Feeds:
Tulisan
Komentar


SALAM BUDAYA!

JAYA – RAHAYU – WIDADA – MULYA DUNIA AKHERAT DOA & PUJI KAMI UNTUK SEMUANYA.

 

Nama – nama elit Partai Demokrat nampaknya dipakainya oleh alam untuk menyindir peri laku adharma yang jauh dari sikap seorang negarawan yang dapat dianggap merefleksikan demoralisasi bagi seluruh bangsa Indonesia ini. Maka ada satire bagi PD seiring kepulangan Nazar yg menggunakan alegoris yakni:

 

1.      Aduh – aduh Anas – Anas2!

2.      Tolong  Diibas – ibas!

3.      Karena dalam bulan “Pembakaran – Ramadhan” dengan semangat beribadah & mendekatkan dirinya keharibaan Sang Khaliq, akhirnya hasilnya hanya mak “POH”. ANcur berantakan.

Sedangkan Pak Beye selalu mengingatkan agar para anggota Partai Demokrat senantiasa  berpolitik dengan  santun dan cerdas.

 

4.      Amat sayang gerbong Partai Demokrat kebanyakan diisi oleh orang – orang yang disebutnya  Situmpul, maaf banyak pihak menilainya IQ – nya jongkok baik dalam matra kecerdasan emosi, kecerdasaan intelegensia dan kecerdasan spiritualnya.

 

5.      Sampai – sampai Ketua DPR terus – terusan dicaci maki  masyarakat : “Juki – juki – juki mai ! Dasar Ali tidak henti – hentinya senantiasa memberi pernyataan yang bertolok belakang dengan kebijakan Sang Ketua Pembinanya pada 23 Juli  lalu. Mereka berkomentar , cerdas apanya kalau  punya ide untuk pembubaran KPK & pembebasan para koruptor setelah mengembalikan uang korupsinya ? Maka tak ayal petinggi PD yang menjabat Ketua DPR inipun sudah empat kali diadukan ke Dewan Kehormatan DPR.

 

6.      Sungguh ironiss semua kebijkan  partai dan arahan Ketua Dewan Pembina & Ketua Dewan  Kehormatan PD serta software PD menjadi sia – sia, menjadi “Muba(sir)” adanya.

 

7.      Karena “Ro(c)k”, kaya Batu – Ngana semua! Kerasnya hati para elit PD yang justru diantara  mereka saling serang dan menyudutkan serta merendahkannya. Satu sisi sikap menjilat, ABS begitu kental yang tidak mau berkaca pada pengalaman kejatuhan rezim Bung Karno, Pak Harto maupun Gus Dur seiring adanya para pembisik.

 

8.      Sungguh ironis “Mala” atau penyakit tersebut justru demikian suburnya yang tertuju pada maaf meminjam kaidah bahasa Jawa ada kata jadian dari dua suku kata yakni seperti sura (berani) ing laga (perang)….; menjadi “sureng – laga”. Maka mala (memala – penyakit) marang – ing (mranging) “kejujuran – kebenaran – keadilan’ sehingga kebohongan yang mewabah jadinya.

 

9.      Akibatnya burung Nazar pun nyaring kicauannya yang mampu menohok siapapun yang menjadi  bidikannya, pimpinan KPK, elit PD dan para menteri dan lain sebagainya.

 

10.    Sayang bendera putih telah dinaikkan karena “Nurnya” telah menemui “Pati” ajal, sehingga nur keadilan – nur kebenaran – nur kejujuran – nur bela Negara – nur patriotisme semuanya telah raib karena godaan tiga T yakni “tahta – harta dan wanita” yang sengaja ditebar oleh para  zionisme itu.

 

11.   Tapi enlightening – kesadaran untuk introspeksi – ektrospeksi – retrospeksi dan sircumspeksi dalam berbangsa & bernegara tidak pula kunjung sadar bahkan dibiarkannya. Ben – ben, Nih  Kang; Haer – haer (bahasa Arab), baik – baik biarkan saja MAN! EGP ?

 

12.   Maka bila sudah begitu jadinya sungguh – sungguh benar – benar “Angel”, sukar sekali apa lagi  justru cipika – cipiki tidak ada rasa  keprihatinan, rasa krisis, rasa SOS dalam berbangsa &  bernegara. Sungguhpun demikian sejatinya bila tahu kuncinya masih ada dewa penolong yakni  “Angel – INA”, Bidadari – Bidadara Indonesia Nusantara Jaya.

 

13.  Kini banyak diperlukan anak – anak idiologis Muhammad, Son Mustapa yang harus hijryah menjad insane – insane Demokrat yang terpuji yang benar – benar tidak hanya slogan memberantas KKN, benar – benar patai yang solid. Dzikir Ya Mustapa – ya Muhammad dan seterusnya perlu  digalakkannya. Agar suara bela Negara “Hubbul wathan minal iman”, cinta Negara adalah sebagian dari iman!

 

14.  Bila itu dapat dihayati secara frontal, menyeluruh maka esensi nilai “samsu” ( 3 & 4 = 7) dari  Adien, sinar kemulyaan – sinar kebenaran – sinar keadilan akan dapat tercapai. Tujuan hijryah  berhasil.

 

Namun bila tetap enjoy dengan kondisi yang ada Bergelimang dengan adharma maka nampaknya sulit untuk menafikan adanya kehancuran Partai Demokrat. Sehingga bila ada Pemilu 2014 maka rakyat akan meninggalkannya karena mereka tidak mau kejebur untuk yang kedua kalinya, melakukan blunder.

 

Itulah yang bisa diambil hikmahnya dari nama – nama yang dipinjamnya demi kebaikan Bunda Pertiwi. Semoga yang memiliki nama ihklas memberinya pelajaran dan tulada bagi bangsa tercinta ini. Dan mohon dimaafkan bila tidak berkenan. JAYALAH INDONESIA NUSANTARA KU!

SAMPURNA

JAYA! RAHAYU WIDADA MULYA

Para Kadang Sutresna yang kami mulyakan, guna melengkapi bahasan PANCASILA, dimana Juni ini sebagai BULAN PANCASILA, ijinkanlah kami menyajikan sebuah mitologi dan semiobuwana loka yang ada disekitar kita.

A.MITOLOGI KE PEMIMPINAN NUSANTARA

Sebagai Negara agraris dan religius, masyarakat Indonesia nampaknya tak dapat dipisahkan dengan adanya mitos, legenda, dongeng & ramalan. Rasulullah pun pernah bersabda bahwa suatu saat nanti di akhir zaman akan terjadi :

1Umat Yahudi akan terpecah belah menjadi 71 golongan, satu   

    golongan masuk syurga lainnya masuk neraka.

2. Umat Kristiani akan terpecah – belah menjadi 72 golongan,  

    satu golongan masuk syurga, lainnya masuk neraka.

3. Umat Islam akan terpecah – belah menjadi 73 golongan,

semuanya masuk neraka, hanya satu yang benar yaitu yang tetap berpegang teguh kepada Allah dan rasul – NYA, (Alqur’an dan Hadist).

Terserah bagaimana para pembaca memaknainya apakah sabda tersebut termasuk ramalan atau bukan, yang jelas itu kini telah terbukti adanya.

Pun demikian pula para pujangga Nusantara banyak  yang menyampaikan apa – apa yang akan terjadi/menimpa bangsa Indoneia ini seperti Jangka Jayabaya, Jangka Sabdo Palon, ramalan RNg. Rangga Warsito, Yosidipuro atau Mangku Negoro IV, Paku Buwono IX hingga Bung Karno sendiri. Yang semuanya di dapat bukan dari dunia pendidikan formal melainkan dari laku – lampah – pendidikan batin oleh guru –guru yang tidak mempan sogok atau suap, sehingga mendapat pencarehan – informasi dari ”Sang Hyang Maha Batin”,  via aparat ghoib atau birokrat suci – NYA.

Dalam mitologi Nusantara, khususnya tentang Satria – Pemimpin Nusantara disebutkan sebagai berikut :

1. Satria Kinunjara Murwa Kuncara, tak lain adalah Presiden I,

Ir. Dr. H. Soekarno (17 Agustus 1945 – 27 Maret 1968).

Selama hayat di kandung badan, beliau hampir tak lepas dari jeruji besi ironisnya sampai tarikan nafas terakhir berstatus tahanan rumah yang naifnya dilakukan oleh orang yang  diberi amanat dan dimulyakannya dengan Supersemar itu. Wisma Yaso adalah merupakan saksi sejarah nasib tragis Sang Proklamator. Sungguhpun demikian karena seluruh hidupnya diabdikan bagi rakyat yang ia cintai bahkan bagi dunia sebagaimana cita – citanya membangun dunia baru tanpa adanya“eksplotation de l’homme par l’homme & eksplotation de nation par nation”.Semangat, jiwa & ruhnya mengilhami para pemimpin dunia sehingga mantan PM. Malaysia Mahatir Mohammad disebut dengan Mr. Little Soekarno, juga bagaimana presiden Venezuela, Hugo Chavez & Bolevia, Evo Morales,  mereka tak gentar atas hegomoni AS, bahkan mereka mampu menasionalisasi perusahaan – perusahaan transnasional diantaranya milik Amerika Serikat sendiri. Nilai, semangat & jiwa sosialisme yangdulunya  menyinari  Tanah Air, justru kini sedang  tumbuh & mekar di daratan Amerika Latin. Probono publico yakni kesejahteraan umum benar – benar dilaksanakan karena berlandaskan “Solus populi est suprema lex” yakni kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi.

1.000 judul buku semacam “Soekarno ‘file” karangan seorang Profesor Belanda, Antonie CA Dake, tak akan memiliki pengaruh apapun terhadap para pengagum dan anak – anak idiologis Bung Karno. Bukankah ada pepatah Jawa “Becik ketitik ala ketara” (Barang siapa melakukan kebaikan akan nampak sebaliknya barang siapa yang melakukan adharma juga akan terlihat), merupakan hukum alam. Demikian juga dengan dibiarkannya TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 oleh MPR 1999 – 2004 yang memberikan stigma miring bagi Bung Karno. Nurani mereka yang begitu beku, dan menyerahkan pada waktu. Tak dapat diingkari  nama Bung Karno, toh tetap kuncara atau harum semerbak di seluruh persada Nuswantara (dunia), sepanjang masa, sebagaimana ia pernah menyatakan ingin hidup1000 tahun lagi. Ternyata ajaran beliaulah yang akan abadi sepanjang milenia itu. Rahasia kehidupan, barang siapa memperjuangkan kepentingan & kesejahteraan orang banyak bahkan rakyat, di atas kepentingan pribadi, keluarga & golongannya maka apapun hasilnya pasti akan dikenang sepanjang hayat. Karena “kasih dan sayang” pada rakyatnya sendiri yang berabad – abad terbelenggu oleh penjajah.

Sang pemilik 26 gelar Doktor dan berbagai penghargaan dunia baik dari tahta suci Vatikan dan kerajaan Jepang dll. yang sekedar membunuh seekor nyamukpun tak bisa sehingga oleh sebagian orang diyakini bahwa Bung Karno telah mencapai tataran mahabah, asmarasanta, kasih suci itu telah belasan kali pula dibunuh namun atas karsa dan Kuasa TUHAN sekalipun granat – pistol dan senjata berat tak mampu melukainya. Bandingkan dengan nasib tragis karipnya presiden AS, J.F. Kenndy, Anwar Sadat, Ronald Reagan, Benazir Butto,  dll.

2. Satria Mukti Wibawa Kesampar Kesandung, yakni Presiden RI  II, HM. Soeharto (27 Maret 1968 – 21 Mei 1998).

Pak Harto bergelimang harta, begitu muktinya dan sekaligus betapa wibawanya karena hampir 32 tahun, tak seorang pun berani menentangnya, bahkan sekedar bergosib ria tentang dirinya saja masyarakat begitu segan. Karena kalau berani tembok pun seolah menjadi saksi sehingga begitu mudahya untuk menjebloskan seseorang ke penjara. Senjata pamungkas ”DIPEKAIKAN” sungguh dahysat. Pak Harto adalah satu – satunya presiden yang berani masuk ke jantung pertempuran antar etnis di Bosnia, dengan menyerahkan bantuan baik pangan maupun uang, sehingga namanya, dijadikan nama salah satu masjid di negeri tersebut. Sungguhpun demikian karena perjuangannya bukan semata – mata untuk sebanyak – banyaknya kepentingan rakyat dan menjalankan PANCASILA tidak dengan ”bener – pener – suci”,  dan justru untuk putra – putri serta kroninya, bergolaklah seluruh mahasiswa menuntut terjadinya reformasi pari purna dengan agenda utama menurunkan Pak Harto dari singgasana kepresidenan yang telah ia rengkuh selama 32 tahun. Ramalan Jangka Jayabaya ”Tikus pithi hanata baris” telah terjadi dan akhirnya atas kehendak alam ia menyerahkan jabatan Presiden R. I kepada Prof. Dr. BJ. Habibie yang sebelumnya sebagai Wakil Presiden. 

