mendapatkan pahala sebagai tiket untuk masuk surga! Sedangkan secara tersirat maknanya ANJING adalah SIFAT JAHAT pada diri kita sebgai manusia. Membunuh 1.000 ekor anjing justru tak sedetik & satu malaekat pun yang berkenan  bertamu di rumah kita karena sifat anjing dalam diri kita justru semakin memuncak ! Nah apa lagi yang kita bunuh itu manusia sebagai RUMAH ALAH, sebagai BAIT ALLAH, yang dibunuh adalah esensi Dzat DIA pula, naudzubillah himindhalik.

Sebagai umat yang mengaku religius hendaknya menyadari bahwa di dalam kehidupan ini ada kaidah lain yang harusnya kita sadari bahwa dalam ilmu filsawat dapat di bedakan antara  

  • Etika yang tolok ukurnya  adalah  baik  dengan buruk
  • Estetika yang tolok ukurnya adalah indah dengan jelek
  • Logika yang tolok ukurnya adalah benar dengan salah.

Sementara diturunkannya agama Islam adalah dalam angka menciptakan suatu kehidupan yang rahmatan lil amin, bukannya menjadikan seragam dan menakutkan apa lagi disorder. OLeh karnanya dalam hidup – hayat – kayun, bagi manusia yang penuh misteri dan meseri itu ketiganya menjadi sebuah paduan guna “keselarasan & keseimbangan” antar berbagai unsure di atas, karena  sesuatu yang benar belum tentu indah dan yang indah belum tentu baik sebaliknya yang baik pun belum tentu benar. Khompleksitas tersebut hanya dapat dihayatinya dengan benar – tepat dan bersih dengan mempertajam adanya “RASA ING PANGRASA”! Yang bersumber pada qalbhu, nur – aini  atau nurani.

Dengan menyadari kondisi dan situasi berbangsa & bernegara seperti ini maka mayotitas umat Islam yang mendiami persada Nusatara ini hendaknya berkenan menghayati adanya sunah rasul yakni : “Hubbul wathoni (thin) minal iman”, CINTA TANAH AIR ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN.

KESIMPULAN

Dengan melihat berbagai kenyataan di atas maka judul renungan kita “BENARKAH BANGSA INI BELUM MERDEKA & GAGAL MEMPEROLEH KEMENAGAN ?” setelah pembakaran dengan puasa selama sebulan penuh itu ?  bagi bangsa & Negara ini ? akhirnya kami kembalikan kehadapan para sidang pembaca untuk menjawabnya masing – masing. Hem ruar biasa ada pendemo STATUSQUO VERSUS RESUFFLE KABINET! KPK VERSUS DPR! Dan akandiikuti oleh fenoena yang lebih absurb. Sulit untuk mengevaluasi mana MAJELIS MALAEKATI -  mana MAJELIS SYAETONIsebagai kepanjangan rezim DAJJALISME yang tidak nampak, tidak berbentuk, tidak bersuara namun baunya ada.

Yang gamblang dan jelas Bung Karno pernah mengingatkan bahwa : “Barang kali kita makin lama makin klejar – klejer makin lama – makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi ke lumpurnya muara ‘exploitation de l’homme par l’homme” en “exploitation de l’homme par nation”. Dan sejarah akan menulis : “Di sana, antara Benua Asia dan Benua Australia, antara lautan Teduh dan Lautan Indonesia adalah hiup satu bangsa yang mula – mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi “een natie van koelies, en een kolies onder de naties”. ( …… menjadi bangsa kuli dan kulinya bangsa – bangsa). (Pidato BK,17/08/63 “GESURI”).

Dan telah sering saya katakan, bahwa demokrasi adalah alat. Demokrasi bukan tujuan. Tujuan ialah satu masyarakat yang penuh dengan kebahagiaan materiil dan spiritual. Sebagai alat, maka demokrasi dalam arti bebas berfikir dan bebas berbicara harus berlaku dengan mengenal beberapa  batas . Batas itu ialah batas kepentingan rakyat banyak, batas pertanggungan jawab kepada TUHAN. Manakala batas – batas itu tidak diindahkan maka menjelmalah demokrasi menjadi anarkhinya si pandai omong  semata – mata”.

Nampaknya bangsa & Negara ini akan semakin sulit meloloskan diri dari belitan “9R” yakni ‘RUWET, RENDET, RUSAK, RUGI, RUSUH, RESEH, RISKAN, RAWAN & RENTAN”.

Apapun halang – rintang di depan kita yang semakin berat dan khomplek, sebagai bangsa besar sebagai cucu pejuang – pahalawan – syuhada dan pendahulu bangsa ini harus tetap optimistic dengan berkenan – tahu dan mampu melakukan “introspeksi – ektrospeksi – retrospeksi & sircumspeksi” dan melakukan perbaikan di seluruh peri kehidupan rakyat secara revolutif. Bukankah Bung Karno sejak lama telah mengingatkan kuncinya ?.