Menjelang akhir hayatnya betapa memilukan nasib Pak Harto, paska kemenangan  gugatannya terhadap Majalah Time Asia yang menurunkan head line berjudul “Soharto Inc. How Indonesia’ along time boss built a family fortune”, Mahkamah Agung memutuskan menghukum  majalah tersebut dengan  membayar klaim sebesar satu triliun rupiah. Tiba – tiba Transparancy International Stolen Asset  Recovery (STAR) bekerja sama dengan PBB dan Bank Dunia, menetapkan bahwa mantan Presiden Soeharto sebagai pencuri terwahid dunia dengan kekayaan berkisar US$ 15 miliar hingga US$ 30 miliar, mengungguli mantan presiden Philipina, Fedinand Marcos. Sementara khabar aibnya tesebar luas termasuk putra – putrinya, tiba – tiba   beliau masuk rumah sakit Pertamina kembali, dimana nyawanya hanya tergantung oleh peralatan medis tercanggih dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 27 Januari 2008. Derita tersebut anehnya masih belum berakhir pula karena pada 28 Januari 2008 saat pemakamannya di Astana Giribangun, Karang Anyar, Jawa Tengah yang sebulan sebelumnya banyak warga desa yang mati karena tanah longsor pada 26 Desember 2007, tak kurang dari 69 orang menjadi korban. Tragisnya lagi bersamaan waktunya dengan pembukaan “Konferensi International Anti Korupsi” (UNCAD), setidaknya 700 delegasi internasional dari 140 negara ikut menggunjingnya di Bali. Hikmah apa ini semua ? Bila saat ia ingin menduduki RI I, begitu banyak korban manusia selain 7 jenderal AD, tak terhitung warga bangsa yang disinyalir anggota PKI dihabisi nyawanya tanpa proses pengadilan sebaliknya menjelang wafatnya pun didahului oleh korban – korban bencana alam. Maka penggambaran mitologi dengan kata “kesampar – kesandung” yakni ibarat terinjak – terantuk jasadnya (terinjak – injak), kini tak seorang pun mempedulikan & menghormatinya, baik kawan maupun lawan, baik secara nasional maupun internasional. Sungguh penamaan satria tersebut  merupakan karya  futuristic  sang pujangga yang amat sangat tepat penggambarannya.

3. Satria Jinumput Sumela Atur, adalah Presiden III, Prof. Dr. Habibie (1998 – 20 Oktober 1999).

Jinumput disini artinya dicomot karena adanya kekosongan jabatan presiden paska lengsernya Pak Harto. Ia, sebagai wakil presiden secara ketata negaraan yang diperkuat oleh pendapat konseptor Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. Sedangkan bila kita renungkan secara etika, moral dan spiritual bahwa Pak Harto adalah sebagai mandataris MPR maka seharusnya itu ia kembalikan dulu kepada MPR yang selanjutnya oleh Lembaga Tertinggi Negara itu dilimpahkanlah  kepada BJ. Habibie sebagai penggantinya, tidaklah seperti serah terima kepengurusan RT atau RW. Ironis para ahli hukum tata negara nyaris satu pun yang mempersoalkannya. Oleh sebab itulah legitimasi Prsiden BJ. Habibie begitu rendah. Adapun kata “sumela atur”,  maksudnya adalah pernyataannya yang controversial yakni menyamakannya marhenisme dengan komunisme dan idenya guna memberi “referendum bagi masyarakat provinsi XXVII Timor Timur untuk memilih opsi merdeka atau integrasi”. Apa yang mati – matian diperjuangkan oleh Pak Harto itu akhirnya lenyaplah sudah karena lebih dari 78,5% masyarakat memilih untuk merdeka. Ironisnya referendum tersebut bukanlah keinginan masyarakat Timor Timur sendiri melainkan atas desakan PM. Australia John Howard, sebagaimana pengakuan Habibie sendiri. Sungguh tragis Presiden kita  seolah hanya menjadi boneka semata.

 

Bila dirunut dengan jangka Jayabaya, dialah yang dikatakan satria dari negeri sabrang “Ngatas Angin” (yang dimaksudkan Angin Mamiri, yakni Sulawesi Selatan) atau negeri Nusasrenggi (Jerman, konon ia sebagai warga kehormatan) yang hanya merupakan presiden pengantara (seselan termasuk Gus Dur & Mega) dari Pak Harto ke Pak Susilo Bambang Yudhoyono yang dipilih langsung itu. Yang disebutnya dengan “zaman Kala Sinela” Nusantara genap 2000 tahun yang menyebabkan penderitaan rakyat. Jangka Jayabaya ini pun demikian tepat.

4. Satria Lelana tapa ngrame – wuta ngideri jagad, adalah Presiden IV, Abdurrahman wahid (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001).

Gus Dur yang memiliki handicap penglihatan ini justru tercatat paling sering dan paling banyak ”lelananya” yakni mengadakan lawatan ke berbagai manca negara negara termasuk ke Timur Tengah, AS dll. untuk meyakinkan negara – negara di dunia dalam rangka pemberdayaan NKRI. Sekalipun penglihatannya terganggu justru ia paling piawai memikat lawan bicaranya sehingga protokeler sering terabaikan karena waktu hanya 30 menit bisa sampai 1 jam dengan kekayaan joke – jokenya yang begitu segar dan uptodate. Tapa ngrame disini mimiliki makna bahwa ia selalu membela & berbuat kebajikan kepada siapa saja khususnya kepada kaum minoritas dan kaum tertindas oleh siapa saja. Gayanya yang ceplas – ceplos, pemberani yang cenderung memberikan pernyataan yang saling kontradiktif serta membingungkan bagi orang awam ,dianggapnya dia adalah sosok seorang wali bahkan diyakini oleh sebagian kaum nadliyin memiliki ilmu Laduninya Nabi Khidir a.s. Ribuan nomer telepon yang ia miliki, ia hafal di luar kepala, sekalipun ia nampak tertidur namun mata hatinya selalu terjaga. Dan konon berbagai kelebihan lain ia miliki pula. Ngideri Jagad, keliling dunia setidaknya 40 negara telah beliau kunjunginya. Itulah sosok Gus Dur sang kyai, yang juga sebagai budayawan, humoris, filosuf tokoh prodem yang nyentrik itu.

5. Satria Piningit Hamung Tuwuh, yakni Presiden V Megawati Soekarnoputri (23 Juli – 20 Oktober 2004).

Ia acap kali didzolimi oleh rezim Pak Harto bahkan sering dilecehkan sebagai ibu rumah tangga hingga masa reformasi. Nampaknya makna piningit disitulah sehingga mereka tak tau bahwa Mega pada saatnya akan memimpin negeri ini. Makna hamung tuwuh (hanya tumbuh) karena ia putri Proklamator & mantan Presiden I, Dr. Ir. H. Soekarno, yang akan mengikuti jejak langkah ayahandanya. Sayang sebagai pemenang Pemilu 1999, ia tidak serta merta terpilih sebagai presiden ia diganjal oleh Poros Tengah dengan isu jender.  Bahwa wanita haram hukumnya menjadi presiden. Sedangkan negara Islam Pakistan saja telah memilih Benazir Butto menjadi PM Pakistan untuk kedua kalinya. Quovadis.

Mega adalah ikon demokrasi dan atas kepeloporannya menempuh jalur hukum terhadap pejabat negara seperti Panglima ABRI, Faisal Tanjung;  Kasospol ABRI Syarwan Hamid dan Mendagri Yogi S Memet, yang sebelumnya adalah hal yang amat sangat tabu dan tak seorang pun berani melakukannya. Ia juga sebagai ikon sadarkum sehingga mulai saat itulah bahwa rakyat tak lagi merasa takut terhadap para pejabat yang sewenang – wenang. Sadarkum yang digalakkan oleh rezim Pak Harto via menteri penerangan Harmoko, ibaratnya senjata makan tuan.  Kampanye 1999 telah menjadikan lautan merah sekalipun pesertanya 48 parpol bahkan anak – anak balita ikutterbangkitkan meengek untuk dibelikan asesoris lambang  gambar PDIP. Sayangnya ia ditakdirkan hanya bertumbuh (hamung tuwuh) yang belum sampai berbuah karena Pilpres 2009 ia keok dipecundangi oleh kepiawaian Pak Beye.

6. Satria Boyong Pambukaning Gapura, tak lain adalah Presiden VI, Susilo Bambang Yudhoyono (20 Oktober 2004 – 19 Oktober 2009).

Ia memang diboyong oleh rakyat Indonesia dengan dilaksanakan pemilihan presiden secara langsung ala Amerika Serikat itu, sebagai implementasi UUD 2002. Ia memenangkan pemilu presiden putaran I, mengungguli Mega dengan peolehan suara 63, 3%. Nampaknya dia dikodratkan ”hanya sebagai pembuka pintu gerbang (gapura)” di era demokratisasi paska reformasi. Sebagai pembuka maka berbagai komisi dan lembaga negara telah ia letakkan seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Penyiaran, Komisi Perlindungan Anak, Komisi Ombusmen,  dan lain  sebagainya. Sekalipun masih ada yang timpang tindih setidaknya gerbang dan cakrawala itu kini telah terbuka, sekalipun beliau telah meletakkan visi – misi dan goal ”pro poor – pro job & pro grow” dengan puluhan program, ia tidaklah mampu melaksankannya bahkan praktekbnya justru cenderung neolib dan bertentangan dengan amanat konstitusi dan dasar negara PANCASILA.  Mitos yang berkembang sejak pra kemerdekaan adanya anggapan bahwa nama – nama presiden tak lepas dari suku kata ”NOTONOGORO”, yakni suku kata I, NO = SOEKARNO, II, TO = SOEHARTO & III, NO = YUDHOYONO. Maka ada dua suklu kata ”GORO” bukan dimaksudkan untuk Gus Dur & Mega, karena bersama Habibie, mereka bukanlah presiden difinitif yang memiliki masa jabatan 5 tahunan, karena mereka hanyalah sekedar seselan, sisipan, pengantara saja sebagaimana jangka Jayabaya itu. Sebagaimana yang selalu dilansir oleh kadang Permadi SH ”GORO” = GORO – GORO sindhung riwut & memuncaknya prhara alam guna menyongsong munculnya seorang satria yang dinanti – nantikannya itu.

7.Satria Pinandita Sinisihan wahyu, adalah Presiden (pemimpin) mendatang.

Setelah bangsa & negara ini hancur yang jauh dari moral – spiritual dan Cahaya TUHAN yang ada hanyalah ego – kekuasaan – kemunafikan – kebohongan sehingga muncillah anomali tatanan perikehidupan bangsa & bernegara sehingga kesengsaraan rakyat tak terperikan lagi. Sehingga masyarakat mengharap dan menanti segera munculnya sosok yang benar – telah putus olah ilmu jaya kawijayan – kasantikan – yang memiliki  senjata ”Tri sula wenda”, yang memang telah memperoleh wahyu Cakraningrat, wahyu Nusantara sehingga tingkat spiritualitasnya telah sampai pada “asmara santa” atau  mahabah – kasih suci, bak seorang raja diraja yang agung ber budi bawa laksana, yang telah tahu dirinya sehingga ucapannya ”KUN” menjadi kenyataan dan tidak plinplan yang mencerminkan adanya sabda pandita ratu. Apakah dia seorang Avatara Kalki, seorang Maetreya, seorang Manu, seorang Imam mahdi, seorang satria piningit, atau seorang ratu adil?. Sejatinya (sistem) Ratu Adil menurut penyaji tak lain adalah ”PANCASILA” itu sendiri. Manakala setiap anak bangsa ini tahu, mau dan mampu menghayati dan mengamalkan nilai –nilai PANCASILA pastilah Nusantara ini telah menjadi surga, negeri yang baldatun tyoyibatun wa rabbun ghafur tidak perlu harus menunggu sosok yang amat sempurna yang nisbi itu.

B. PENGINGKARAN SILA – SILA PANCASILA ALEGORIS TERWAKILI OLEH REZIM

Benarkah Pancasila itu secara keseluruhan telah diingkari oleh bangsa ini, sajian ini semata – mata hanyalah menyampaikan semiobuwana loka yakni suara alam ataupun tanda – tanda alam yang  muncul. Dan semua kembali kepada kewicaksanaan para kadang pembaca.

Perang modern atau perang spetakuler, karena tanpa pertumpahan darah sebagaimana perang konvensional. Dan ini hanya dapat dilakukan oleh negara yang memiliki nalar tinggi. Jeffrey T. Richson dalam bukunya “The US Intelegence Cummunity), 1999 (hal. 350 – 358) yang dijadikan referesi oleh Ramses D. S dalam artikelnya berjudul “Apakah Pemimpin yang berwibawa mengerti akan pergeseran suatu imperium ?”, menyatakan bahwa : “Kalau dahulu menaklukkan suatu bangsa dengan perang konvensional, namun sekarang berubah bentuk, ke bidang politik, ekonomi dan idiologi yang dikenal dengan perang modern. Perang modern ini telah dua kali dilakukan oleh Amerika terhadap Indonsia, pertama perang idiologi Komunis dengan peran C.I.A sehingga memaksa Soekarno turun tahta, kedua perang ekonomi dengan peran I.M.F. yang mengakibatkan Soeharto juga turun tahta. Hal yang sama juga terjadi terhadap Uni Soviet”.

Jauh sebelum itu terjadi, sejak dini Bung Karno senantiasa berupaya bagimanana mengenyahkan “Nekolim”, Neo kolonialisme & neo imperialisme dengan segala bentuk dan manifestasinya. Dan setelah bangsa ini meraih kemerdekaannya, beliau pun mengingatkan bahwa imperialisme belum mati mlainkan baru setengah mati namun justru ibarat banteng ketaton yang lebih membahayakan bangsa Indonesia.

Maka amat perlu kita kaji bersama, karena demikian halusnya jerat dan gurita yang mereka tebar sehingga kita sendiri kadang tidaklah sadar bahwa telah melaksanakan misi mereka. Salah satu contoh adanya refolusi tehnologi dengan dunia maya, internet telah masuk ke pelosok – pelosok desa namun begitu dibuka nyelonong tanpa diminta gambar – gambar percabulan bermunculan, apa lagi bila diminta saben detik dipenuhi oleh pornografi. Belum lagi di bidang idiologi dengan isuEgalite , Fraternite  dan Liberty, demokrasi dan  HAM, serta lingkungan hidup yang telah membius bangsa ini.

Oleh sebab itu dengan memohon ampunan – NYA dan permohanan maaf terhadap Ibu & Bapak – Bapak Presiden Republik Indonesia baik yang telah wafat maupun yang masih dapat melaksanakan dharmanya, serta seluruh bangsa Indonesia. Perkenankanlah penyaji sekedar membaca alam dan tidak segelugut pinara sasra, ingin latah menimpakan kesalahan kepada para pemimpin bangsa dan negara ini karena mereka adalah orang – orang terpilih sebagai satria Nusantara yang melaksanakan jantranya jagad dan memerankan tugas dan dharmanya masing – masing dengan pari purna sebagaimana mitologi Satria Nusantara yang telah diuraikan di depan. Apa lagi terhadap diri Bung Karno yang seluruh hidupnya hanya demi rakyat, Sang Marhaen yang beliau bela dan perjuangkan demi memenuhi harkat dan martabat manusia merdeka yang sejahtera lahir dan batin. Freedom to be free. Ketauladanannya & kebesaran namanya hingga kini nampaknya masih sulit untuk dicari bandingannya.

Sebagai masyarakat paternalistis, suara alam bisa jadi menyiratkan bahwa seorang presiden adalah mewakili rakyat sebagai mandataris MPR sesuai masanya masing – masing. Pengingkaran Sila – Sila Pancasila secara sequent – berurutan terwakili oleh masing – masing  rezim pemerintahan Presiden sesuai eranya yakni  :

1. Presiden I,  Ir. Dr. H. Soekarno, Simbul Pngingkaran Sila I

Sebagai penggali PANCASILA, Proklamator, Bapak Bangsa,     Founding Father & seabreg julukan lainnya dan bahkan oleh sebagian     kaum spiritualis beliau dinilai telah mencapai tingkat mahabah, asmarasanta, atau kasih suci. Bukankah sekedar membunuh seekor nyamukpun beliau tidak mau ?. Apalagi menghakimi sesamanya. Sebagai pelaku & anak sejarah, dalam rangka amanat Sila III, persatuan – persatuan – persatuan, dharma eva hota – hanti, guna menggerakkan revolusi rakyat yang belum selesai, beliau mencetuskan konsep “NASAKOM” yang digagasnya sejak 2 dasa warsa pra kemerdekaan  yakni Nasionalis; Agama dan Komunis atau sering pula disebut dengan “NASASOS” (Nasional, Agama & Sosialis), dan itulah isinya dunia. Komunis Indonesia adalah berbeda dengan komunisnya Rusia maupun China serta Korea Utara. Dalam akidah setidak – percayanya mereka terhadap Sang Khaliq toh dalam setiap individu mengakui dan merasakan bahwa di luar dirinya ternyata ada kekuatan lain yang serba maha. Apa lagi PKI – pun telah merubah azasnya dari “Marxisme/ Leninisme” menjadi “Pancasila”. PKI menerima Pempers No. 57 yang menyatakan bahwa : “Partai tidak boleh mempunyai orang asing sebagai pelindung, harus seorang nasionalis”. Begitu PKI merubah azasnya maka Kruschov dan Mao Tse Tung marah – marah. Komunisme mana yang mau menerima nasionalisme dan agama di dalam UUD – nya ? Kalau bukan hanya di Indonesia ? Seiring dengan G30S PKI/GESTOK, maka  sejahat/selicik apapun PKI, ia juga ikut berjuang dan masih merupakan partai yang diakui Pemerintah dan belum tentu kesalahannya, karena pentholannya banyak yang dibunuh. Sebagai negara hukum yang berlaku adalah hukum rimba. Sebagai Pemimpin yang demokratis (lawan politik menilainya diktator) Bung Karno tidak mau serta merta membubarkan PKI. Dan ia rela nama & kekuasaannya hancur asalkan rakyatnya tetap utuh. Tapi karena itulah setelah berbagai pembunuhan terhadap dirinya gagal, usaha melengserkan Bung Karno berhasil gemilang seiring meletusnya G30S PKI (Gestapu/Gestok). Secara spiritual Bung Karno sama sekali tidaklah salah namun karena keawaman rakyatnya, dan adanya invisible hand perebutan pengaruh – kekuasaan antara blok barat dengan blok timur, serta merta menganggap bahwa “komunis Indonesia (bukan Soviyet maupun RRC) yang sering diberikan stigma oleh kaum orientalis “abangan”, adalah selalu identik dengan atheis”. Oleh sebab itulah suara alam dapat ditangkap bahwa bangsa ini selama pemerintahan Bung Karno telah dianggap mengingkari Sila I, Ketuhanan Yang Maha Esa.

2.  Presiden II, HM. Soeharto, Simbul Pengingkaran Sila II.

Seterima Supersemar (yang kini raib) yang sama sekali bukan penyerahan kekuasaan ke Pak Harto itu, secara strategik – politis PKI dibubarkannya dengan dibarengi terjadinya huru hara pembunuhan massal. Ada dugaan setidaknya 500.000  – 2.000.000 anak bangsa telah menjadi korban tanpa proses pengadilan. Kata PKI telah menjadi mantra yang amat sangat menakutkan, Kobkamtib bagai Bethara Yamadipati yang berhak mengadili seseorang bahwa ia PKI atau bukan. Sekrening dan bersih lingkungan adalah jerat dan pedangnya, sekalipun lembaga tersebut bukan sebagai lembaga penegak di bidang hukum. Banyak yang menilai bahwa selama rezim Pak Harto yang dianggap otoritarian – totaliter militeristik telah mengubur demokrasi sekalipun jargon“Demokrsi Pancasila” merebak menggantikan “Demokrasi Terpimpin“. Hakekat terorisme oleh negara dilegalkan seperti peristiwa :

  • 1969 – 1979, penahanan 10.000 aktivis politik (PKI) di Pulau Buru
  • 1976 – 1983, operasi militer terbatas di Aceh.
  • 1976 – 1995, operasi militer di Irian Barat, diperkirakan 100.000 orang meninggal.
  • 1981 – 1983, operasi “Petrus”, penembakan – misterius, diperkirakan 5.000 orang menjadi korban.
  • 1984, mletus peristiwa Tanjung Priok, tewas 24 orang, luka berat 36 orang dan luka ringan 19 orang.
  • 1985 – 1988, penyiksaan kelompok Usro, korban aktivis muslim.
  • 1989 – 1998, Operasi Militer II di Aceh, korban 119 orang tewas.
  • 1989,  Peristiwa Talangsari di Lampung, daerah yang terkenal subur makmur ini distigmakan ada kelompok Warsidi, keluarga muslim yang mengancam keutuhan bangsa & negara. Setidaknya 246 orang hilang, 94 diantaranya masih anak – anak.
  • 1993, peristiwa waduk Nipah, Sampang di Madura, 4 oang tewas.
  • 1993, terjadi peristiwa “Haur Koneng” di Majalengka, 5 orang tewas dan luka berat 8 orang dan luka ringan 7 orang.
  • 1996, meletuslah peristiwa “Kudatuli”, 5 orang tewas, 149 orang luka – luka, 23 orang hilang, 124 orang ditangkap dan ditahan dan diadili dan mereka dinyatakan bersalah. Sungguh ironis orang yang hanya mempertahankan diri justru dipersalahkan dan yang menyerangnya justru leha – leha.(Sumber, Litbang Kompas,29 Januari 2008).
  • Belum lagi peristiwa Marsinah, peristiwa Thukul Sang Tukang Becak yang idialis itu serta peristiwa Trisakti  serta penculikan mahasiswa & pemuda yang vokal dan lain sebagainya dimana sebagian hingga kini tidak diketahui rimbanya.

 

Awal hingga akhir keruntuhan rezim Pak Harto senantiasa dibarengi oleh anyir bau darah yang telah menorehkan sejarah kemanusiaan yang amat kelam sepanjang sejarah Indonesia. Bahkan seorang Proklamator yang memerdekakan bangsa ini pun yang sekaligus memulyakan diri Pak Harto sendiri tak luput dari gurita dehumanisasi. Oleh sebab itu terlepas dari keberhasilan & kegagalan Pak Harto, serta kelebihan dan kekurangannya suara alam pun dapat ditangkap bahwa selama rezim Pak Harto dapat dianggap bahwa bangsa ini telah mengingkari Sila II, “Kemanusiaan yang adil & beradab”.

3.  Presiden III, Prof. Dr. B.J. Habibie, Simbul Pengingkaran Sila III

Dengan adanya prolog peristiwa Trisakti , pada 13 Mei 1998 telah menandai akan segera berakhirnya pemerintahan Pak Harto dan benar adanya bahwa hanya selang seminggu pada 21 Mei 1998 sikon yang membara, memaksa Pak Harto mengundurkan diri sebagai Presiden dan sekaligus mengangkat murid kinasihnya yang  Wapres itu untuk diberikan tongkat estapet menjadi RI I. Ternyata pilihan Pak Harto tidak sesuai harapan beliau, karena apa yang diperjuangkan Pak Harto puluhan tahun dimana Timor – Timur telah menjadi Propinsi XXVII sebagaimana mandat Proklamasi itu, karena merupakan bekas kerajaan Majapahit dan resmi sebagai wilayah kedaulatan NKRI sebagaimana hasil perumusan BPUPKI pada 10 Juli 1945. Dalam rangka pencitraan dirinya terhadap HAM, dan desakan PM Australia John Howard, Habibie telah memberikan referendum kepada warga propinsi tersebut pada 30 Agustus 1999 untuk memilih opsi : (1). Tetap Integrasi dengan NKRI atau (2). Merdeka. Sayang tehnokrat kesohor nomor wahid tersebut kurang memahami sejarah bangsanya dan jahatnya konspirasi internasional sehingga lebih 78.5 % suara memilih untuk merdeka. Maka lepaslah sudah bumi Larosae dengan menyisakan penderitaan rakyat ex propinsi tersebut dan kepiluan mendalam bagi prajurit Seroja. Oleh kejumawaan dan kebijakan tersebut, “Persatuan Indonesia” telah tercabik – cabik”. De – dharma eva hota – hanti dilakukan secara masif. Maka terlepas kehebatan maupun kekurangan Pak Habibie, maka suara alam menyiratkan pula bahwa bangsa ini selama rezim Pak Habibie yang masa kepemimpinanannya tersingkat itu dapat diangap telah mengingkari Sila III, Pancasila  yakni “Persatuan Indonesia”.

4. Presiden IV, KH. Abdulrrahman Wahid, Simbul Pengingkaran   Sila IV,  Pancasila.

Dalam rangka memenuhi tuntutan reformasi paripurna, maka digelarlah Pemilu yang dipercepat dan dilaksanakan justru dengan amat demokratis yang diikuti oleh 48 parpol pada 7 Juni 1999, yang dimenangkan oleh PDIP, toh atas kepiawaian Poros Tengah yang dimotori Amin Rais, Megawati Soekarnoputri atau Adhis (Adjis) tidaklah serta merta dapat menjadi RI I. Alasan jender dengan pengharaman bagi wanita menjadi Presiden dihembuskannya dan berhasil gemilang mendudukkan Gus Dur yang  sebenarnya tidak sehat jasmani itu menjadi RI I. Akhirnya Poros tengah kecele, karena sosok Gus Dur ternyata tidak mudah disetir oleh MPR bahkan lembaga tersebut diberikan stigma sebagai “Taman Kanak – Kanak“. Maka seiring merebaknya kasus Bulag Gate & Brunei Gate, kasus tersebut dijadikan  senjata oleh DPR/MPR. Dan timing yang tepat untuk menggelar sidang istimewa MPR guna melengserkan dirinya. Suasana politik saat itu amat sangat panas dan tidaklah kondusif. “Wabah kegeraman” muncul dimana – mana. Apa lagi Gus Dur lupa bahwa  senjata pamungkas “Dekrit” yang dimaklumatkannya itu tidak didukung oleh ABRI. Dan Kapolri baru yang ia tunjuk praktis tiada legitimasi sama sekali. Mentri Polkam Susilo Bambang Yudhoyono nampaknya tidak sejalan dengan strategi Gus Dur, sehingga lebih senang memilih untuk mengundurkan diri dari jajaran Kabinetnya yang kemudian digantikan oleh Agum Gumelar. Guna melengserkan Gus Dur, bagi MPR ibarat suwe mijet wohing ranti, maka tak pelak akhirnya Gus Dur pun lengser dan digantikan oleh Ibu Megawati. Stigma harampun hilang bagai angin sepoi – poi basah. Politisasi agama marak, ayat – ayat Tuhan diperjual belikan. Karena Gus Dur yang keras hati dan terbersit akan membuka hubungan corps deplomatik dengan negara Israel tanpa dikonsultasikan kepada MPR, maka sepak terjangnya dianggap melecehkan lembaga permusyawaratan tersebut, terlepas segala kelebihan dan kekurangan Gus Dur, nampaknya suara alam pun menyiratkan bahwa bangsa ini selama pemerintahannya dapat dianggap telahmengingkari Sila IV, Pancasila “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan”.