Revolusi adalah perjuangan, QS :Ar Ra’ad (13) ayat 11 : “Inallaha la yu qhoyiru ma bikaumin, hatta yu qhoyiru ma biamfusihim”.Firman Tuhan inilah gitaku : “Tuhan tidak akan merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”!.

Dan bagi Majelis Syaetoni, hendaknya tidak mengabaikan adanya adagium kearifan local yang berbunyi “SURA DIRA JAYANIKANANGRAT SWUH BRASTHA TEKAB ING ULAH DHARMASTUTI  ATAU SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI” yang maknanya  : “BAHWA BETAPAPUN SAKTI & BESAR KEKUASAANNYA, AKAN TETAPI KALAU UNTUK TUJUAN YANG TIDAK BENAR, TIDAK ADIL & MEMUJA ANGKARA MURKA APA LAGI DEHUMANISME MAKA PASTI AKAN SIRNA OLEH BUDI LUHUR & RAHAYU SERTA SIKAP KASIH DAN DAMAI”.

Akhirnya kita tutup dengan dua bait kidung “JANGKA SABDO PALON NAYA GENGGONG” pupuh Dhandhang Gula abjab Jawa “PA – DHA” dari 20 bait HA – NGA yang berbunyi :

Pepesthenne  NUSA tekan janji/Yen wus jangkep limang atus warsa/Kapetung jaman Islame/NUSA bali mrang INGSUN/JAWI BUDHI madhep nyawiji/Sapa kang ngemahana/Yekti nampi  BENDU/SUN ayakan putuningwang/Dadya tandha praptaning tundan dhedhemit/Nggegila myang nglelara//

 

Dha weweka jaman tundhan dhemit/Haywa angedirna ngelmunira/Nedya anglawan dhemite/Sira yekti ginuyu/Dening pra dhemit putu mami/Haywa hanantang yuda/Ananjakna ngelmu/Myang srana marupa – rupa/Kabeh iku tan pasah in awak dhemit/Mbalik anyabet sira/

Jenang sela wader kaln sesonderan – apuranta ten wonten lepat kawula//SAMPURNA

Yayasan Lembaga Budaya Nusantara

Read Full Post »

SALAM BUDAYA!

Jaya! Rahayu widada mulya semoga dianugerahkan kepada kita sekalian dan bangsa ini.

Tak habis – habisnya bangsa ini dipertontonkan oleh alam segala kejadian yang semakin menguras air mata.

Oleh karnanya kami terinspirasi untuk menandai adanya ‘MINGGU  & SENIN KELABU di minggu IV bulan September ini, yakni :

 

Minggu (25 September 2011) :

(1)   Terjadi bom bunuh diri di Solo di Gerejal Pepunton ,  seusai kebaktian jam 1045 WIB, terdapat 1 orang tewas (pelaku bom bunuh diri), 14 luka – luka berat dan ringan. Pelaku tororisme sudah semakin kehilangan militansi karena sasarannya tak lagi memilih – milih sasaran baik masjid maupun gereja semua sama. Yang mereka iinginkan adalah disorder – kekacauan di segala bidang. Sungguh naïf pemuda ganteng bernama Pino Darmayanto yang namanya diganti menjadi Ahmad Urip alias Ahmad Yosepa, Hayat dan atau Raharjo sebagai martir yang mati sia – sia atas nama ego dogma kebenaran.

(2)   Gedung kantor bupati dan gedung DPRD di Buton Utara pada 25/09/11 menjadi abu menyusul sebelumnya terjadi amuk massa dengan membakar mobil Pemda dll. gara – gara tuntutan warga untuk segera pindah ke ibokota kabupaten yang baru yang sama sekali sarana & prasarananya belumlah siap sama sekali.

(3)   Dunia wahana Atlantis di Ancol roboh,  untungnya tidak menewaskan pengunjungnya.

(4)   Bom juga ditemukan di Ambon, bahkan menurut laporan Ketua MUI,K.H. Cholil Ridwan (27/09)  peristiwa Ambon telah menyebabkan : 198 rumah rusak; 5 orang tewas; 43 luka korban tembak & 62 luka berat. Yang membuatnya mereka heran Pak Beye dinilai justru betapa perhatiannya terhadap kasus Solo ketimbang di Ambon.

 

(lebih…)

Read Full Post »

Jaya Rahayu Widada Mulya.

Dear ALL yang kami hormati, salam dan doa kami di atas semoga dapat terjiwai oleh kita semua. Nah artikel ini dengan suka cita untuk menjawab pertanyaan dari sahabatku yang sebenarnya bundelan ilmu dan pengetahuan luar biasa.

 

HAL : PEMINDAHAN KEKUASAAN DALAM TEKS PROKLAMASI

 

Diskusi ini menarik dan memperkaya referensi apa lagi berpijak pada moral – spiritual. Diskusi dengan judul di atas baru marak & hangat – hangatnya di RT sebelah, nah siapa tahu di milis ini ADA UANG DENGAR ? hahahahahahah!