5. Presiden V,  Megawati Soekarnoputri, Simbul Pengingkaran Sila V

Slogan PDIP adalah “Partainya wong cilik”. Namun dalam pemerintahannya yang berhasil menciptakan iklim politik lebih kondusif dan kurs rupiah yang begitu setabil, peningkatan ekonomi dll. toh tidak dapat dimungkiri  dalam pemerintahan Ibu Megawati, wong cilik yang dengan suka cita membesarkannya justru terpinggirkan, termarginalkan. Ia tidak berdaya mempengaruhi gubernur DKI Sutiyoso yang ia dukung untuk menjadi gubenur periode II untuk tidak menggusur warganya. Sementara bagi segelintir orang pembobol triliunan rupiah diberikan hadiah “released & discharged”, setelah membayar sebagian utangnya. Dan suatu strategi dalam pembiayaan APBN yang tidak populer adalah dengan divestasi antara lain dengan menjualIndosat, salah satu BUMN yang amat sehat kepada investor Singapura. Dengan kepindahan kepemilikan tersebut praktis rahasia negara tidak lagi dapat terjaga dengan baik. Pengingkaran TRISAKTI yang dicanangkan oleh Bung Karno justru makin memuncak di bawah Ibu Megawati. Kekeliruan tersebut memang bukan murni kesalahan rezimnya karena merupakan warisan Orde Baru termasuk hilangnya pulau Sipadan dan Ligitan. Sungguhpun demikian semakin mengukuhkan bahwa suara – suara alam tersebut kian terlengkapi dengan keberadaannya. Wong cilik terpinggirkan. Penduduk kedua pulau tersebut bila ada tentu lebih sakit karena bukan lagi  merupakan anak bangsa Nusantara, oleh sebab itu terlepas dengan segala kelebihan dan kekurangan Ibu Megawati nampaknya bangsa ini  menyiratkan bahwa Sila V “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” pun teringkarinya pula.

Jadi lengkaplah sudah seluruh pengingkaran sila – sila Pancasila tersebut dengan begitu sempurna. Kemudian apa akibat semua ini ?

 

6. Presiden VI, Dr. H. Soesilo Bambang Yudhoyono

Setelah Sila I hingga V teringkari nampaknya di masa rezim  SBY merupakan “panen raya” dari ekses pengingkaran tersebut. Karena bangsa ini tidak lagi memegang teguh sumpah dan janjinya sendiri, tidak lagi komit, dimana PANCASILA telah ditenggelamkan dan direkatnya kembali PIAGAM JAKARTA dimana setidaknya 6 propinsi, 36 kabupaten dan 12 kota memberlakukan syareat Islam. Sementara  di Ujung Timur, Manukwari, Papua Barat memberlakukan “Syareat Kota Injili”, yang sama – sama berkedudukan sebagai daerah yang memiliki otonomi khusus”.

 

Kekawatiran anak bangsa, apakah bangsa ini termasuk dalam firman – NYA  QS : Asy Syura ayat 30 : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan – kesalahanmu)”. Dan QS : Al – Isra’  ayat 16 : “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang – orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur – hancurnya”.

Karena bencana demi bencana semenjak SBY memimpin senantiasa datang silih berganti, seperti : tsunami, gunung meletus, gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, luapan lumpur panas, semburan gas, kekeringan, kebakaran. Belum lagi vires flu burung, ulat bulu dsb.nya  serta terjadinya berbagai krisis yakni : BBM utamanya minyak tanah, energi, pangan, kedelai dll. dan yang paling krusial adalah bencana krisis ” sosial,  nurani – moral – spiritual yang nampaknya telah raib dari kehidupan masyarakat Nusantara. Memang benar adanya, bukan karena faktor SBYnya melainkan refleksi alam yang  perlu direnungkan dan dikaji, hikmah apa yang ada di balik itu semua.

Dan tobatan nasuha yang dicanangkan oleh Menag Maftub Basyuni sejak 2 Maret 2007 amatlah tepat sekalipun ada yang menilainya agak terlambat dan kurang greget serta efektif, karena tidak melibatkan seluruh unsur bangsa.

Tobat tersebut seharusnya tidak secara ritual belaka melainkan bila benar itu, karena pengingkaran amanat founding fathers sebagaimana tersurat di dalam Preambule, maka mau tak mau Pemerintah dan MPR harus berani dengan tegas menyatakan bahwa seluruh produk amandemen UUD 1945 dan segala Undang – Undang maupun Peraturan Pemerintah harus dinyatakan batal demi hukum dan kembali kepada kemurnian – keaslian  UUD 1945, secara konsisten & konsekwen serta kontinyu sepanjang NKRI berdiri, dan tidak mengulangi janjinya Orde Baru yang hanya merupakan lipservice belaka. Bukankah alam ikut merekam, mencatat dan menyaksikannya semua ini ?.

Anggapan para pakar ahli hukum tata negara bahwa kini UUD 1945 telah lebih baik dan mewujudkan demokratisasi perlu dipertanyakan dengan nurani, kalbu, batin, dan spiritual. Apapun alibi hukum yang dipegang teguh namun bila tanpa didasarkan pada keadilan dan spiritual value (Pancasila) itu melawan  kaidah hukum yang berkeadilan !. Karena PANCASILA bukan lagi merupakan sumber segala sumber hukum.  Terlepas alibi para praktisi hukum yang pro amandemen, dengan ‘PENGINGKARAN PANCASILA” tersebut runtuhlah sudah Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia dan balasannya kita mengalami berbagai bencana baik oleh faktor alam maupun non alam! Adapun bencana non alam nampaknya telah terjadi bencana : undang – undang, birokrasi, hunamnisme/nurani, pendidikan, budaya dan sejarah serta bencana transportasi dengan berbagai modanya.

Oleh sebab itu bila tak ada upaya progresif revolusioner dari para penyelenggara negara dan anak bangsa, maka kita segera menyusul nasib pendahulu negara kita yakni kerajaan nasional Sriwijaya, Singhasari & Majapahit. Atau Uni Soviet maupun Yugoslavia. Relakah NKRI hancur & tinggallah sejarah karena reformasi dan atau transisionalnya ?

Semoga sajian sebagai pelengkap bahasan peringatan hari lahirnya PANCASILA ini mampu membulatkan semangat dan tekap seluruh anak bangsa untuk kembali dan tetap mempertahankan PANCASILA karena tak ada idiologi lain yang paling tepat bagi bangsa yang pluralistic – homogenitas – multi kulturalisme yang berbhineka tungal ika ini. Akhirnya mohon dimaafkan bila ada yang merasa sejiwa dari kenyatana pahit ini dan doa kami bangsa dan Negara ini mendapat pengampunan – NYA dan diberkati menjadi bangsa yang besar bangsa yang modern bangsa yang maju – sejahtera adil dan makmur dengan tetap menjunjung tinggi kepribadian bangsa “PANCASILA”. Semoga//sampurna

Selamat memperingati hari lahir Bung Karno  6 Juni ini dan sekaligus haul beliau pada 21 Juni nanti//sungkem kami.

Jakarta, 6 Juni 2011

Youth Empowering Institution/Yayasan Lembaga Budaya Nusantara/

Keluarga Besaar Persaudaraan Blokosuto

SALAM BUDAYA!

Jaya! rahayu – widada – mulya dunia wal akherat semoga teranugerahkan kepada kita sekalian beserta keluarga besar dan bangsa ini.

Saudaraku setanah air, yang tua & muda, wanita maupun pria, dimanapun adanya &  apapun profesinya yang telah diikat oleh rasa persaudaraan yang bermanifestokan ‘BHINNEKA TUNGGAL IKA” yang selalu dalam kepakan sayap SANG BURUNG ELANG RAJAWALI “GARUDA PANCASILA”.

Nyaris penyaji kehilangan kata – kata setelah saban hari Bunda Pertiwi tersucikan oleh derai air mata dari saudara – saudara kita yang sedang berduka kehilangan sanak saudaranya. Derai airmatanya belum kering telah terjadi musibah kebakaran di Surabaya, FERI “KIRANA IX” pada Rabo 28 September yang menewaskan 9 orang yakni 8 orang umumnya nenek – nenek yang terinjak – injak serta seorang laki – laki yang tercebur ke laut yang hingga kini jasadnya belum diketemukan menyusil jasad – jasad terdahulu korban KM. WINDU KARSA (27 = 9); KM. SRI MURAH REZEKI (13) ; KM. PERMISI, di Leotobi, Flores Timur dan KM. PUTRI TUNGGAL di Pulau Raas, Madura dimana 13 orang yang semuanya raib!

Yang disusul jatuhnya pesawat Cassa 212 yang berpenumpang 18 (9) dari Polonia menuju Kuta Cane, Aceh Tenggara pagi tadi 29 September jatuh yang belum tahu nasibnya. Yang eloknya sang pemilik bernma ‘NUSANTARA BENUA”.Sayang hingga tulisan ini muncul masih belum tahu nasib crew dan penumpangnya, semoga mereka diketemukan dalam keadaan selamat sekalipun ada di atas pohon dan atau pun di tepi jurang.

Gita alam apa lagi dari semua iti?. KIRANA mengingatkan kita pada kisah PANJI yakni  Galuh Candra Kirana dengan Ibnu Kertopati di jaman kerajaan KEDIRI. Nampaknya memiliki pesan moral ‘AGAR BANGSA INI KEMBALI PADA DIRINYA (NURANI & JATU DIRI) kemanakah sikap – kepribadian patriotisme  – pahalawan yang telah ditorehkan oleh arek – arek Surabaya yang  peristiwa heroik 10 November 1945 diberinya stigma ‘HARI PAHLAWAN”! KIRANA = naptunya KA (5); RA (4) dan NA (2). kara = 9 (Sinbolisme angka Pak Beye) dan 11 (simul angka nabi Muhammad).

Yang perlu dicermati soal angka selalu saja didominasi oleh alegoris 9 = Pak BEYE dan 13 = Angka Sial Partai Demokrat.

Tentu bangsa ini berharap & berdoa semoga Pak Beye benar – benar mampu mewujudkan janji – janjinya agar lulus sampai 2014 namun bila tidak banyak pengamat berpendapat bahwa nampaknya tahun 2012 merupakan ujian akhir bagi beliau mengingat akumulasi persoalan bangsa & negara  yang semakin mengendap dan menggunung yang  amat sulit terbenahi secara cepat dan akurat serta selamat. Resuffle Kabinetbila ada bisa jadi tetap akan kalah cepat dengan gerak alam yang tak lagi bisa disalahkannya.

F. JANJI ALAM

Bumi adalah ”ibu mami”. Kata ibu adalah kerata basanya ”ingat – bumi”, karena dialah yang menghidupi umat – NYA, sementara ibu kandung adalah yang ”ngurip – urip” atau ngreksa uripe bagi anak – anaknya dengan penuh kasih sayang. Bila sakit dirawat di obatinya dan lain sebagainya. Sementara Langit disebut Bapa Kuasa karena dia yang memberi hidup dengan Oksigen bagi semua mahkluk –NYA. Adapun GUSTI, Pangeran, Alloh SWT,  Allah, Sang Hyang Widi Wasa, Sang Hyang Adi Budha, Thien adalah Sang Khaliq, SANG MAHA PENCIPTA. Oleh karnanya dalam budaya kearifan lokal terdapat sebutan ”IBU BUMI – BAPA KUASA (ANGKASA)”.

Bahkan dalam literatur Hindu dinyatakan bahwa pengucapan trisandhya, kata pertamanya adalah berbunyi ”OM BRUR” yang maknanya adalah ”TUHAN DIKAU ADALAH BHUMI”, ibaratnya tak ada TUHAN tak ada BHUMI. Bukankah TUHAN memberikan kehidupan & kasih sayang – NYA kepada umat – NYA itu melalui bhumi juga ?. Sungguhpun demikian makna di atas seyogyanya tidaklah dimaknai secara harfiah karena tidak identik bahwa BUMI ADALAH ANSIH SEBAGAI TUHAN, Karena unsur bumi adalah merupakan salah satu unsur kejadian manusia.

Langit & Bumi yang pernah menerima amanat TUHAN namun karena ketawadlukannya, dikemanlikan pada NYA, dan betapa besar kekayaannya, betapa besar kasih sayangnya, betapa besar ketenangannya demi anak – anak yang beliau lahirkan dan susuhi maka dia begitu bangga & bersyukur serta sekaligus menjadi saksinya ketika anaknya sang Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 (8 Ramadhan 1364 H/9 Pasa 1876 SJ) juga keseokan harinya membentuk NEGARA PROKLAMASI KESATUAN REPUBLIK INDONESIA yang berdasarkan ”PANCASILA” dengan juklaknya ”UUD 1945”, SEBAGAI DASAR IDIOLOGI – MORAL – SPIRITUAL DALAM BERNEGARA DENGAN MEWUJUDKAN

Janji ALAM nampaknya diwujudkan dengan terjadinya gempa bhumi ”TARUTUNG”  beberapa bulan lalu. Lho bagaimana mungkin ?. Bisa jadi itu suara Alam menggunakan alegoris nama daerah itu. TARUTUNG yang artinya : Percayalah bila anak – anak bangsa ini komit – konsiSten – konsekwen dan berkesinambungan senantiasa menghayati Amanat Proklamasi tersebut di atas maka ”PASTI NANTI – (TAR)  SANGAT BERUNTUNG” !

Tapi bagaimana akan menjadi bangsa yang beruntung melaksanakan dan menghayatinya saja tidak mampu & tidak mau tapi justru amanat tersebut dikhianati dengan menggantinya dasar negara, bentuk negara dan konstitusi negara serta budaya bangsa? Ironisnya sekalipun ada yang menyadari kesalahannya pun tidak mau dengan kesatria mengakui kesalahannya dan memperbaiki serta kembali kepada wasiat, warisan, amanat & amanah The Foundings Father, para pejuang, para pahalawan, para syuhada dan para pendahulu kita. Quovadis!

G. LAKUKANLAH SEGERA SEBELUM SEGALA SESUATUNYA TERJADI KARENA SESAL KEMUDIAN TAK ADA GUNANYA – TOBATAN NASUHA NASIONAL.

Resesi dunia nampaknya tak dapat dihindarkan sebagai akibat idiologi “KOMUNISME & KAPITALISME SERTA AGAMA” yang akhirnya jatuh ke titik nadir sebagaimana dinyatakan oleh Bung Karno dan hanya idiolgi PANCASILA – lah sebagai penyelamat dunia. Resesi di masyarakat MEE dan AS yang sekalipun telah menaikkan pagu hutang hingga US$ 14,3 Triliun dengan hutang barunya US$ 2,4 triliun, toh Obama masih harus menaikkan pajak pendapatan bagi masyarakat yang berpenghasilan minimum US$ 1 juta/tahun guna mengurangi devisit anggaran. Juga hal yang sama dilakukan di Spanyol dll. Nah dengan kondisi seperti itu para pelaku pasar tentu goyah sehingga ekses negatifnya akan merambah ke Negeri ini  sehingga bila tidak disiasati segera mungkin negeri ini pun praktis akan ikut terpuruk dengan sendirinya pada tahun 2012 seiring deraan alam yang mungkin lebih hebat seiring ramalan kiamat oleh Suku Maya pada 12 Desember 2012.

Setidaknya “KIAMAT PEREKONOMIAN” naga – naganya akan terjadi pula. Goro – Goro Sindhung Riwut kapan saja bisa terjadi bila solusi berbagai alternative tersebut tidak dilakukannya.

Nah bukankah GUNUNG MERAPI DI DIJ YANG BELUM LAMA MELETUS DAN HARI INI MERAPI DI SUMBAR MULAI BATUK – BATUK (20/09/11) meberinya isyarat bila tetap saja tidak ada kemauan hijryah secara revolutif di segala bidang bisa jadi kelak hanyalah akan “MERA(TA)PI NASIB BURUK BANGSA & NEGARA INI.

Maka seyogyanya Pak Beye beserta, para penyelenggara Negara &  seluruh perwakilan unsure bangsa berkenan menyadari bahwa NKRI INI SUDAH DALAM KONDISI GAWAT DARURAT SUDAH MENYUARAKAN “SOS”, SAVE OF OUR SOUL! Sebelum tobat kita tertutup, sungguh sangat menakutkan bila TUHAN SERU SEKALIAN ALAM MENOLAK TOBATAN NASUHA BANGSA INI karena ALAM telah menyerukan seiring adanya “GUNUNG LOKON”, di Minahasa yang meletus pada 4 Juli lalu, bukankah nama tersebut memberinya isyarat – alegoris sebagai “LOCKED ON”, pintu taubat sudah terkunci – sudah tertutup bagi pengikut “MAJELIS SYAETONI” siapapun mereka – siapapun kita adanya apakah yang mengaku sebagai ulama – santri – rohaniawan – pendeta dll yang mengingkari PANCASILA itu. Yang sekaligus sebagai LAKON ADI KODRATI BAGI NUSANTARA INI YANG KELAKNYA AKAN MENJADI MERCUSUAR DUNIA, tidak saja sebagai reaktualisasi hegomini ‘SRIMAJATARAM” (SRIWIJAYA – MAJAPAHIT – PAJAJARAN & MATARAM) akan tetapi sebagai rahim kebudayaan dunia serta kebesaran ATLANTIS itu!

G. DIPERLUKAN BANGKITNYA KAUM PROKLAMATORIS

Guna penyelenggaraan berbangsa & bernegara sesusai Karsa & Kuasa – NYA yang telah diwasiatkan – diwariskan – diamanatkan dan diamanahkan oleh Foundings Fathers dan para pendahulu kita sesuai PANCASILA & UUD 1945, sebagai komitmen moral – spiritual dan konstitusional bangsa & Negara.

Maka bencana banjir bandang ”WASIOR”, Wondama, Papua Barat pada 3 Oktober 2010 telah menindikasikan bahwa bangsa & Negara ini mutlak memerlukan adanya para “WARRIOR”, para hero, para patriotik, para Proklamatoris (pewaris dan penyelamat dan pemberdaya NPKRI) di tengah kehancuran bangsa & Negara ini. Kesadaran berbangsa & bernegara dengan menjaga persatuan & kesatuan bangsa yang dirajut dengan Bhinneka tunggal ika mutlak diperlukannya. Para Warrior itu amat sangat diperlukan untuk menjadikan WONDAMA!

Maka kata “WONDAMA” bisa memiliki makna dari WON (WIN) = MENANG & DAMA = IDAMAN ? artinya ‘KEMENANGAN & KEJAYAAN BANGSA & NEGARA SERTA (KE)DAMA(IAN) INI MERUPAKAN IDAMAN BAGI PARA FOUNDINGS FATHER, PARA PEJUANG, PARA PAHALAWAN, PARA SYUHADA DAN PARA PENDAHULU KITA SERTA SELURUH RAKYAT INDONESIA INI.

Sayang teramat sayang dan amat ironis bahwa patung – patung bermotifkan tokoh – tokoh wayang yang  merupakan simbul rakyat, abdi, pembantu, penasehat, pamomong para kesatria yang merupakan pengejawantahan dari Sang Hyang Ismoyo yakni KI LURAH SEMAR, juga BIMO tokoh kesatria yang jujur – lurus – bersih  dengan laku sufistik sehingga mampu menemukan jati dirinya – paham tentang dirinya sehingga kenal dan paham akan GUSTI – nya juga sosok GATHOTKOCO seorang kesatria utama pembela kebenaran & keadilan pemelihara kedaulatan wilayah! Patung – patung itu yang memperindah – estetika kota Purwakarta, yang member kesan bagi siapapun yang memasuki kota ini namun justru dihancurkan oleh para santri, para massa Islam sehabis melaksanakan istigotsah bersama, dengan teriakan ALLOHU AKBAR beramai – ramai secara histeris – kesetanan menghancurkan patung – patung tersebut.

Bahkan  BOM BUNUH DIRI di Solo pun terjadi. Mereka lupa bahwa Islam itu maknanya tunduk dan patuh berserah diri hanya keharibaan TUHAN SERU SEKALIAN ALAM. Mereka lupa bahwa makna esensi Islam itu telah termanifestasikan pada gerakan shalat saat ta’biratul ikhrom dengan mengangkat ke dua belah tangan yakni hand –up! Menyerah (kan dirinya secara total)! Maka menegakkan syareat Islam secara kafah – benar – tepat dan bersih adalah sebuah keharusan sebagai konsekwensi logis dasar Negara adalah “KETUHANAN YANG MAHA ESA”, yang bukan berdasarkan atas agama! Syareat Islam disini tentu bukanlah identik dengan  potong  tangan, hukum cambuk, hukum rajam, bunuh bagi pelaku kejahatan! Karena itu masih sebatas syareat muslimin saja bukan islam, lagi pula itu berlaku di zaman jahiliah agar memberinya ekses jera!. Toh di zamannya  rasulullah hal semacam itu pun tidak pernah dicontohkannya. Bahkan di dalam Piagam Medinah tak satu pasal pun mengamanatkan pendirian Negara agama! Syareat Islam dalam artian luas apapun agamanya adalah segala pikiran, ucapan dan perbuatannya selalu tercahayai – terhadiri Oleh Kemaha – Hadiran TUHAN SERI SEKALIAN ALAM. Jadi tidaklah  mudah mengatakan islam!@ Apa lagi syareatnya!.

Lalu bagaimana mungkin kita  akan mampu melaksanakan terciptanya umat yang rahmatan lil alamin bila sekedar satu gerakan dalam shalat pun tidak dijiwainya?. Kita teringat di tahun 1980 an stupa Borobudur yang indah dan tiada salah sebagai warisan dunia dan sebuah keajaiban atas nama ego kebenaran DIBOMnya yang hingga kini pelakunya masih misterius ?.

Bukankah berkat adanya Ka’bah  yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim menjadikan Arab Saudi makmur karena menjadi pusat peribadatan – ritual dunia ?. Bukankah Ka’bah juga represntasi dari patung – batu hitam yang bernama Hajar Aswad ? yang menyerupai organ V Wanita sebagai lambang “Sangkan paraning Dumadi” dimana semua jemaah haji sangat merindukan bisa menciumnya ?. Bahkan disimbolikkan sebagai RUMAH ALLAH? Yang sejatinya merupakan kiasan belaka ? RUMAH ALLAH yang dimaksud tak lain adalah HATI KITA yang otomatis sebagai KEBLAT! Mengapa ? Bukankah bila RUSAK HATI KITA maka rusak pulalah hidup & kehidupan kita” Dan sebaliknya bila HATI KITA BAIK maka akan baik pulalah hidup dan kehidupan kita. Bukankah ka’bah yang berbentuk kubus itu bila digambarkan secfara bagan akan menjadi gambar “PALANG”  atau + sebagai lambang kewajiban berhablum minalah dan berhablum minanas serta berhablum minal – ‘alamin ?.

Kekeliruan dalam memaknai Firman TUHAN dan atau sabda Nabi – hadist  Nabi, manusia sebagi Khalifah – NYA bisa jadi sontak diri kita berubah menjadi MONSTER! Dalam Hadist nabi : Qoola Rosulullah SAW : “Laa tadkhulul malaa ikatu baitan fihi kalbun” (Tidak mau masuk malaikat di salah satu rumah yang di dalamnya rumah itu ada anjingnya).

Sungguh kasihan nasib SI ANJING yang diciptakan – NYA dengan kasih sayang NYA yang pasti bukan untuk dibunuh – diracun – digebukin! Namun ironis, gara – gara agar rumahnya mendapat kunjungan sang malaikat, justru itulah yang kita lakukannya! Celakanya dengan mebunuh sebanyak – banyaknya anjing kita meyakini kita mendapatkan pahala sebagai tiket untuk masuk surga! Sedangkan secara tersirat maknanya ANJING adalah SIFAT JAHAT pada diri kita sebgai manusia. Membunuh 1.000 ekor anjing justru tak sedetik & satu malaekat pun yang berkenan  bertamu di rumah kita karena sifat anjing dalam diri kita justru semakin memuncak ! Nah apa lagi yang kita bunuh itu manusia sebagai RUMAH ALAH, sebagai BAIT ALLAH, yang dibunuh adalah esensi Dzat DIA pula, naudzubillah himindhalik.

Sebagai umat yang mengaku religius hendaknya menyadari bahwa di dalam kehidupan ini ada kaidah lain yang harusnya kita sadari bahwa dalam ilmu filsawat dapat di bedakan antara  

  • Etika yang tolok ukurnya  adalah  baik  dengan buruk
  • Estetika yang tolok ukurnya adalah indah dengan jelek
  • Logika yang tolok ukurnya adalah benar dengan salah.

Sementara diturunkannya agama Islam adalah dalam angka menciptakan suatu kehidupan yang rahmatan lil amin, bukannya menjadikan seragam dan menakutkan apa lagi disorder. OLeh karnanya dalam hidup – hayat – kayun, bagi manusia yang penuh misteri dan meseri itu ketiganya menjadi sebuah paduan guna “keselarasan & keseimbangan” antar berbagai unsure di atas, karena  sesuatu yang benar belum tentu indah dan yang indah belum tentu baik sebaliknya yang baik pun belum tentu benar. Khompleksitas tersebut hanya dapat dihayatinya dengan benar – tepat dan bersih dengan mempertajam adanya “RASA ING PANGRASA”! Yang bersumber pada qalbhu, nur – aini  atau nurani.

Dengan menyadari kondisi dan situasi berbangsa & bernegara seperti ini maka mayotitas umat Islam yang mendiami persada Nusatara ini hendaknya berkenan menghayati adanya sunah rasul yakni : “Hubbul wathoni (thin) minal iman”, CINTA TANAH AIR ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN.

KESIMPULAN

Dengan melihat berbagai kenyataan di atas maka judul renungan kita “BENARKAH BANGSA INI BELUM MERDEKA & GAGAL MEMPEROLEH KEMENAGAN ?” setelah pembakaran dengan puasa selama sebulan penuh itu ?  bagi bangsa & Negara ini ? akhirnya kami kembalikan kehadapan para sidang pembaca untuk menjawabnya masing – masing. Hem ruar biasa ada pendemo STATUSQUO VERSUS RESUFFLE KABINET! KPK VERSUS DPR! Dan akandiikuti oleh fenoena yang lebih absurb. Sulit untuk mengevaluasi mana MAJELIS MALAEKATI -  mana MAJELIS SYAETONIsebagai kepanjangan rezim DAJJALISME yang tidak nampak, tidak berbentuk, tidak bersuara namun baunya ada.