Tentang teks PROKLAMASI bisa kita bayangkan betapa alot dan menguras energi para pejuang kemerdekaan saat itu, golongan muda revolusioner sehingga baru jam 0400  17 Agustus 1945 itu selesai, yang juga dijiwai oleh saudara2 kita semua, satu pertanyaan dari Bung Mantje saja sudah menohok akal pikir kita semua.

 

Kami teringat atas diskusi saya dengan RM. Sawito Kartowibowo yang menurutnya BUNG KARNO baru menerima sebuah pertanyaan yang mirip apa yang Bung Mantje tanyakan sebagaimana judu diatas oleh anak angkatnya RM. Sawito..

Pemindahan kekuasaan, di situ maksudnya bukan suatu timbang terima/serah terima! Pemindahan kekuasaan di situ kaitannya adalah DENGAN JIWA/SEMANGAT (di saat hari Proklamasi masih menjadi konsep) rumusan konstitusi Negara PROKLAMASI, seperti yang kemudian sah tercantum dalam PREAMBULE UUD1945 yang bebunyi :

“BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA & OLEH SEBAB ITU, MAKA PENJAJAHAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN, KARENA TIDAK SESUAI DENGAN PERI KEMANUSIAAN & PERI KEADIAN”.

Dan yang kemudian dipertegas dengan pasal 29 ayat 1 : “NEGARA BERDASARKAN ATAS KETUHANAN YAN MAHA ESA”.

Jadi PEMINDAHAN KEKUASAAN TSB. DAPAT DITERJEMAHKAN SEBAGAI KEHADIRAN KEKUASAAN TUHAN ALLAH SWT BAGI BANGSA INDONESIA! Nah begitulah jiwa dari istilah PEMINDAHAN yang disebut dalam naskah PROKLAMASI, sebab BANGSA itu sendiri pengertiaannya adalah SATU JIWA!

Tegasnya, pemindahan kekuasaan tsb. TIDAK PERLU PERSETUJUAN ATAU IJIN DARI SIAPAPUN, KARENA KEMERDEKAAN ITU ADALAH HAK BANGSA KITA SENDIRI!

 

Demikianlah kiranya untuk dipahami dan tidak perlu dipertentangkannya lagi. Dan kesalahan sistem pendidikan bangsa ini, hal – hal yang esensial dan fundamental justru tidak diajarkan lagi khususnya PANCASILA! Dan yang terpenting adalah bagaimana anugerah TUHAN yang tak terhitung itu dapat diberdayakannya untuk sebanayk banyakknya kepentingan RAKYAT. Nasionalisasi FREEPORT JC.MORGAN dan berbagai perusahaan transnasional lainnya yang oleh Pak Harto diberinya KADO GRATIS seiring keberhasilan atas PERANG DINGIN oleh AS dan Pak Harto dengan mudah menggantikan Bung Karno yang berketetapan hati untuk melenyapkan “EXPLOITATION DE L’HOMME PAR L’HOMME & EXPLOITATION DE NATION PAR NATION” sehingga Negara NEKOLIM tidak akan dapat leluasa menjarah bangsa2 lain.

Ironisnya justru oleh Pak Harto dinafikannya dan diganti dengan NEO LIBERALISME yang melanggar PANCASILA & UUD 1945. Pada 1967 Free Port diberinta tanah 1,2 juta hektar. Dan pada 1971 dibuat kesepakatan untuk membagi – bagi tambang minyak bumi & mineral di Nusantara ini kepada perushaan asing seperti Calex; Frontier; Hapco; Sibclair & Gulf Western. Dan UU PMA yang lebih liberal dibanding AS sendiri. Dan huebatnya lagi terungkap  hingga kini setidaknya telah terjadi 78 UU yang bikin adalah ahli (kepentingan) Asing! Kita jadi nudis tak ada kedaulatan sama sekali! Qouvadis!

 

NASIOALISASI PERUSAHAAN TRANSNASIONAL, ADALAH MUTLAK BUKANKAH BOLEVIA & VENEZUELA TELAH SUKSES MELAKUKANNYA DAN AS TD BISA BERKUTIK ? MENGAPA KITA YG PUNYA UUD 1945 DAN MOTTO “INDONESIA BISA” bisanya cuman jadi JONGOS ? Maka VACUM OF LEADERSHIP hendaknya segera diisi karena yang ada baRu sebatas PENGUASA!

 

Nah secara spiritual akan makin benderang dengan banyaknya ayat2 TUHAN selama Ramadhan dan Syawal ini! Mengapa Bus MERDEKA (Tasik – Jakarta) TERBAKAR ? Mengapa SUMBER KENCANA tabrakan di Majakerta ? Yang masih direconfirm dengan tabrakannya bus SUMBER ALAM di JATI BARANG ?.Bukankah itu adalah sebuah PERINGATAN ALAM DENGAN BAHASANYA SENDIRI ?. Yang akan kami sajikan Lanjutannya “SUDAH MERDEKAKAH BANGSA INI ?.//salam dan doa kami//SAMPURNA

Yayasan Lembaga Budaya Nusantara

 

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.