Yang gamblang dan jelas Bung Karno pernah mengingatkan bahwa : “Barang kali kita makin lama makin klejar – klejer makin lama – makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi ke lumpurnya muara ‘exploitation de l’homme par l’homme” en “exploitation de l’homme par nation”. Dan sejarah akan menulis : “Di sana, antara Benua Asia dan Benua Australia, antara lautan Teduh dan Lautan Indonesia adalah hiup satu bangsa yang mula – mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi “een natie van koelies, en een kolies onder de naties”. ( …… menjadi bangsa kuli dan kulinya bangsa – bangsa). (Pidato BK,17/08/63 “GESURI”).

Dan telah sering saya katakan, bahwa demokrasi adalah alat. Demokrasi bukan tujuan. Tujuan ialah satu masyarakat yang penuh dengan kebahagiaan materiil dan spiritual. Sebagai alat, maka demokrasi dalam arti bebas berfikir dan bebas berbicara harus berlaku dengan mengenal beberapa  batas . Batas itu ialah batas kepentingan rakyat banyak, batas pertanggungan jawab kepada TUHAN. Manakala batas – batas itu tidak diindahkan maka menjelmalah demokrasi menjadi anarkhinya si pandai omong  semata – mata”.

Nampaknya bangsa & Negara ini akan semakin sulit meloloskan diri dari belitan “9R” yakni ‘RUWET, RENDET, RUSAK, RUGI, RUSUH, RESEH, RISKAN, RAWAN & RENTAN”.

Apapun halang – rintang di depan kita yang semakin berat dan khomplek, sebagai bangsa besar sebagai cucu pejuang – pahalawan – syuhada dan pendahulu bangsa ini harus tetap optimistic dengan berkenan – tahu dan mampu melakukan “introspeksi – ektrospeksi – retrospeksi & sircumspeksi” dan melakukan perbaikan di seluruh peri kehidupan rakyat secara revolutif. Bukankah Bung Karno sejak lama telah mengingatkan kuncinya ?.

Revolusi adalah perjuangan, QS :Ar Ra’ad (13) ayat 11 : “Inallaha la yu qhoyiru ma bikaumin, hatta yu qhoyiru ma biamfusihim”.Firman Tuhan inilah gitaku : “Tuhan tidak akan merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”!.

Dan bagi Majelis Syaetoni, hendaknya tidak mengabaikan adanya adagium kearifan local yang berbunyi “SURA DIRA JAYANIKANANGRAT SWUH BRASTHA TEKAB ING ULAH DHARMASTUTI  ATAU SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI” yang maknanya  : “BAHWA BETAPAPUN SAKTI & BESAR KEKUASAANNYA, AKAN TETAPI KALAU UNTUK TUJUAN YANG TIDAK BENAR, TIDAK ADIL & MEMUJA ANGKARA MURKA APA LAGI DEHUMANISME MAKA PASTI AKAN SIRNA OLEH BUDI LUHUR & RAHAYU SERTA SIKAP KASIH DAN DAMAI”.

Akhirnya kita tutup dengan dua bait kidung “JANGKA SABDO PALON NAYA GENGGONG” pupuh Dhandhang Gula abjab Jawa “PA – DHA” dari 20 bait HA – NGA yang berbunyi :

Pepesthenne  NUSA tekan janji/Yen wus jangkep limang atus warsa/Kapetung jaman Islame/NUSA bali mrang INGSUN/JAWI BUDHI madhep nyawiji/Sapa kang ngemahana/Yekti nampi  BENDU/SUN ayakan putuningwang/Dadya tandha praptaning tundan dhedhemit/Nggegila myang nglelara//

 

Dha weweka jaman tundhan dhemit/Haywa angedirna ngelmunira/Nedya anglawan dhemite/Sira yekti ginuyu/Dening pra dhemit putu mami/Haywa hanantang yuda/Ananjakna ngelmu/Myang srana marupa – rupa/Kabeh iku tan pasah in awak dhemit/Mbalik anyabet sira/

Jenang sela wader kaln sesonderan – apuranta ten wonten lepat kawula//SAMPURNA

Yayasan Lembaga Budaya Nusantara

Jaya Rahayu Widada Mulya.

Dear ALL yang kami hormati, salam dan doa kami di atas semoga dapat terjiwai oleh kita semua. Nah artikel ini dengan suka cita untuk menjawab pertanyaan dari sahabatku yang sebenarnya bundelan ilmu dan pengetahuan luar biasa.

HAL : PEMINDAHAN KEKUASAAN DALAM TEKS PROKLAMASI

Diskusi ini menarik dan memperkaya referensi apa lagi berpijak pada moral – spiritual. Diskusi dengan judul di atas baru marak & hangat – hangatnya di RT sebelah, nah siapa tahu di milis ini ADA UANG DENGAR ? hahahahahahah!

Tentang teks PROKLAMASI bisa kita bayangkan betapa alot dan menguras energi para pejuang kemerdekaan saat itu, golongan muda revolusioner sehingga baru jam 0400  17 Agustus 1945 itu selesai, yang juga dijiwai oleh saudara2 kita semua, satu pertanyaan dari Bung Mantje saja sudah menohok akal pikir kita semua.

Kami teringat atas diskusi saya dengan RM. Sawito Kartowibowo yang menurutnya BUNG KARNO baru menerima sebuah pertanyaan yang mirip apa yang Bung Mantje tanyakan sebagaimana judu diatas oleh anak angkatnya RM. Sawito..

Pemindahan kekuasaan, di situ maksudnya bukan suatu timbang terima/serah terima! Pemindahan kekuasaan di situ kaitannya adalah DENGAN JIWA/SEMANGAT (di saat hari Proklamasi masih menjadi konsep) rumusan konstitusi Negara PROKLAMASI, seperti yang kemudian sah tercantum dalam PREAMBULE UUD1945 yang bebunyi :

“BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA & OLEH SEBAB ITU, MAKA PENJAJAHAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN, KARENA TIDAK SESUAI DENGAN PERI KEMANUSIAAN & PERI KEADIAN”.

Dan yang kemudian dipertegas dengan pasal 29 ayat 1 : “NEGARA BERDASARKAN ATAS KETUHANAN YAN MAHA ESA”.

Jadi PEMINDAHAN KEKUASAAN TSB. DAPAT DITERJEMAHKAN SEBAGAI KEHADIRAN KEKUASAAN TUHAN ALLAH SWT BAGI BANGSA INDONESIA! Nah begitulah jiwa dari istilah PEMINDAHAN yang disebut dalam naskah PROKLAMASI, sebab BANGSA itu sendiri pengertiaannya adalah SATU JIWA!

Tegasnya, pemindahan kekuasaan tsb. TIDAK PERLU PERSETUJUAN ATAU IJIN DARI SIAPAPUN, KARENA KEMERDEKAAN ITU ADALAH HAK BANGSA KITA SENDIRI!

Demikianlah kiranya untuk dipahami dan tidak perlu dipertentangkannya lagi. Dan kesalahan sistem pendidikan bangsa ini, hal – hal yang esensial dan fundamental justru tidak diajarkan lagi khususnya PANCASILA! Dan yang terpenting adalah bagaimana anugerah TUHAN yang tak terhitung itu dapat diberdayakannya untuk sebanayk banyakknya kepentingan RAKYAT. Nasionalisasi FREEPORT JC.MORGAN dan berbagai perusahaan transnasional lainnya yang oleh Pak Harto diberinya KADO GRATIS seiring keberhasilan atas PERANG DINGIN oleh AS dan Pak Harto dengan mudah menggantikan Bung Karno yang berketetapan hati untuk melenyapkan “EXPLOITATION DE L’HOMME PAR L’HOMME & EXPLOITATION DE NATION PAR NATION” sehingga Negara NEKOLIM tidak akan dapat leluasa menjarah bangsa2 lain.

Ironisnya justru oleh Pak Harto dinafikannya dan diganti dengan NEO LIBERALISME yang melanggar PANCASILA & UUD 1945. Pada 1967 Free Port diberinta tanah 1,2 juta hektar. Dan pada 1971 dibuat kesepakatan untuk membagi – bagi tambang minyak bumi & mineral di Nusantara ini kepada perushaan asing seperti Calex; Frontier; Hapco; Sibclair & Gulf Western. Dan UU PMA yang lebih liberal dibanding AS sendiri. Dan huebatnya lagi terungkap  hingga kini setidaknya telah terjadi 78 UU yang bikin adalah ahli (kepentingan) Asing! Kita jadi nudis tak ada kedaulatan sama sekali! Qouvadis!

NASIOALISASI PERUSAHAAN TRANSNASIONAL, ADALAH MUTLAK BUKANKAH BOLEVIA & VENEZUELA TELAH SUKSES MELAKUKANNYA DAN AS TD BISA BERKUTIK ? MENGAPA KITA YG PUNYA UUD 1945 DAN MOTTO “INDONESIA BISA” bisanya cuman jadi JONGOS ? Maka VACUM OF LEADERSHIP hendaknya segera diisi karena yang ada baRu sebatas PENGUASA!

Nah secara spiritual akan makin benderang dengan banyaknya ayat2 TUHAN selama Ramadhan dan Syawal ini! Mengapa Bus MERDEKA (Tasik – Jakarta) TERBAKAR ? Mengapa SUMBER KENCANA tabrakan di Majakerta ? Yang masih direconfirm dengan tabrakannya bus SUMBER ALAM di JATI BARANG ?.Bukankah itu adalah sebuah PERINGATAN ALAM DENGAN BAHASANYA SENDIRI ?. Yang akan kami sajikan Lanjutannya “SUDAH MERDEKAKAH BANGSA INI ?.//salam dan doa kami//SAMPURNA

SALAM BUDAYA!

Jaya! Rahayu widada mulya semoga dianugerahkan kepada kita sekalian dan bangsa ini.

Tak habis – habisnya bangsa ini dipertontonkan oleh alam segala kejadian yang semakin menguras air mata.

Oleh karnanya kami terinspirasi untuk menandai adanya ‘MINGGU  & SENIN KELABU di minggu IV bulan September ini, yakni :

 

Minggu (25 September 2011) :

(1)   Terjadi bom bunuh diri di Solo di Gerejal Pepunton ,  seusai kebaktian jam 1045 WIB, terdapat 1 orang tewas (pelaku bom bunuh diri), 14 luka – luka berat dan ringan. Pelaku tororisme sudah semakin kehilangan militansi karena sasarannya tak lagi memilih – milih sasaran baik masjid maupun gereja semua sama. Yang mereka iinginkan adalah disorder – kekacauan di segala bidang. Sungguh naïf pemuda ganteng bernama Pino Darmayanto yang namanya diganti menjadi Ahmad Urip alias Ahmad Yosepa, Hayat dan atau Raharjo sebagai martir yang mati sia – sia atas nama ego dogma kebenaran.

(2)   Gedung kantor bupati dan gedung DPRD di Buton Utara pada 25/09/11 menjadi abu menyusul sebelumnya terjadi amuk massa dengan membakar mobil Pemda dll. gara – gara tuntutan warga untuk segera pindah ke ibokota kabupaten yang baru yang sama sekali sarana & prasarananya belumlah siap sama sekali.

(3)   Dunia wahana Atlantis di Ancol roboh,  untungnya tidak menewaskan pengunjungnya.

(4)   Bom juga ditemukan di Ambon, bahkan menurut laporan Ketua MUI,K.H. Cholil Ridwan (27/09)  peristiwa Ambon telah menyebabkan : 198 rumah rusak; 5 orang tewas; 43 luka korban tembak & 62 luka berat. Yang membuatnya mereka heran Pak Beye dinilai justru betapa perhatiannya terhadap kasus Solo ketimbang di Ambon.

 

Lanjut Baca »

Jaya rahayu widada mulya.

 

Para kadang sutrena ingkang dahat kinormatan.

 

 

Sekedar sharing, terdapat ramalan yang nyala wadi yang mungkin masih belum banyak diketahui masyarakat bahwa hasil manekung bersama antara PB IX, MN IV & Ki Ronggo, hasilnya sama dan dijabarkan dalam kidung. Ramalan ini kami masukkan dalam draf buku ‘MENGUAK MISTERI SURO 1945 SJ (AJ) & RAMALAN KIAMAT 21 DESEMBER 2012 OLEH SUKU MAYA”. Mohon masukkan dan tanggapan atas sajian di bawah agar dapat melengkapi draf buku tsb. sembah nuwun//

 

3. HASIL KOLABRASI ANTARA RNG. RONGGO WARSITO DENGAN PAKU BUWONO IX & KGPAA. MANGKUNEGARA IV.

 

Sungguh mengagumkan hasil manekung – tarak brata – samadi – meditasi – contemplasi tiga priyagung penerus dinasti Mataram itu telah mendapatkan sasmita – wangsit dari Sang Hyang Widhi Wasa yang selanjutnya oleh Sang Pujangga dipilih dan dipilah antara suara langit yang akan berlaku bagi penerus trah darah biru dinasti Mataram sekalipun tidak menggembirakan tetap mereka wasiatkan tanpa ada sedikitpun menutupi sasmita yang dianugerahkan – NYA itu. Berbagai sasmita khusus trah darah biru itu dihimpun di dalam kitab “WEDA NATA PININGIT”, sementara untuk umum atau kawula Nusantara dihimpun di dalam kitab “WEDA TAMA PININGIT”, sebagaimana dipaparkan oleh Ki  Sarjono Darmosarkoro dalam bukunya “Pengetan Polokrami 50 Tahun KRT. Sarjono Darmosarkoro Kalian R. Ayu Soerastri” (1993). Perlu dipahami bahwa Mangkunegoro IV (1853 – 1877M) yang multi talenta itu yang aslinya sebagai seorang prajurit, Mayor dari Legium Mangkunegaran yang selanjutnya menjadi Patih Kadipaten Mangkunegaran. Beliau bukanlah putra mahkota melainkan hanyalah seorang “Anak Angkat dan sekaligus sang menantu dari Sri Paduka Mangkunegoro III”. Sejak kecil kepunjanggaannya telah menonjol dan beliau mewariskan karya antara lain kitab “Weda Tama”.

 

1.SERAT WEDA NATA PININGIT.

 

Kitab ini terdiri dari 28 pada, yang perlu dicermati  utamanya ada 5 (lima) pada (bait) pupuhnya  Pangkur yakni :

 

a.       (pada No. 1)  : Sekar Pangkur paripurna/Amedaraken Weda Nata

kapingit/Mirid jangkaning pra jamhur/Ing jaman Jayabaya/Iku mbenjang kang jumeneng madeg ratu/Misih putra ping sadasa//Nggih maksih sinengker Widdhi// (Sekar Pangkur paripurna/Menjelaskan Weda Nata Kapingit/Mirid jangkanya orang luhur/Di jaman Jayabaya/Itu nanti yang jumeneng menjadi ratu/Masih putra PB X/Ya, orangnya masih dirahasiakan oleh Yang Widdhi//

 

b.      (pada No. 10) : Pajo padha titenena/Mbok menawa anak putu menangi/Nata Ping Sanga ngedaton/Kondur jeng Mangkunagara/ Radyan Rangga Warsita nderek tut pungkur/Mring dalem Mangkunegaran/Kaping Pat gya siniwi// (Mari silahkan ditandai/Barang kali anak cucu mengalaminya/Ratu PB IX ke kraton/Pulanglah Mangkunegara/ Rangga Warsita mengikutinya di belakang/Ke kadipaten Mangku negara/ Yang segera lenggah dampar//.

 

c.       (pada No. 11) : Nutuken wirajatira/Lawan dyan Rangga Warsita Ngabei/Priye dadine ing besuk/Matur dyan Rangga Warsita/Hapan sampun pepesthenira Hyang Agung/Risak ing Surakarta/Karaton mbenjang angalih// (Melanjutkan tawasulnya/Bersama RNg. Rangga Warsita/Bagaimana jadinya kelak/Rangga Warsita menjawab/Ya karena itu telah menjadi ketentuan TUHAN/Rusaklah kraton Surakarta/Kraton kelaknya akan pindah//

 

d.      (pada No. 12) : Kacitra wetan Bengawan/Pan ing Wana Ketangga dunung neki/Mangsuli wirajat wau/Badhe pecahing harga/Mangka tirta amili amor lan hendut/Jogya kratone hilang/Tuwin Kedu risak sami// ( Diceriterakan sebelah timur Bengawan/ Di Alas Ketonggo tempatnya/ Kembali ke hasil tawasul tadi/Akan meletusnya gunung berapi/Sedangkan air beserta lumpur/Jogya kratonnya hilang/Dan daerah Kedu rusak semua//

 

e.       (pada No. 13) : Sajung pajege  satangan/Tanpa ubarampe myang bribit – bribit/Sirna ingkang raja pundut/Tuwin para luhur Jawa/Misah nggone sahadarum lan gupernur/Kabeh ingkang bangsa sabrang/Samya mulih sirna gusis// (Se – perahu pajaknya satangan/Tanpa sarana yang mewadahi/Hilang yang Sang Raja minta/Juga para leluhur Jawa/Memisahkan hubungan dengan gubernur Belanda/Semua bangsa asing/Semua pulang ke negerinya hingga bersih//

 

2.SERAT WEDA TAMA PININGIT (10 BAIT), PUPUH SINOM

 

a.       (pada No. 1) : Sinome hatur uninga/Weda Tama kang Piningit/Kang gumanti nata wreda/Maksih sinengker ing Widhi/Hiku raharu benjing/Kang sumela dadi ratu/Turune Ping Sedasa/Nutuken wibawa mukti/Kang sung sabda Jeng Gusti Kaping Sekawan//(Sinomnya memberi tahukan/Itu besuk terjadi huru hara/Yang menyela menjadi ratu/Masih turunnya PB X/Meneruskan kewibawaan/Yang menyabdakan Mangkunegara IV).

 

b.       (pada No. 4) : Yogya kratone hilang/Pecahing hardi Merapi/Tirta hendut Sala lan Yogya/Pisah tanpa nunggil siti/Pecah harga dadi/Kali tanggung hanyongipun/Samudera kang ler wetan/Kang ler raja risak sami/Hing Madura gathuk lan Surabaya// (Jogya kratonnya hilang/Pecahnya Gunung Mrapi/Air lumpur di Sala & Jogya/Pisah tanpa menyatu lagi/Meletusnya gunung mengakibatkan/Sungai tanggung adanya/Samudera yang di timur laut/Di utara kraton Sala – Jogya rusak semuanya/Di Madura akan menyatu dengan Surabaya (kini sedang akan menjadi kenyataan dengan adanya jembtan Suromadu)//

 

c.       (pada no. 10) : Leres tuturira pun Tuan/Benjing kalamun marengi/Badhe  pecah ingkang harga/Lindu rambanh kaping katri/Punika pancen yekti/Kapara dados susungut/Kantun pitu ri dina/Pitulas dina  marengi/Pitulikur pungkasaning sungapan// {Benar ucapan tuan/Besuk bila terjadi/Akan meletusnya Gunung Mrapi/Terjadi gempa sehari tiga kali/Itu memang benar/Bahkan menjadi pertanda/ Hanya pada 7 hari saja (Desember 1942 yakni dimulainya Perang Dunia II)/17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan R. I/Dan pada 27 (Maret 1968) akhir Pemerintahan Bung Karno}.

 

Nyumanggaaken batur pemulung kewala//SAMPURNA

 

Jaya! Rahayu widada mulya.

 

Para kadang yang kami muliakan, dalam menapaki bulan suci Ramadhan ini semoga sajian di bawah ini dapat mendorong rasa sykur kita atas anugerah TUHAN SERU SEKALIAN ALAM yang telah dilimpahkan – NYA pada bangsa dan Negara ini.

 

Kami dibuat terbelalak & nyaris tidak percaya pada decade 80 kadang sepuh kami  Ki Dieng Marwah (Marwoto Sudebyo, seorang pejuang dari Divisi 10) yang sangat idialis sehingga mengharamkan dirinya untuk menerima pensiun bila Pak Harto masih berkuasa. Bahkan sebelum Pak Harto lengser, Ki Dieng mengadakan ritual di Gua Istana Alas Purwa dengan menggugat – NYA, manakala dirinya masih dikehendaki – NYA, satu permohonan agar Pak Harto segera lengser bila tidak agar nyawanya segera dicabut – NYA saja!.

 

Kemudian digelarlah ruwatan Suro hari Selasa Kliwon, 8 Suro 1931 yang bertepatan dengan tanggal 5 Mei 1998 dengan  menggelar wayangan dengan lakon “KRESNO MAGURU”, yang ternyata hanya berselang 16 hari, Pah Harto lengser keprabon pada 21 Mei 1998. Dan lakon wayang : Kresno sebagai titisan Wisnu pun ternyata harus (masih) berguru pada Ki Lurah Semar. Maknanya  bisa jadi seorang Presiden/Pemimpin harus mendengarkan & melaksanakan suara rakyat karena ada semboyan “Fox populi – Fox Dei”, Suara rakyat adalah Suara TUHAN.  Dia selalu   menyatakan bahwa “Indonesia” berasal dari bahasa Sipoh yakni  “indung sia” yang diartikan “induk dari segala suku bangsa di dunia”. Masih ditambahkan olehnya bahwa :”Manusia di dunia ini belum disbut JAWA bila mereka belum mencium Persada Bumi Pertiwi ini!  Kemangrwaan (kemenduaan) kami ternyata  kemudian secara ilmiah  terpatahkan karena mendapatkan dukungan dari hepotesis  Prof. A. Santos  dan teori Oppenheimer.

 

Bangsa ini sungguh beruntung sehingga hendaknya senantiasa  beryukur karena berdasarkan penelitian para ahli terutama oleh Prof.  Aryoso  Santos yang memakan waktu puluhan tahun lamanya telah menyimpulkan bahwa Benua Atlantis yang legendaris yang hilang itu telah diketemukannya kembali, yang tak lain adalah “Nusantara” ini.

Tak dapat dinafikan, bahwa begitu banyak bukti – bukti yang menguatkan hepotesis Prof. Santos baik secara geografis, geo politis, volcanologis, sosiologis dan sebagainya. Tak ketinggalan temuan Prof. Stephen Oppenheimer ilmuwan yang kesohor di bidang genitika & struktur DNA dari Oxford University, London menyatakan bahwa “Nenek moyang dari induk peradaban manusia modern (Mesir, Mediterania & Mesopotamia) adalah berasal dari Tanah Melayu yang sering disebut dengan Sunda Land (Indonesia)” (Kompas.Com, 27 Oktober 2010).

Sumber lain menyatakan bahwa kebudayaan dan atau kerajaan Sunda Nusantara telah ada sejak 86 juta tahun yang lalu yang bisa ditelisik adanya pembedaan dengan adanya Sunda Besar & Sunda Kecil. Hal tersebut, tentulah tak terbantahkan bahwa manusia purba dan binatang purba jejak & fosilnya masih ditemukan di negeri ini termasuk keberadaan  binatang komodo adalah sebuah fakta.

 

Tak ketinggalan  Profesor Susein Nainar dari Madras University yang 2 tahun mengadakan penyelidikan  di Indonesia, menyatakan bahwa : “ Ia percaya bila orang – orang Belanda dan lain – lain  ahli sejarah bangsa Barat telah membuat kesimpulan yang salah  tentang asal – usul kultur dan peradaban bangsa Indonesia. Ia menyatakan , bahwa pada 1.000 tahun  sebelum  Isa, daerah  – daerah sepanjang Lautan Hindia termasuk India Selatan, Indonesia, Madagaskar dan daerah sekelilingnya sudah mempunyai kultur dan peradaban yang sangat maju” (Manusia & Masyarakat Baru Indonesia, Soepardo SH. Cs, PN. Balai Pustaka, 1963 hal. 113 ). Prof. Sengkot Marzuki pun menyarankan adanya revitalisasi sejarah asal – usul nenek moyang karena dia memiliki keyakinan yang sama dengan Prof. Stephen Oppenheimer tsb.

 

Bahkan di Nusantara menurut Foundengs Fathers (Bung Karno – Bung Hatta, Sultah HB IX dll.) menyatakan bahwa  terdapat cern, intis sel atau nucleus yakni suatu medan magnit yang dinamakan “BUMI MENTAOK”, bukan Alas Mentaok nama perdikan yang dihadiahkan oleh Sultan Hadi Wijoyo (Joko Tingkir) ke pada K.A. Pemanahan dan Danang Suto Wijoyo yang kemudian bergelar Panembahan Senopati paska terbunuhnya sang rival “ARYA PENANGSANG”, yang diasuh oleh Sunan Kudus.

Kawasan itu  membentang dari Timur Sangkal Putung, Blitar dan ke barat Cilacap utara sebelah selatan gunung di selatan pesisir Jawa dan batas selatan adalah Lautan Indonesia. Sebagai kern maka bila daerah itu sakit/rusak maka sakit/rusaklah Nusantara ini. Maka para penghuni kern, medan magnit yang telah melupakan leluhur dan warisan serta ajarannya sehingga terjadilah “DECULTURISASI”, sikap kepribadian yang lembah manah – suka menolong – adaptif dan menjunjung tinggi manifesto Bhinneka Tunggal Ika telah ditanggalkannya yang digantikan dengan dogma agama dan claim kebenaran.

Untuk memasuki alur ceritera di bawah ini ada baiknya kita ungkapkan antara lain :

  1. Tata Letak Geografis NKRI = Proklamasi Kemerdekaan NKRI Terletak pada 96 derajat Bujur Timur  hingga 141 derajat Bujur Timur. Dan pada 6 derajat Lintang Utara hingga 11 derajat Lintang Selatan.  Secara numerologis dapat dikaji  sebagai berikut :
  • 141 – 96                      =  45
  • 45                                  = seperdelapan keliling bumi = 8
  • 6 + 11                          = 17, maka telah menunjukkan angka 17.8.45 hari Proklamasi.
  1. Kalau kita mengambil format 15 X 45 tersebut di atas, maka dari ke empat titik sudut format itu cobalah ditarik dua garis diagonal. Apa yang akan didapatkan ? Tiada lain adalah sebuah titik potong di tengah laut Selat Makasar (dengan koordinat bujur yang sangat mengharukan yakni :

          117.8450 BT . Kembali lagi ke angka Proklamasi.

  1. Borobudur, salah satu monumen keajaiban dunia, didirikan pada lokasi terpilih Mahagelang (Magelang). Tentunya tahu bahwa Borobudur – Pawon dan Mendut diciptakan terletak pada satu garis lurus. Nah silahkan diperpanjang saja garis ini terus lurus dan ia akan menuju titik pusat Ibu Pertiwi tadi 117.8450 BT. Dan kepanjangan dari garis ini akan membentuk 340 (alias 2 X 170) dengan garis Katulistiwa atau garis Bhumi Mahagelang itu.

4.   Krakatau adalah sebuah titik di persada Nusantara ini, yang senantiasa dapat dipakai

sebagai titik indicator suasana masa alam akibat pengaruh sikap adigang adigung adiguna manusia yang keluar dari jalurnya. Maka kini hubungkanlah Borobudur dengan Krakatau ini. Perpanjang saja garis hubung ini, potongkan dengan Katulistiwa. Apa yang terjadi kembali lagi sudut 170. Perpanjang pula garis hubung titik Pusat IP dengan Krakatau. Maka perpanjangan ini akan menuju ke Madagaskar yang merupakan wilayah Nusantara dahulu kala”, sebagaimana disampaikan kadang kami (Alm). Ir. Pradiko, Alm. maunpun oleh Prof. M. Yamin.

Nah bukankah itu merupakan anugerah bagi bangsa & Negara ini ?.

 

Adapun Borobudur yang pernah diklaim oleh seseorang bahwa itu merupakan peninggalan Islam & kini beredar sinyalemen lain bahwa Borobudur itu merupakan peninggalan Nabi SULAIMAN yang justru lebih purba dari claim tsb. Hal ini mungkin ada benang merah yang merupakan tantangan bagi para arkeolog dan sejarawan guna membuktikan secara saintific atas anggapan tersebut.

 

1.      Kerajaan Mataram Kuna (rajanya Sanjaya – Pancapana dst.) yang bercorak Hindu kala itu di bawah kekuasaan Sriwijaya rajanya Bala Puteradewa – Syailendra yang bercorak Budha. Candi Borobudur berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra.  Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.

 

2.      Mataram kuno, kemudian direlokasi oleh Mpu Senduk ke Jawa Timur ada dengan mendirikan kerajaan Medang Kamulan (sementara ada yang berpendapat bahwa kerajaan ini telah ada 50 tahun SM dengan rajanya Sri Mahapunggung I (kakeknya Aji Saka atau Mpu Sancaya) atau Kahuripan. Kemudian oleh cucunya Airlangga barulah Sriwijaya bisa ditaklukkannya.

 

3.      Sebagai bahan telaah apakah nama Kabupaten di DIJ yakni “SLEMAN” ada kaitannya dengan nabi Sulaiman yang diributkan ini ?.

 

4.      Nah bila bila candi Borobudur adalah sbagai pusat peribadatan umat Buddha maka Candi Prambanan (Roro Jonggrang) sebagai pusat peribadatan pemeluk agama Hindu.

 

5.      Apakah pembuatan Sambara Bhudhara oleh wangsa Syailendra, mereka hanya menyempurnakan saja ? Tapi bila  demikian halnya mengapa renovasinya memakan waktu demikian lama ?.

 

6.      Tentang Candi Rara Jonggrang yang konon dibangun oleh Bandung Bandawasa apakah dia identik dengan Nabi Sulaiman ? Dan Roro Jonggrang identik dengan Ratu Saba ?

 

7.      Candi Boko dengan Candi Rara Jonggrang (Prambanan) yang hanya berjarak k.l. 4 kilo meter banyak misteri yang seyogyanya disingkap. Kalau Kraton Boko adalah bermukimnya Ratu Saba, kemudian Prambanan yang terdapat candi Jonggarng juga candi Seribu dll. Berfungsi sebagai apa ?.

 

8.      Apakah ada hubungannya dengan petilasan/makam Ratu Bilqis yang berada di pantai Laut Selatan?

 

9.      Banyak  bekas kraton – kraton di Nusantara ini yang bekasnya pun tidak terlacak. Bisa jadi sengaja ditutup dengan ilmu Panglimunan ? seperti “Jala Sutera” sehingga tidak terlihat oleh mata telanjang dan  mata umum ?. Karena banyak pihak dengan mata batinnya masih bisa melihat Kerajaan Pajajaran juga  kerajaan nan gemerlap dan megah di  Alas Ketangga ?.

 

10.  Hubungan pembesar Jawa dengan Arab Saudi/Timur Tengah yang masih mudah dilacak adalah raja Mataram (Islam) ke tiga yakni Sultan Agung yang atas jasa – jasanya terhadap Saudi beliau diberinya gelar “SULTAN ABDULLAH MUHAMMAD MAULANA ALMATARAMI”, pada tahun 1640, 7 tahun paska diciptanya Tarikh Saka Jawa pada 8 Juli 1633 (1 Suro 1555).

 

Nah untuk menghubungkan pendapat Fahmi Basya atas penyelidikannya tentang BOROBUDUR inilah postingan dari kadang Sesca.  

 

QUOTE

BENERKAH CANDI BOROBUDUR PENINGGALAN NABI SULAIMAN” ?.

 

Membaca judul diatas, tentu banyak orang yang akan mengernyitkan dahi, sebagai tanda ketidakpercayaannya. Bahkan, mungkin demikian pula dengan Anda. Sebab, Nabi Sulaiman AS adalah seorang utusan Allah yang diberikan keistimewaan dengan kemampuannya menaklukkan seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk angin yang tunduk di bawah kekuasaannya atas izin Allah. Bahkan, burung dan jin selalu mematuhi perintah Sulaiman. Silahkan baca artikel di bawah ini yang kami himpun dari republika.co.id untuk lebih lengkapnya.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada abad ke-9 Sebelum Masehi (989-931 SM), atau sekitar 3.000 tahun yang lalu. Sementara itu, Candi Borobudur sebagaimana tertulis dalam berbagai buku sejarah nasional, didirikan oleh Dinasti Syailendra pada akhir abad ke-8 Masehi atau sekitar 1.200 tahun yang lalu. Karena itu, wajarlah bila banyak orang yang mungkin tertawa kecut, geli, dan geleng-geleng kepala bila disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan oleh Nabi Sulaiman AS.

 

Candi Borobudur merupakan candi Budha. Berdekatan dengan Candi Borobudur adalah Candi Pawon dan Candi Mendut. Beberapa kilometer  dari Candi Borobudur, terdapat Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Plaosan, dan lainnya. Candi-candi di dekat Prambanan ini merupakan candi Buddha yang didirikan sekitar tahun 772 dan 778 Masehi.

 

Lalu, apa hubungannya dengan Sulaiman? Benarkah Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang hebat dan agung itu? Apa bukti-buktinya? Benarkah ada jejak-jejak Islam di candi Buddha terbesar itu? Tentu perlu penelitian yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak untuk membuktikan validitas dan kebenarannya.

Namun, bila pertanyaan di atas diajukan kepada KH Fahmi Basya, ahli matematika Islam itu akan menjawabnya; benar. Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang ada di tanah Jawa.

Dalam bukunya, Matematika Islam 3 (Republika, 2009), KH Fahmi Basya menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut. Di antaranya, hutan atau negeri Saba, makna Saba, nama Sulaiman, buah maja yang pahit, dipindahkannya istana Ratu Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lainnya.

Dalam Alquran, kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba disebutkan dalam surah An-Naml [27]: 15-44, Saba [34]: 12-16, al-Anbiya [21]: 78-81, dan lainnya.

 

Tentu saja, banyak yang tidak percaya bila Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman.

Di antara alasannya, karena Sulaiman hidup pada abad ke-10 SM, sedangkan Borobudur dibangun pada abad ke-8 Masehi. Kemudian, menurut banyak pihak, peristiwa dan kisah Sulaiman itu terjadi di wilayah Palestina, dan Saba di Yaman Selatan, sedangkan Borobudur di Indonesia.

Tentu saja hal ini menimbulkan penasaran. Apalagi, KH Fahmi Basya menunjukkan bukti-buktinya berdasarkan keterangan Alquran. Lalu, apa bukti sahih andai Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman atau bangunan yang pembuatannya merupakan perintah Sulaiman?

Menurut Fahmi Basya, dan seperti yang penulis lihat melalui relief-relief yang ada, memang terdapat beberapa simbol, yang mengesankan dan identik dengan kisah Sulaiman dan Ratu Saba, sebagaimana keterangan Alquran.

 

Pertama adalah tentang tabut, yaitu sebuah kotak atau peti yang berisi warisan Nabi Daud AS kepada Sulaiman. Konon, di dalamnya terdapat kitab Zabur, Taurat, dan Tongkat Musa, serta memberikan ketenangan. Pada relief yang terdapat di Borobudur, tampak peti atau tabut itu dijaga oleh seseorang.

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman’.” (QS Al-Baqarah [2]: 248).

 

Kedua, pekerjaan jin yang tidak selesai ketika mengetahui Sulaiman telah wafat. (QS Saba [34]: 14). Saat mengetahui Sulaiman wafat, para jin pun menghentikan pekerjaannya. Di Borobudur, terdapat patung yang belum tuntas diselesaikan. Patung itu disebut dengan Unfinished Solomon.

 

Ketiga, para jin diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung. (QS Saba [34]: 13). Seperti diketahui, banyak patung Buddha yang ada di Borobudur. Sedangkan gedung atau bangunan yang tinggi itu adalah Candi Prambanan.

 

Keempat, Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan. (QS An-Naml [27]: 20-22). Reliefnya juga ada. Bahkan, sejumlah frame relief Borobudur bermotifkan bunga dan burung. Terdapat pula sejumlah relief hewan lain, seperti gajah, kuda, babi, anjing, monyet, dan lainnya.

 

Kelima, kisah Ratu Saba dan rakyatnya yang menyembah matahari dan bersujud kepada sesama manusia. (QS An-Naml [27]: 22). Menurut Fahmi Basya, Saba artinya berkumpul atau tempat berkumpul. Ungkapan burung Hud-hud tentang Saba, karena burung tidak mengetahui nama daerah itu. “Jangankan burung, manusia saja ketika berada di atas pesawat, tidak akan tahu nama sebuah kota atau negeri,” katanya menjelaskan. Ditambahkan Fahmi Basya, tempat berkumpulnya manusia itu adalah di Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 36 kilometer dari Borobudur (sebenarnya nyaris 2 x lipat jaraknya, red). Jarak ini juga memungkinkan burung menempuh perjalanan dalam sekali terbang.

 

Keenam, Saba ada di Indonesia, yakni Wonosobo. Dalam Alquran, wilayah Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. (QS Saba [34]: 15). Dalam kamus bahasa Jawi Kuno, yang disusun oleh Dr Maharsi, kata ‘Wana’ bermakna hutan. Jadi, menurut Fahmi, wana saba atau Wonosobo adalah hutan Saba.

 

Ketujuh, buah ‘maja’ yang pahit. Ketika banjir besar (Sail al-Arim) menimpa wilayah Saba, pepohonan yang ada di sekitarnya menjadi pahit sebagai azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.  “Tetapi, mereka berpaling maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar [1236] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl & sedikit dari pohon Sidr.” (QS Saba [34]: 16).

Kedelapan, nama Sulaiman menunjukkan sebagai nama orang Jawa. Awalan kata ‘su’ merupakan nama-nama Jawa. Dan, Sulaiman adalah satu-satunya nabi dan rasul yang 25 orang , yang namanya berawalan ‘Su’.

 

Kesembilan, Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Saba melalui burung Hud-hud. “Pergilah kamu dengan membawa suratku ini.” (QS An-Naml [27]: 28).  Menurut Fahmi, surat itu ditulis di atas pelat emas sebagai bentuk kekayaan Nabi Sulaiman. Ditambahkannya, surat itu ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko.

 

Kesepuluh, bangunan yang tinggal sedikit (Sidrin qalil). Lihat surah Saba [34] 16). Bangunan yang tinggal sedikit itu adalah wilayah Candi Ratu Boko. Dan di sana terdapat sejumlah stupa yang tinggal sedikit. “Ini membuktikan bahwa Istana Ratu Boko adalah istana Ratu Saba yang dipindahkan atas perintah Sulaiman,” kata Fahmi menegaskan.

 

Selain bukti-bukti di atas, kata Fahmi, masih banyak lagi bukti lainnya yang menunjukkan bahwa kisah Ratu Saba dan Sulaiman terjadi di Indonesia. Seperti terjadinya angin Muson yang bertiup dari Asia dan Australia (QS Saba [34]: 12), kisah istana yang hilang atau dipindahkan, dialog Ratu Bilqis dengan para pembesarnya ketika menerima surat Sulaiman (QS An-Naml [27]: 32), nama Kabupaten Sleman, Kecamatan Salaman, Desa Salam, dan lainnya. Dengan bukti-bukti di atas, Fahmi Basya meyakini bahwa Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman. Bagaimana dengan pembaca? Hanya Allah yang mengetahuinya. Wallahu A’lam.

UNQUOTE

 

Sumangga kami kembalikan pada kearifan panjengan sami dan bila terdapat perbedaan asumsi janganlah  sampai menimbulkan meruncingnya “Dharma eva hota – hanti”, kuat karena bersatu – bersatu karena kuat”! //SAMPURNA

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.